rumah bebas asap rokok

Saat pagi menejelang, kehangatan matahari terbit mulai menyapa, dan setiap orang mulai menantikan hari ini. Hari ini, Minggu 16 September 2012 adalah suatu hari yang penuh arti baik bagi mereka warga Kemloko maupun bagi kami, yaitu hari deklarasi. Apakah itu Deklarasi? Apakah pernyataan kebebasan dan kemerdakaan seperti layaknya Proklamasi Kemerdekaan yang sangat dinanti-nanti dan menjadi puncak awal gerbang kemerdekaan Indonesia? Tentu saja bukan, karena Kemloko sendiri merupakan salah satu dukuh dari Desa Srimartani yang merupakan satu dari sekian ribu pedesaan di Indonesia, negeri tercinta ini. Deklarasi di dukuh Kemloko ini adalah suatu kegiatan untuk menyepekati perjanjian yang telah mereka buat dalam teks deklarasi dengan melantik kader-kader yang telah mereka pilih untuk membimbing mereka dan merupakan puncak awal perubahan mereka untuk menjadi dukuh yang lebih baik. Kami, para mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM khususnya dari BEM bagian Departemen Sosmas melakukan acara ini dengan tujuan meningkatkan kesehatan warga Indonesia, yang bisa dimulai dari hal sedrehana yaitu di dukuh kemloko ini.

Dan apakah yang telah mereka sepakati? Kemerdekaan? Lagi-lagi kemerdekaan dan jawabannya tentu saja bukan, tetapi unsur kemerdekaan itu tetap terasa dalam kesepakatan itu. Bukan merdeka sehingga menjadi dukuh yang bebas dari penjajahan, tetapi merdeka dalam artian tujuan utama deklarasi ini, yaitu menetapkan bahwa Dukuh Kemloko akan menjadikan perumahan di dukuh tersebut bebas tanpa asap rokok. Dimana hal ini tercantum dalam hal deklarasi untuk tidak merokok di dalam rumah, di perkumpulan warga dan di dekat ibu hamil dan anak-anak.

Dan kita pun kembali dalam suasana deklarasi, saat pagi menyapa dan para penduduk dukuh mulai duduk di sekitar tempat pendeklarasian, yaitu di lapangan depan TK Musyittoh 5. Acara pun dimulai dengan penyambutan dari pembawa acara, dan dimulailah jalan sehat. Jalan sehat ini dilakukan dengan mengelilingi dukuh Kemloko sendiri sembari para kader membawa spanduk bertuliskan “Rumah Bebas Asap Rokok” di barisan terdepan. Kemudian setelah sampai di tempat pendeklarasian kembali,  mereka mendapatkan snack dan menukar kupon untuk mendapatkan doorpize yang merupakan salah satu acara hiburan dalam deklarasi ini.

Acara ini pun berlanjut dengan sambutan-sambutan dari para tokoh masyarakat, dan dilanjutkan dengan acara pembagian doorprize dan hiburan rebana. Para warga sangat antusias dalam acara ini, bahkan saat kursi yang telah disediakan panitia tidak cukup dalam memenuhi kapasitas dikarenakan keterbatasan tempat, mereka rela menggelar tikar dan duduk di teras—teras perumahan disana. Antusiasme bertambah saat dorprize dibacakan. Satu persatu pemenang keberuntungan mulai maju ke depan, dan teriakan “yaahh” mulai bersahut-sahutan. Terutama saat doorprize utama yaitu seekor kambing dibacakan, dan teriakan “yaahh” pun sangat bergema dalam acara tersebut. Gelak tawa dan kegembiraan pan memenuhi acara tersebut saat kambing yang telah diberi pita cantik dibawakan dan mulia dibawakan dengan cara digendong. Kecewa karena undiannya tidak membawa keberuntungan tentu bisa digantikan denga keberanian, yaitu dalam acara kuis, dimana pertanyaan-pertanyaan diajukan dan setiap warga dengan malu maju ke depan. Pembawa acara pu menambah keceriaan dalam acara tersebut dengan menyuruh salah seorang warga menyanyi bersama dengan salah satu mahasismwa fakultas kami. Suara gurauan “ciee” pun yang saat ini ramai bergemuruh. Selain itu perasaan tenang dan dama juga terbawa dalam acara ini saat rebana mulai datang dan menghibur semua warga.

Acara puncak pun dimulai yaitu pembacaan teks deklarasi yang dibaca oleh seluruh warga Dukuh Kemloko. Kemudian penandatangan teks deklarasi tersebut yang ditandatangai oleh 4 ketua RT di Dukuh Kemloko, bapak kepala desa,bapak camat Desa Piyungan, Dinas Kesehatan dan juga Perwakilan dari Bupati Bantul. Dan dilanjutkan dengan pelantikan para kader, dimana para kader ini harus bisa melakukan upaya terbaiknya dalam melanjutkan tujuan kegiatan utama kami yaitu rumah bebas asap rokok. acara pun dismabut decak kekaguman saat pelepasan pita balon untuk menerbangkan tanda “Rumah Bebas Asap Rokok”. Balon tersebuta adalah simbol dari harapan para warga untuk bisa melaksanakan rumah bebas asap rokok tersebut, dan menerbangkannya dalam hembusan angin menerpa yang mana sekeras apapun hembusan angin, harapan tersebut akan terus ada di langit sana maupun di hati mereka.

Sembari acara deklarasi dilaksanakan di lapangan, acara pelayanan kesehatan gratis pun dilakukan di TK Masyittoh. Dengan menggunakan ruangan ke 3 yang berada di TK tersebut, dr. Yudha mulai memeriksa satu-persatu pasien yang berdatangan. Proses pelaksanaannya  berupa mengambil nomor antrian, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital berupa tekanan darah dan juga sebagai tambahan cek gula darah yang dilakukan diruangan ke 2 yang dibantu oleh kakak-kakak dari organisasi HIMAGIKA. Kemudian apabila warga merasa ada keluhan lain, maka bisa dilanjutkan dengan mengantri di depan ruangan dr. Yudha. Kegiatan ini disambut hangat oleh para warga khususnya para lansia yang mulai berdatangan dari awal pertama kegiatan ini dibuka. Dan apabila dr. Yudha meresepkan obat bisa langsung dirujuk ke mobil sehat, yaitu salah sati simbol kesehatang yang dimiliki FK UGM, yang mana nantinya peresepan akan dibantu oleh kakak-kakak dari organisasi TBMM.

Namun awal dari sebuah cerita tentu memiliki akhir,dan acara ini pun berkahir dengan penutupan doa sembari kegiatan pelayanan kesehatan tetap berjalan dan berakhir pada pukul 11.00. Acara penutupan ini dilanjutkan dengan makan bersama para tokoh masyarakat untuk menjalin hubungan kekerabatan yang lebih dalam antar sesama. Tokoh masyarakat itu antara lain adalah Ir. Wakhid, M. Ag selaku wakil dari bupati, bapak Amir Syarifudin dan Ibu Maslahah dari DPRD Bantul, bapak Ary Dewanto Ketua Inisiasi Kawasan Tanpa Rokok DPRD Bantul, bapak Pardi wakil dari kecamatan, H. Mulyana Kepala Desa Srimartani, dr. Erni kepala Puskesmas Piyungan, bapak Anang wakil Dinas Kesehatan, mbak Dian dan mbak Mita dari Humas FK UGM, mas Gusti dari Humas UGM, serta mas Yanto, ibu Endang, ibu Yusniar, dan mas Fajar dari QTI.

Namun tentu saja, walaupun acara berakhir, bukan berarti harapan dan tujuan utama acara deklarasi ini akan berakhir, dan justru ini merupakan puncak awal perjuangan mereka untuk melaksanan kesepakatan “Rumah Bebas Asap Rokok” tersebut. Semoga kegiatan ini bisa menjadi suatu pemicu bagi dukuh-dukuh maupun desa lain, bahkan orang-orang sekitar desa tersebut ataupun bahkan warga Indonesia untuk pedulu pada kesehatan Indonesia, khusunya dalam hal rokok yang merupakan masalah kesehatan yang memang patut menjadi perhatian kita semua.

by = aulia fitri rhamadiyanti

Iklan
Dipublikasi di Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM, Program Kerja | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Belajar dari Tawa Mereka

KEGIATAN SOSIAL #2

               Kegiatan sosial yang dilakukan oleh anak-anak Dept. SosMas BEM FK UGM yang kedua ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan selama satu tahun keperngurusan. Untuk kegiatan yang kedua ini, kami melakukan dua acara yaitu berjualan bunga dan berbagi cerita dengan anak jalanan. Bunga yang dijual dibeli sebanyak 35 batang dengan harga 70rb dari uang kas kami. Dengan harga 5000 rupiah masing-masing bunga kembali. Keuntungan sebanyak 3000 itulah yang nantinya digunakan untuk membeli makanan anak-anak jalanan yang akan kami temui siang harinya. Kami berjualan di sunmor dengan
sistem berjualan berpasangan. Ada 5 pasang dengan masing-masing membawa 6 tangkai
mawar. Sedangkan 5 tangkai sisanya kami bawa nanti untuk anak-anak jalanan. Saat berjualan itulah banyak sekali nilai-nilai sosial yang bisa diambil, seperti bagaimana menghadapi karakter orang yangberbeda-beda, bagaimana tetap tersenyum dan ramah saat orang menolak jualan kita, bagaimana menawarkan barang jualan kita, bagaimana menarik perhatian pembeli, bagaimana harus sabar menunggu dan terus mencari pembeli, bagaimana rasanya menggugurkan gengsi dan masih banyak lagi. Di momen-momen seperti itulah anak-anak sosmas belajar bagaimana menghargai jerih payah orang tua mencari
nafkah. Dan dengan singkat jualan pun habis. Satu lagi. Saling membantu teman adalah
kunci jualan bisa terjual habis.

Image

(sebelum berjualan bunga)

               Selanjutnya kami bergegas membeli nasi bungkus sejumlah 20 bungkus, mengambil baju bekas, membeli amplop untuk diisi uang lalu meuju perempatan Kentungan tempat kami janjian dengan anak-anak jalanan itu. Awalnya kami takut, berjabat tangan untuk sekedar berkenalan saja kami masih sedikit gemetaran. Namun, lama-lama kami terbiasa. Di depan sebuah toko yang sudah lama tidak dipakai kami duduk melingkar dengan anak-anak jalanan itu. Kami duduk secara acak agar bisa saling mengenal dan bercerita. Ada mba Sumi (Bawal), mba Dewi, mas Andri dan banyak lagi. Di awal kami
sempat kebingungan harus bercerita atau bertanya bagaimana dengan kata-kata yang tidak
menyinggung mereka. Dengan ya, kepolosan dan memang ketulusan hati teman-teman sosmas lain, kami berusaha menanyakan hal-hal yang sewajarnya tetapi memancing mereka untuk bercerita. Akhirnya beberapa dari mereka pun terbuka, bahkan ada yang hampir meneteskan air mata. Disaat semua orang berlomba-lomba mendapatkan jabatan, ada banyak sekali orang yang bahkan lebih memilih turun ke jalan bertahan hidup. Mereka juga bercerita bagaimana keluarga mereka tentunya dengan masalah yang dihadapi. Ada juga yang rela putus sekolah karena lagi-lagi masalah dengan keluarga. Ya, mereka adalah
orang-orang yang butuh kasih sayang lebih dari kita. Mungkin ada banyak orang dengan masalah yang sama seperti mereka, tetapi mereka tidak tahu bahwa jalanan bukanlah tempat pelampiasan yang seharusnya. Masih banyak tempat lain yang jauh lebih baik dari itu. Dan semua itu adalah tugas kita. Bisa dilihat dari mata mereka bagaimana bahagianya mendapat perhatian. Tak perlu dengan uang banyak dan fasilitas yang mahal, cukup dengan mendatangi mereka dan berbagi cerita, kami bisa melihat binar kebahagiaan di mata mereka. Sungguh memang seburuk-buruk penampilan tetaplah mereka seorang manusia yang punya hati. Mereka memberi kami pelajaran banyak tentang bagaimana mensyukuri
hidup. Mereka memberi pelajaran bagaimana saling memberi dan mengasihi sesama, terutama saat diantara mereka ada yang sakit. Mereka bisa menunjukkan senyum bahkan tertawa padahal di dalam hatinya ada sebongkah luka. Itulah mereka yang kami kagumi.

Benar kata orang banyak, kita bisa belajar dari manapun, tidak harus di dalam bangku
sekolah, dengan siapapun, tidak harus dengan orang tua berpakaian rapi serta dasinya,
bahkan dari mereka yang selama ini kita anggap sedikit menakutkan.

ONLY LIFE LIVED FOR OTHERS IS WORTH LIVING

-ALBERT EINSTEIN-

Image

Image

(berbagi kisah dan bernyanyi bersama mereka)

written by Sifa Aulia Wicaksari

edited by Riadiani Nindya Drupadi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pertama Jadilah Permata

Pada hari Sabtu tanggal 31 Maret 2012 kegiatan sosial Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM periode 2012 pertama dilakukan. Untuk kegiatan sosial yang pertama ini dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan 10.00. Anggota SOSMAS dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 2 sampai 3 orang yang kemudian melakukan kegiatan sosial di lingkungan sekitar Fakultas Kedokteran UGM. Sayangnya ada beberpa dari kami yang tidak dapat mengikuti kegiatan sosial ini karena bertabrakan dengan kegiatan organisasi lainnya. Sebelum memulai kegiatan sosial tersebut, SOSMAS berkumpul di Taman Medika FK UGM dan berangkat ke tempat kegiatan pada pukul 08.00 dengan kelompok masing-masing. Sebelumnya kami telah mempersiapkan pertanyaan mengenai kehidupan sehari-hari dan akan mencari nilai sosial dari pengalaman tersebut serta akan menanyakan  tentang kenaikan harga BBM yang saat itu sedang booming.

Ada beberapa profesi yang kami datangi untuk melakukan kegiatan sosial. Profesi tersebut adalah penarik becak, penjual jajan pasar, penjual koran, pembuat stempel, pemulung, dan penjaga makam.

Kelompok pertama diberi tugas untuk melakukan kegiatan sosial pada seorang penarik becak. Bapak penarik becak tersebut sangat ramah kepada kami. Beliau bercerita bahwa dirinya sudah bekerja sebagai penarik becak selama bertahun-tahun, bekerja sejak usianya 17 tahun dan sekarang sudah sekitar 55 tahun. Beliau bekerja untuk mengehidupi keluarganya dan membiayai pendidikan ketiga anaknya, saat ini anak yang pertama dan kedua telah bekerja dan yang ketiga masih sekolah di STM. Bapak penarik becak tersebut bertempat tinggal di Klaten tetapi bekerja di Jogjakarta, dan hanya tidur dibecaknya pada malam hari kemudian saat pagi hari sudah mulai bekerja menarik becaknya kembali sampai malam lagi. Beliau pulang ke rumah hanya sepuluh hari sekali. Saat ditanya tentang kenaikan harga BBM bapak tersebut menolak karena beliau berkata bahwa saat BBM naik maka seluruh kebutuhan juga akan mengalami kenaikan harga dan mempengaruhi  kehidupan sehari-harinya. Bahkan bapak penarik becak juga ingin mengikuti demo untuk menolak kenaikan harga BBM apabila diajak.

Kegiatan sosial pada kelompok kedua yaitu mendatangi penjual  koran dan penjual jajan pasar. Pada penjual koran yaitu seorang ibu-ibu separuh baya. Tetapi pada saat melakukan sharing kami merasa bahwa ibu tersebut sudah mampu dalam kehidupan sehari-harinya karena beliau bercerita bahwa dulunya pernah bekerja dan bisa menabung tetapi beliau dijanjikan oleh orang lain bahwa akan dinaikkan haji. Namun, orang yang telah berjanji tersebut tiba-tiba menghilang dan kalaupun bertemu dengan beliau, pemberi janji tersebut diam saja. ibu penjual koran itu lalu memakai uang tabungannya untuk kesenangannya sendiri, misalnya meminjamkan uangnya kepada orang-orang. Dan akhirnya tabungannya habis. Semenjak itulah si ibu memutuskan untuk berjualan koran. Setelah dari penjual koran tersebut kami berjalan lagi dan menemui seorang penjual jajanan pasar. Ibu penjual jajanan ini sudah cukup tua. Beliau berjualan sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, dan dirinya juga hanya hidup sebatang kara karena suaminya sudah meninggal dan tidak mempunyai seorang anak. Kegiatan berjualan sehari-harinya dimuali dari pagi buta. Saat Shubuh ibu penjual ini sudah harus ke pasar mengambil dagangan dan berjalan untuk menjual  dagangannya di sepanjang Jalan Monjali. Keuntungan yang diambil pada saat berjualan ini pun tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Kegiatan sosial kami untuk kelompok ketiga adalah berkisah dengan bapak pembuat stempel. Saat kegiatan tersebut, kami berusaha mengajak ngobrol bapak pembuat stempel tersebut. Beliau selain bekerja sebagai pembuat stempel juga berjualan pulsa dan warung kecil di pinggir jalan. Beliau bekerja sebagai pembuat stempel di tempat tersebut sudah sejak lama bahkan bertahun-tahun yang lalu. Saat ditanya tentang kenaikan harga BBM saat itu, beliau juga merasa tidak setuju kalau BBM harus naik. Tetapi beliau juga tidak setuju apabila para mahasiswa melakukan demo penolakan dengan anarkis dan merusak fasilitas-fasilitas umum.

Selanjutnya kelompok ke empat mendapat kegiatan sosial pada seorang pemulung dan penjaga makam. Pemulung ini adalah pasangan suami istri yang mencari sampah untuk kehidupan sehari-harinya dan untuk menyekolahkan anaknya. Saat ditanyakan tentang kenaikan BBM pasangan pemulung ini juga tidak setuju karena alasan yang sama yaitu akan ikut bertambahnya harga kebutuhan pokok. Kelompok kegiatan sosial kami yang terakhir yaitu pada seorang penjaga makam. Bapak penjaga makam yang kami temui ini sebelumnya telah memiliki pekerjaan lain dan menjaga makam hanya dengan suka rela. Saat ditanyakan tentang kenaikan harga BBM lagi-lagi bapak penjaga makam ini juga tidak setuju karena alasan yang sama.

Dari berbagai profesi tersebut, kami mendapatkan banyak sekali nilai sosial yang dapat diambil. Pada dasarnya orang-orang yang kami temui semuanya bersikap ramah dan baik hati, secara terbuka menerima kita dan mau berbincang-bincang dengan kita. Pelajaran dari bapak penarik becak yaitu sebagai seorang anak kita harus menghargai dan menghormati orang tua kita yang sudah bekerja keras untuk membiayai sekolah kita dan kehidupan kita sehari-hari. Seorang kepala keluarga yang berusaha sekuat tenaga dan bahkan dengan resiko tidur di jalan dan jarang bertemu dengan anggota keluarga demi kelangsungan hidup keluarganya. Pelajaran hidup yang bisa diambil dari ibu penjual koran adalah jangan terlalu percaya pada seseorang yang menjanjikan kita sesuatu hal yang belum pasti, kita juga harus hemat dan jangan befoya-foya yang terlalu berlebihan. Tetapi pada saat terpuruk kita dapat mengambil pelajaran dari ibu penjual koran ini agar cepat bangkit dan mengambil pelajaran dari masa lalu.

Selanjutnya ibu penjual jajan pasar, pelajaran yang dapat kita ambil adalah walaupun kita hidup sebatang kara tetapi tidak hanya selalu mengharap belas kasihan dari orang lain, kita harus selau berusaha dahulu semampu kita. Lalu yang bisa kita pelajari dari seorang pemulung adalah dirinya berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak hanya dengan meminta-minta. Dan dari seorang penjaga makam adalah bekerja dengan ikhlas tanpa bayaran untuk kebaikan dan untuk orang lain.

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil, tetapi juga jangan hanya dijadikan sebagai masukan saja. Kita juga harus dapat menerapkan pelajaran berharga yang kita dapatkan dari kegiatan sosial ini. Karena apabila tidak diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari maka hanya akan menjadi sia-sia saja. Jadi pada intinya kita yang masih menjadi seorang anak harus selalu menghargai usaha orang tua untuk selalu memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari dan juga pendidikan kita. Jangan selalu menggampangkan apa yang kita dapatkan dari orang tua untuk foya-foya. Selalu berusaha dahulu semampu kita, jangan hanya selalu meminta dan tergantung kepada orang lain. Berusaha berbuat baik kepada semua orang dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

Mendapatkan suatu pelajaran berharga tidaklah harus mahal. Justru dengan orang-orang yang jarang kita temui, bahkan yang tidak pernah ada di benak kita sebelumnya, akan memberikan pelajaran hidup paling mahal bagi kita. Tidak harus di bangku sekolah, bangku kuliah untuk mendapatkan suatu pengalaman, banyak di sekitar kita pengalaman berharga dapat dipetik dan dijadikan refleksi untuk kehidupan umat yang lebih baik.

THE GREAT THING ABOUT SOCIAL MOVEMENTS IS EVERYBODY GETS TO BE A PART OF THEM

-JIM WALLIS-

(oleh = Elsa Yunita, editor = Riadiani)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Medical Action Weeks 2011

 

Berbagi sesama, Mengabdi bersama !

Putri Claudya Octaviani


Judul di atas merupakan rangkaian kata singkat yang kerap kita dengar beberapa bulan lalu ketika Medical Action Weeks 2011 dilaksanakan. Medical Action Weeks, atau yang lebih sering dikenal sebagai MAWSs, merupakan acara sosial terbesar Fakultas Kedokteran UGM yang kali ketiganya telah dilaksanakan pertengahan Oktober sampai awal Desember lalu. MAWSs bukan merupakan acara tunggal, melainkan rangkaian beberapa acara berbeda dengan mengangkat satu tema, yaitu tema sosial.

MAWSs dibuka dengan kegiatan Funbike pada tanggal 16 Oktober 2011. Walaupun bertepatan dengan beberapa Fun Bike besar yang diselenggarakan di Kota Jogja, kegiatan ini tidak kalah ramai didatangi para pecinta sepeda. Pukul tujuh pagi, halaman FK sudah dipenuhi pecinta sepeda dari berbagai penjuru Jogja. Acara Fun Bike diawali dengan pembukaan oleh Presiden Mahasiswa FK UGM, dilanjutkan dengan kegiatan bersepeda yang mengambil rute FK-tugu-HOS cokroaminoto-pojok beteng-kotabaru-GSP-FK. Usai lelah bersepeda, para peserta dihibur oleh penampilan penyanyi dangdut dan pembagian doorprize. Kemeriahan ditambah dengan hadirnya beberapa stand makanan. Kegiatan usai sekitar pukul sebelas siang. Undian doorprize utama berupa i-Pad menjadi puncak acara pertama MAWSs 2011 ini. Secara keseluruhan, kegiatan Funbike berlangsung lancar, meriah dan menjadi pembuka yang luar biasa bagi rangkaian acara MAWSs 2011.

Funbike MAWs 2011 bertujuan untuk melatih dan memperkenalkan masyarakat pada pola hidup sehat dengan bersepeda. Seiring kemajuan zaman dan teknologi, manusia cenderung mengedepankan sesuatu yang praktis. Dalam hal kendaraan, kebanyakan manusia memilih menggunakan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi. Meskipun jarak tempuh terbilang dekat, mobil dan motor tetap menjadi pilihan pertama sebagai alat transportasi masa kini. Padahal, penggunaan berlebihan kendaraan bermotor dapat memberikan beberapa dampak besar, yaitu meningkatnya global warming, berkurangnya minyak bumi, dan kebiasaan buruk manusia untuk meninggalkan olahraga.

Untuk itu lah, bersepeda seharusnya menjadi kegiatan yang diutamakan. Dengan bersepeda, kita menjadi sehat selalu. Dengan bersepeda kita turut menyumbang udara bersih bagi bumi serta mengurangi global warming. Dengan bersepeda, kita juga turut berpartisipasi menjaga ketersediaan minyak bumi yang sebagian besar digunakan untuk BBM. Selain itu, bersepeda juga meningkatkan nilai kepedulian kita terhadap lingkungan karena kita dapat mengamati kehidupan sekitar yang terkadang luput ketika menyetir kencang di dalam mobil atau motor. Pengemis jalanan, tukang becak, tukang parkir, pedagang asongan, dan para sumber inspirasi lainnya dapat kita amati sembari menikmati udara segar ketika bersepeda. Keletihan mengayuh serta teriknya mentari siang tidak akan mampu melunturkan semangat bersepeda jika kita sadar akan manfaatnya. Untuk itu, kegiatan Funbike dapat menjadi salah satu media promosi bersepeda kepada masyarakat. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat sadar akan pentingnya bersepeda dan mulai membiasakan diri untuk mengayuh dan mengayuh kendaraan roda dua penuh manfaat ini.

Rangkaian acara kedua MAWs 2011 adalah Bakti Sosial. Jika sebelumnya telah dibuka dengan kegiatan peduli lingkungan melalui Funbike, kegiatan kedua ini lebih memusatkan kepada kepedulian sosial. Bakti sosial dilaksanakan pada hari Minggu 30 Oktober 2011 di Dusun Mutihan, Desa Srimartani, Piyungan, Bantul. Menurut data statistik, Desa Srimartani merupakan salah satu desa miskin di Propinsi DIY. Berdasarkan data tersebut, Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran (KMFK) memilih Desa Srimartani sebagai desa binaan dan pusat penyelenggaraan kegiatan sosial, yang tak lain tujuannya demi kesejahteraan masyarakat Desa Srimartani. Pemilihan tempat Desa Srimartani sebagai objek baksos MAWs sungguh tepat sasaran. Dengan menyelenggarakan baksos di Desa Srimartani, MAWs turut meyumbang terwujudnya tujuan mulia KMFK untuk menyejahterakan Desa Srimartani.

Udara segar dari pepohonan rindang dan hamparan sawah yang menyejukkan mata menyambut kedatangan panitia baksos MAWs di Desa Srimartani, sekitar pukul delapan pagi. Para warga dari daerah yang jauh sekalipun telah berbondong-bondong mendatangi spot kegiatan baksos MAWs 2011. Antusiasme warga yang begitu besar menjadi dorongan semangat lebih bagi panitia baksos dalam penyelenggaraan kegiatan. Kegiatan baksos meliputi pelayanan kesehatan, lomba menggambar, dan penyuluhan kesehatan, yang dilakukan serentak, dilanjutkan dengan pembagian sembako, dan ditutup oleh bazar murah. Kegiatan berlangsung sampai sekitar pukul dua siang. Kemeriahan warga ketika bazaar murah menjadi hiburan tersendiri bagi panitia yang telah lelah bekerja sedari pagi.  Penyelenggaraan baksos ini berlangsung lancar dan terkondisi dengan baik. Kerjasama warga dengan selalu ontime menghadiri setiap kegiatan, turut membantu kelancaran acara baksos.

Baksos MAWs mempersembahkan tujuan-tujuan mulia kepada masyarakat Desa Srimartani melalui kegiatan-kegiatannya. Dengan pelayanan kesehatan, masyarakat terfasilitasi untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Sehingga diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu perwujudan usaha peningkatan taraf kesehatan masyarakat Desa Srimartani. Selain itu, penyuluhan kesehatan yang mengangkat tema diabetes mellitus dan hipertensi diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap dua penyakit kronis dengan prevalensi tinggi tersebut. Pembagian sembako dan bazar murah bertujuan untuk membantu ketersediaan bahan pangan pokok serta bahan sandang masyarakat Desa Srimartani. Sehingga jelas dalam hal ini, melalui berbagai kegiatannya, baksos MAWs 2011 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga Desa Srimartani.

Selain penyelenggaraan acaranya sendiri, kegiatan semacam ini dapat memberikan segudang  pelajaran dan inspirasi bagi kita melalui cerita dan perilaku warga yang dapat kita dengar dan amati sembari pelaksanaan kegiatan. Akan amat disayangkan bila acara semacam ini hanya dilakukan sekali tanpa kelanjutan. Diharapkan, MAWs berikutnya tetap mengangkat tema kepedulian sosial yang memfasilitasi panitia maupun pihak lainnya untuk selangkah lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Srimartani.

Acara ketiga rangkaian MAWs adalah One Day Trip. One Day Trip MAWs 2011 merupakan acara perdana di rangkaian MAWs 2011. Jika kedua acara sebelumnya mengangkat tema lingkungan dan kepedulian sosial, One Day Trip mencakup kedua tema tersebut, namun dengan kegiatan berbeda. Peserta One Day Trip terdiri dari sepuluh kelompok dengan masing-masing berisi enam anggota. Sehari sebelum kegiatan, dilakukan pelatihan peserta mengenai komunikasi terhadap penghuni panti serta cara penanaman pohon sebagai bekal peserta pada kegiatan One Day Trip.

One Day Trip dilaksanakan  pada tanggal 13 November 2011. Kegiatannya terdiri dari kunjungan panti asuhan dan panti jompo, penanaman pohon, serta sharing nilai sosial di pantai Timang. One Day Trip dimulai pukul tujuh pagi dengan pembukaan oleh Presiden Mahasiswa KMFK dan ketua MAWs di FK. Usai pembukaan, peserta digiring ke panti asuhan atau panti jompo masing-masing untuk penyelenggaraan acara yang mereka konsep per kelompok. Ada yang menyelenggarakan senam, nonton film, permainan anak, dan lain-lain.

Setelah kunjungan panti, peserta digiring lagi ke dalam bus untuk menempuh perjalanan cukup panjang menuju sebuah desa pesisir yang mungkin masih asing bagi kebanyakan orang, Desa Timang. Gunung kidul, merupakan salah satu kabupaten Provinsi DIY dengan ketersediaan air yang memprihatinkan. Mungkin sering kita baca, dengar, atau lihat melalui media masa betapa masyarakat Gunung Kidul harus berjalan jauh atau membeli air hanya demi seteguk penyegar kerongkongan. Begitulah keadaan desa timang. Desa dengan tanah jenis karst yang kering dan keras menjadi alasan kuat kegiatan penanaman pohon. Setelah sekitar 3 jam menempuh perjalanan, dan sekitar 5 menit bergoncang di dalam truk terbuka, peserta sampai di Hutan Kusnadi. Di sini lah mereka melakukan penanaman pohon. Keterlibatan warga Timang dalam acara ini turut membantu keberlangsungan dan kelancaran acara penanaman pohon.

Pantai Timang merupakan pantai belum dibuka, atau istilahnya masih “perawan”. Meski begitu, keindahan luar biasa ditampilkan melalui hantaman gelombang air pada karang serta kilauan air bak mutiara dari pantulan sinar matahari. Di pantai ini lah puncak acara One Day Trip, yaitu sharing kelompok kecil dilaksanakan. Ditemani dengan segarnya degan, masing-masing peserta menceritakan pengalaman seharian tersebut dari mulai penyelenggaraan acara panti sampai penanaman pohon. Yang terpenting pada sharing ini bukanlah sekadar bagaimana perasaan mereka saat kegiatan One Day Trip, namun lebih ke arah penanaman nilai-nilai sosial dari kegiatan One Day Trip ini.

Seperti disebutkan sebelumnya, One Day Trip mengangkat tema lingkungan dan sosial. Melalui kunjungan ke panti asuhan dan panti jompo, peserta dapat mempelajari nilai-nilai sosial melalui pahit dan manisnya kehidupan warga panti. Nilai-nilai sosial ini lah yang diharapkan dapat menjadi seumber inspirasi bagi kehidupan peserta. Selanjutnya, kegiatan penanaman pohon diharapkan mampu menggugah kepedulian peserta terhadap lingkungan. Selain itu, peserta juga telah membantu peningkatan kesejahteraan warga melalui sejumlah pohon yang mereka tanam yang kelak akan tumbuh dan memberikan manfaat kepada warga. Diharapkan, setelah ini peserta tergugah hatinya untuk lebih sering melakukan kegiatan-kegiatan konservasi alam melalui penanaman pohon. Selanjutnya, sharing kelompok kecil di pantai berfungsi sebagai sarana penyebaran nilai sosial yang diharapkan akan menambah sumber-sumber inspirasi tiap peserta.

Acara keempat MAWs 2011 adalah Pendidikan dan Pelatihan Dokter Kecil. Kegiatan ini memiliki durasi waktu paling lama dari seluruh acara MAWS 2011, yaitu tiga hari pada tanggal 18, 19, 20 November 2011. Dokter kecil melibatkan 50 SD dari berbagai penjuru provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang diangkat dokter kecil meliputi pelatihan dan lomba untuk anak SD terkait dengan kesehatan anak-anak, khususnya anak-anak yang ada di sekolah.

Selama tiga hari murid-murid SD tersebut diberikan beberapa materi mengenai penanganan masalah sederhana, cuci tangan dan gosok gigi, gizi seimbang, serta penyuluhan mengenai bahaya narkoba. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan dokter kecil ini berjalan lancar dan terstruktur baik. Materi yang diberikan pada pendidikan dokter kecil diharapkan dapat memberikan wawasan untuk mereka dalan hal kesehatan. Nantinya setelah kegiatan ini, mereka diharapkan mampu membantu teman, keluarga, maupun orang lain, dan menjadi kader kesehatan di sekolahnya masing-masing. Daya serap yang luar biasa pada anak-anak juga memudahkan mereka memahami dan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan medis yang telah diajarkan pada pelatihan dokter kecil. Adanya lomba dan assesement yang diselenggarakan pada akhir rangkaian kegiatan dokter kecil mampu meningkatkan semangat belajar dan keinginan mereka untuk menguasai materi yang telah diajarkan. Hal ini selanjutnya akan berdampak bagi kuatnya pengetahuan dan keterampilan medis yang dapat mereka terapkan usai kegiatan dokter kecil.

Hal yang terpenting, dengan adanya kegiatan dokter kecil ini para generasi cilik diperkenalkan sejak dini tentang rasa tolong-menolong, empati kepada orang lain, keinginan untuk membantu meringankan beban orang lain, kepedulian terhadap sesama, dan tentu saja semua itu berkaitan dengan peningkatan rasa kemanusiaan mereka. Seorang tenaga kesehatan tidak lepas dari rasa kemanusiaan ketika melakukan pertolongan. Melalui dokter kecil ini lah pesan-pesan tentang rasa kemanusiaan itu disampaikan kepada generasi cilik. Jika nilai kemanusiaan telah dimiliki sejak dini, sampai dewasa pun hal tersebut tetap akan melekat pada batin mereka. Yang kemudian akan melahirkan tenaga-tenaga kesehatan dengan rasa kemanusiaan tinggi yang rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan nyawanya demi kesehatan dan keselamatan orang lain. Dan itulah idealnya karakter seorang tenaga kesehatan.

Acara ke lima MAWs 2011 dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2011 melalui sebuah konser amal. Acara ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian acara MAWs 2011. Bertepatan dengan hari AIDS Se-Dunia, tema yang diangkat pun tentang HIV/AIDS. Konser ini menyajikan penampilan beberapa band local seperti winning eleven, rekoneko, MMC, javablanca, serta bintang tamu ternama, Adhitia Sofyan.

Udara sejuk selepas hujan sore hari dengan hiasan lampu serta gantungan lampion, secara eksotis menyambut kehadiran malam konser penutup MAWs. Penonton sudah diperbolehkan masuk mulai pukul enam sore. Meskipun begitu, para pengunjung mayoritas datang menjelang pukul tujuh. Acara diawali dengan menampilkan video closing MAWs, dilanjutkan dengan penampilan band-band pendatang, dan ditutup dengan penampilan memukau Adhitia Sofyan. Disela-sela penampilan band, terdapat pemutaran video mengenai penularan HIV dan testimoni penderita HIV/AIDS. Suasana dibangkitkan juga dengan hadirnya beberapa stand makanan di sekeliling area pelaksanaan.

Konser ini berlangsung lancar dan meriah. Alunan musik dari band-band pendatang serta penciptaan suasana melalui dekorasi yang indah mampu menyihir para pengunjung untuk tetap menikmati acara sampai akhir. Seperti telah disebutkan sebelumnya, konser ini merupakan konser amal yang bertepatan dengan hari AIDS se-Dunia. Untuk itu, tema yang diangkat pun tentang HIV/AIDS. Adanya pemutaran video mengenai HIV diharapkan dapat membuka mata setiap orang untuk mengetahui cara penularan HIV sehingga mereka tidak harus takut berlebihan ketika berdekatan dengan penderita HIV. Testimoni mengenai kehidupan penderita HIV juga diharapkan dapat  menjadi sarana refleksi diri para pengunjung.

Pada testimoni ini, diceritakan bahwa HIV dalam tubuh si pencerita/ Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tertular dari suaminya. Suaminya sendiri tertular dari jarum suntik yang tidak steril, dan akhirnya meninggal karena depresi dan tidak mau berobat.

ODHA ini mencurahkan bahwa ia begitu sedih terhadap keadaannya. Bukan semata-mata terhadap keganasan penyakitnya, namun terhadap pandangan orang-orang yang begitu buruk tentang dirinya, yang selalu menganggap rendah dirinya karena dikira melakukan hal-hal asusila sehingga tertular HIV. Padahal dirinya tertular sama sekali bukan melalui kelakuan buruk, dan tidak semua penderita HIV tertular karena kelakuan-kelakuan buruk mereka. Ia begitu berharap setiap orang dapat memperlakukan ODHA dengan semestinya, tidak mendiskriminasi serta tidak termakan stigma bahwa HIV selau tertular melalui perbuatan asusila.

Mungkin miris rasanya ketika kita mendengar cerita semacam ini. Rasanya ingin kita menyalahkan “mereka” yang mendiskriminasi ODHA, mereka yang mengucilkan dan menganggap rendah ODHA. Namun, bagaimana bila kita di posisi orang-orang tersebut? Mungkin saja justru kita akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih kejam dari yang mereka lakukan.

Untuk itu marilah sedikit berpikir secara rasional. Perluas pengetahuan kita mengenai cara penularan HIV, sehingga kita tidak perlu ketakutan berlebihan kepada para ODHA. HIV tidak menyebar lewat keringat, liur, udara napas, atau air mata. Sehingga, jangan lah kita takut untuk berjabat tangan, memeluknya dan mengusap air matanya ketika mereka menangis. Jangan takut untuk mendekat ketika ia tertawa, jangan takut untuk menawarkan diri kita sebagai teman berbagi mereka. Jangan sedikit pun menganggap rendah mereka, mendiskriminasi, atau mengucilkan mereka. Jangan tambah beban penyakit mereka dengan keadaan lingkungan yang tidak menerimanya. Gandeng lah pada ODHA, perbaiki pengetahuan dan persepsi kebanyakan orang kepada ODHA. Sehingga di waktu selanjutnya, kita tidak akan menemukan ODHA yang menangis lagi karena kehilangan kehidupan sosial.

Dengan berakhirnya konser amal ini, diharap pengunjung bukan hanya terhibur oleh alunan musiknya, terpesona dengan keindahan dekorasinya, namun semoga mereka mendapatkan esensi dari pelaksanaan konser amal ini untuk lebih peduli dan memahami para ODHA.

Tepuk tangan riuh penampilan terakhir Adhitia Sofyan oleh para pengunjung  malam konser amal 3 Desember 2011 lalu sekaligus menjadi gong penutup rangkaian acara MAWs 2011. Setelah berakhir, diharapkan MAWs 2011 bukan hanya dianggap sebagai sarana pengeksploitasi tenaga, waktu, dan uang, melainkan sebagai kegiatan dimana  pihak-pihak yang terlibat dapat merasakan esensi sosial dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Berbagi sesama, Mengabdi bersama !

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pilot Project 2012

Pilot Project Desa Binaan KMFK UGM, Desa Srimartani

Pilot Project Desa Binaan KMFK UGM adalah sebuah kegiatan yg merupakan langkah awal Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran (KMFK) UGM dalam membina desa binaan bersama yakni Desa Srimartani. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 27-29 Januari 2012 bertempat di Dukuh Kemloko dan Dukuh Mojosari, Desa Srimartani. Inti dari kegiatan ini yaitu survey lapangan yang mengambil tema Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan kegiatan sosial. Peserta berjumlah 36 orang dari berbagai macam program studi di FK UGM, yang kemudian dibagi di dua dukuh tempat pelaksanaan Pilot Project.

Dalam rangka kegiatan survey lapangan tersebut, peserta dibekali dengan pelatihan mengenai survey dan pendataan pada tanggal 14 Januari 2012 oleh ibu Mutiara Tirta, MIPH. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai komunikasi efektif pada tanggal 21 Januari 2012 oleh DR. Toto Sudargo, SKM. MKes.

Kegiatan pertama setelah sampai di lokasi tujuan adalah ramah tamah di masing-masing dukuh yang dihadiri oleh kepala dukuh tersebut. Kemudian, masing-masing peserta menuju ke rumah singgahnya diantar oleh sebagian panitia, dilanjutkan ramah tamah dengan keluarga di rumah singgah tersebut.

Keesokan harinya (28/01/12) peserta mengikuti aktivitas keluarga rumah singgah masing-masing. Ada yang ikut ke ladang, berjualan di pasar, membantu memilah-milah daun pisang, membabat tanaman liar, dll. Kegiatan ini berlangsung hingga siang harinya. Selanjutnya pada pukul 2 siang diadakan Penilaian Status Gizi (PSG) Balita dan anak-anak di masing-masing dukuh. PSG meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan. selain itu diselingi dengan penyuluhan sederhana mengenai sanitasi dan makanan bergizi, serta pembagian makanan untuk balita-balita yg sudah hadir.

Sore harinya, peserta mulai survey ke rumah-rumah warga yg akan menjadi responden yang sudah ditentukan oleh panitia sebelumnya menggunakan metode random.  Setiap peserta bertanggung jawab pada 1 responden. Survey tersebut menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi.

Hari terakhir (29/01/12) merupakan jadwal untuk pelayanan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah dan gula darah dan bazar sembako. Paket sembako yang diberikan berisi beras, minyak goreng, mie instan, gula dan teh. Bazar sembako ini ditujukan kepada keluarga miskin di dukuh tersebut, meskipun mereka membeli, namun nantinya uang hasil bazaar sembako tersebut akan dikembalikan ke dukuh untuk.pembangunan di dukuh tersebut.

Dengan berakhirnya pelayanan kesehatan dan bazar sembako, maka selesailah rangkaian kegiatan Pilot Project Desa Binaan KMFK ini. Peserta kembali ke rumah singgahnya masing-masing dengan membawa bingkisan sembako sebagai tanda terimakasih, sekaligus berpamitan kepada keluarga rumah singgahnya. Setelah berpamitan dengan hostfam, peserta berkumpul di rumah kepala dukuh untuk berpamitan pulang. Setelah itu, peserta di Dukuh Kemloko dan Dukuh Mojosari berkumpul menjadi satu di Balai Desa Srimartani, untuk value sharing, yakni apa berbagi nilai yang sudah didapatkan selama pelaksanaan Pilot Project. Pertama-tama peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk diskusi terlebih dahulu, kemudian setiap dukuh mengirimkan satu perwakilannya untuk menceritakan kembali apa yang sudah didapatkan selama Pilot Project berlangsung.

Demikian Pilot Project telah usai. Dengan berakhirnya Pilot Project ini, data yg sudah didapatkan dari survey akan diolah, kemudian menghasilkan suatu kesimpulan permasalahan yang ada di Desa Srimartani, dimana kesimpulan tersebut dapat dijadikan dasar bagi KMFK untuk melakukan suatu intervensi di Desa Srimartani dalam rangka pembinaan desa tersebut.

“only life lived for others is worth living” -albert einstein-

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Artikel, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM, Kegiatan Sosial, Kunjungan, Program Kerja | 1 Komentar

One Day Full with Oma-Opa

Oleh Dini Kurniadita Nurwati

Departemen Sosial Masyarakat (Sosmas) adalah salah satu departemen yang berada dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran (BEM FK) UGM. Program kerja dalam 6 bulan pertama adalah penjagaan internal dan pelaksanaan kegiatan sosial untuk dan oleh pihak internal Departemen Sosmas BEM FK UGM atau dengan kata lain hanya diperuntukkan untuk anggota Departemen Sosmas itu sendiri. Untuk 6 bulan berikutnya penyelenggaraan kegiatan sosial ditujukan untuk lingkup eksternal Departemen Sosmas. Pada bulan Juli 2011 diadakan Bakti Sosial Nasional (Baksosnas) 2011 di Hunian Sementara Kuwang, Cangkringan, Sleman yang bekerjasama dengan ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia). Kemudian pada bulan Oktober 2011, Departemen Sosmas bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang ada di FK UGM untuk mengadakan rangkaian kegiatan sosial terbesar di FK UGM yang dinamakan Medical Action Week (MAW) 2011. Selanjutnya pada bulan Desember 2011 tepatnya tanggal 10 Desember 2011 kemarin Departemen Sosmas BEM FK UGM memfasilitasi teman-teman FK UGM untuk ikut terjun dalam kegiatan “One Day Full with Oma-Opa” yang diadakan di sebuah panti wreda. Kami memilih Panti Wreda karena kegiatan sosial kami sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di Panti Asuhan Atap Langit dan di lingkungan UGM, selain itu kami juga ingin berbagi kebahagiaan dengan oma-opa yang ada di Panti Wreda tersebut. Dari catatan panti, oma-opa yang ada di panti tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tidak pernah dijenguk oleh keluarganya, atau bahkan sama sekali sudah dilupakan oleh keluarganya. Untuk itu, kami ingin menghibur dan berbagi cinta dengan oma-opa yang ada di sana. Setelah survey beberapa panti, kami memilih panti Wreda Budi Luhur, Kasongan, Bantul, karena oma-opa yang ada di sana banyak yang bisa diajak berkomunikasi, yang bisa membantu kami dalam mencapai tujuan diadakannya kegiatan ini.

Bersama Oma-Opa di Salah Satu Panti

Sehari sebelum kegiatan di panti, kami mengadakan talkshow dengan pembicara dr. Probo Suseno, Sp.PD, K.Ger untuk memberikan sedikit ilmu tentang cara berkomunikasi yang baik, membina hubungan yang baik dengan oma-opa, dan sedikit pelatihan bahasa jawa untuk teman-teman peserta yang ikut andil dalam kegiatan ini. Kemudian keesokan harinya, kegiatan di panti dimulai sejak pagi, kami mengikuti aktivitas oma-opa, mulai dari senam pagi sampai istirahat siang. Karena hari itu adalah hari Sabtu maka selain oma-opa yang ada di dalam panti, ada juga oma-opa yang berasal dari sekitar panti yang mengikuti program “day care” rutin yang diadakan oleh panti. Aktivitas di panti sudah dijadwal oleh pegawai pengurus di sana sehingga sudah tersusun rapi. Oma-opa dalam panti berjumlah sekitar 88 orang, 63 oma-opa regular yaitu gratis berada di sana karena dibiayai oleh pemerintah dan 25 oma-opa subsidi yaitu tiap bulannya membayar sebesar Rp 1.000.000,00, sedangkan oma-opa dari sekitar panti berjumlah sekitar 75 orang. Latar belakang mereka sampai tinggal di panti ini pun berbeda-beda, ada yang tidak menikah kemudian tidak ingin merepotkan keluarga dan ingin memaksimalkan pensiunannya untuk memperbaiki diri di panti, ada yang mempunyai anak namun anaknya berada di luar Jogja padahal eyang tersebut lebih nyaman di Jogja, ada yang keluarganya tidak mau memperhatikannya, dan lain sebagainya.

Senam pagi untuk lansia adalah kegiatan pertama yang kami ikuti, oma-opa di sana setiap hari senam sehat kecuali hari Minggu dan Jumat. Terlihat oma-opa tersebut sangat antusias sekali dalam mengikuti senam. Walau pun apabila dilihat secara fisik ada yang sudah renta dan umurnya sudah tua, namun semangat mereka untuk senam sangat tinggi, kami sebagai mahasiswa sungguh malu karena dalam seminggu sekali saja belum tentu mau berolahraga.

Senam Pagi Bersama Oma-Opa

Karena kami dari fakultas kedokteran, kami mencoba untuk mempraktikkan pengetahuan yang kami punya di panti tersebut, yaitu mengukur berat badan, tekanan darah, dan mengecek gula darah oma-opa yang ada di sana. Untuk oma-opa yang di dalam panti setiap hari Rabu sudah ada pemeriksaan dari dokter sendiri namun pengecekan gula darah jarang dilakukan, sedangkan untuk oma-opa yang berasal dari sekitar panti, pemeriksaan dilakukan hari Sabtu, seperti halnya oma-opa yang ada di dalam panti, oma-opa yang berasal dari luar tidak ada pengecekan gula darah. Konsep kami dalam pelayanan kesehatan ini adalah satu ruangan untuk pelayanan kesehatan dan satu ruangan lagi berfungsi sebagai ruang tunggu sekaligus sebagai ruangan untuk dendang ria. Sehingga oma-opa yang belum dipanggil untuk pemeriksaan bisa bernyanyi dengan teman-teman kami. Walau pun sudah tua, mereka tetap bernyanyi dan berjoget dengan suka ria.

Pelayanan Kesehatan

Selanjutnya adalah sharing yaitu kegiatan berkomunikasi dengan oma-opa yang ada di dalam panti. Teman-teman dibagi dalam beberapa kelompok dan disebar di tiap-tiap wisma. Setiap wisma ada sekitar 10-14 oma-opa dan setiap wisma dikunjungi oleh 3-4 peserta. Setelah masing-masing dari kami berkomunikasi dengan oma-opa di masing-masing wisma, diadakanlah suatu sharing ke teman-teman yang lain dan didampingi oleh pihak panti untuk mengklarifikasi cerita dari oma-opa yang mengganjal pikiran teman-teman. Dalam diskusi kelompok ini diceritakan bagaimana oma-opa tersebut bisa sampai di panti ini, antara lain adalah karena tidak memiliki saudara sama sekali sehingga, oleh Pak Lurah di mana Beliau tinggal sebelumnya disarankan dan diajak untuk ke panti, Beliau mempunyai keluarga namun keluarganya meninggalkan Beliau di panti ini, dsb. Selain itu, ada juga yang bercerita mengenai kegiatan oma-opa di panti, dan kegiatan yang paling mereka sukai bermacam-macam, ada yang suka menyibukkan diri untuk membuat kerajinan-kerajinan yang bagus di saat waktu luang, bernyanyi, berdandan, dll.

Suasana Sharing untuk Berbagi Kisah dengan yang lain

Suasana Dendang Ria Bersama Oma-Opa

Banyak orang yang tidak tahu di dalam panti yang bisa dikatakan megah tersebut, di mana oma-opa selalu beraktivitas dan istirahat yaitu di dalam wisma, kebersihannya kurang dijaga padahal orangtua sangat rentan sekali dengan penyakit, apabila lingkungan mereka tidak mendukung untuk bebas dari sumber penyakit, maka akan susah bagi oma-opa yang ada di sana untuk terhindar dari suatu penyakit. Kebersihan dan kenyamanan panti sendiri oleh pihak panti sudah selalu dioptimalkan namun bau tidak enak masih saja ada karena oma-opa yang ada di sana sering buang air kecil dan buang air besar tidak pada tempatnya terkait dengan kondisi tubuhnya yang sudah melemah sehingga tidak mampu lagi untuk menahan buang air kecil dan buang air besarnya. Padahal sudah ada pramurukti yang membantu oma-opa dalam segala hal dan selalu membersihkan lantai setiap 2 jam agar tidak cepat bau dan kotor. Memang benar yang dikatakan orang-orang bahwa tempat yang paling nyaman adalah rumah sendiri. Salah satu wisma yang diberi nama oleh pihak panti wisma isolasi atau yang akan berubah nama dalam waktu dekat menjadi wisma perawatan khusus itu bila dibandingkan dengan wisma yang lain sangat kurang perhatian dari pihak panti, bahkan nama wisma isolasi ini pun sudah sempat diprotes oleh LSM setempat karena dirasa kurang sopan. Untuk masalah dana, panti mendapatkan uang dari oma-opa subsidi dan APBD sehingga semua fasilitas bisa tetap tercukupi walau pun makanan sehari-hari oma-opa sangatlah sederhana dan kurang ada pengaturan makanan yang berkaitan dengan gizi lansia.  Masalah lain dari oma-opa adalah adanya persaingan tersendiri antar oma-opa untuk mencari perhatian sehingga sering saling menjatuhkan dan sering saling ejek, bahkan di wisma subsidi ada eyang yang bersaing dalam hal memamerkan harta. Dalam hal merawat orangtua harus sangat tlaten karena pada usia tua mereka butuh teman dan sangat butuh untuk diperhatikan.

Nilai-nilai yang bisa didapatkan dari kegiatan ini adalah mensyukuri segala keadaan yang kita alami dengan ikhlas, penuh semangat dan optimis dalam menjalani kehidupan walau pun mungkin memiliki kekurangan dan keterbatasan, selagi kita masih muda dan mempunyai tenaga maka lakukan semua tugas dengan sebaik-baiknya, rela berkorban untuk orang yang dicintai, hidup itu adalah perjuangan sehingga harus berani mengambil segala kemungkinan yang ada, selalu ingat bahwa semua itu akan kembali kepada-Nya, pandai membelanjakan uang, saat kita diberi kebebasan oleh orangtua kita, kita harus mampu untuk bertanggungjawab dan harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk juga tahu akan batasannya, kita tahu apabila semakin tua kita akan semakin berkurang daya ingat kita atau pikun, maka selama masih bisa berusaha, berusahalah agar di masa tua bahagia, selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, di masa tua harus tetap ceria, riang, gembira, oma-opa yang ada di sana memberi semangat dan motivasi kepada kita untuk menjadi orang yang sukses dan menjadi orang besar namun di saat kita sudah mendapatkan kesuksesan tersebut jangan sampai lupa untuk tetap menyayangi dan merawat orangtua kita karena dari kecil kita sudah banyak merepotkan orangtua kita dan agar di masa yang akan datang, kita disayangi oleh anak, cucu kita. Kalau akan menikah, setiap pasangan harus sepakat untuk mau menghidupi orangtuanya, bukan hanya cinta pada anaknya namun juga cinta pada orangtuanya.

Dalam waktu setengah hari kami mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan kami. Kami bisa mempraktikan pengetahuan yang kami punya, mengetahui aktivitas di panti antara enak dan tidaknya hidup di panti, mendapatkan wejangan dari orangtua yang sudah banyak makan manis pahitnya kehidupan. Pesan yang harus selalu diingat adalah orangtua kita sudah mendidik, merawat, membiayai, membesarkan kita sampai saat ini dan kasih orangtua sepanjang masa sedangkan kita hanya bisa membalas dengan giat belajar, berbakti pada orangtua, menyayangi dan mencintai orangtua kita. Sehingga jangan sampai kita durhaka kepada orangtua kita, menyia-nyiakan orangtua kita, dan membuat mereka sakit hari. Karena ridho orangtua juga ridho-Nya.

Bersama Pengurus Panti Wreda Kasongan

Dipublikasi di Kegiatan Sosial | Tag , , , , | 2 Komentar

When We Smile to The Environment, The Environment Will Also Smile to Us

by Claudya Putri

Millenium Development Goals atau yang lebih dikenal dengan MDG’s, tentu bukan istilah yang asing lagi bagi sebagian besar orang. MDG’s adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000. Target pencapaian program MDG’s adalah tahun 2015. Tujuan dari adanya program MDG’s ini sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia serta mendukung pembangunan setiap Negara. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap negara untuk dapat memenuhi tujuan dari program MDG’s.
Esensi dari MDG’s sendiri adalah delapan butir tujuan untuk dicapai puncaknya pada tahun 2015. Pertama adalah memberantas kelaparan dan kemiskinan. Kedua, mencapai serta meningkatkan tingkat pendidikan secara universal. Ketiga, mendorong kesamaan gender dan pemberdayaan wanita. Keempat, menurunkan angka kematian anak. Kelima, meningkatkan kesehatan maternal (ibu hamil). Keenam, menekan angka keterjangkitan penyakit global seperti HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Ketujuh, menjaga keseimbangan lingkungan hidup dan mempertahankan kelestariannya. Dan kedelapan adalah mengembangkan suatu kerjasama global untuk melakukan pembangunan dan pengembangan.
Kedelapan aspek tujuan MDG’s itu merupakan dasar bagi pembangunan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat suatu negara. Namun kali ini, hanya akan kami bahas mengenai poin MDG’s ke tujuh, yaitu tentang keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. MDG’s tujuh ini dapat dikategorikan dalam empat target dasar menurut United Nations Development Programme (UNDP). UNDP adalah salah satu badan PBB yang bergerak di bidang pendampingan dan pembinaan terhadap peningkatan dan pengembangan suatu negara atau komunitas, sehingga masyarakat yang terlibat di dalamnya memiliki taraf hidup lebih baik. Empat target dasar tersebut, yaitu :
1. Mengintegrasikan prinsip pengembangan dan pembangunan yang berkelanjutan ke dalam program dan kebijakan negara; melakukan perbaikan dan usaha untuk mengembalikan sumber-sumber daya yang hilang karena dimanfaatkan
2. Mengurangi punahnya keanekaragaman hayati; targetnya pada tahun 2010 persentase kepunahan menurun
3. Mengurangi persentase hingga setengah proporsi bagi akses yang tidak berkelanjutan dalam mendapatkan air bersih dan sanitasi yang baik pada masyarakat.
4. Mencapai perbaikan yang signifikan dalam meningkatkan taraf hidup minimal 100 juta masyarakat yang tinggal di wilayah kumuh, targetnya adalah tahun 2020

Indikator bahwa poin-poin tersebut telah mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu :
1. Untuk poin 1 dan 2 : proporsi luas area yang tertutup hutan; emisi CO2, total, per kapita, dan per 1 dollar GDP; konsumsi substansi perusak ozon (misal :minyak wangi spray, Air Conditioner, sterofoam, dll); proporsi persediaan ikan dalam batas biologis yang aman; proporsi total sumber daya air yang digunakan; proporsi wilayah darat dan laut yang dilindungi; dan proporsi spesies yang terancam punah.
2. Untuk poin 3 : proporsi dari populasi yang meminum air bersih dan sehat; proporsi dari populasi yang menggunakan sanitasi yang baik
3. Untuk poin 4 : proporsi penduduk wilayah kumuh di perkotaan
Semakin tinggi persentase dari indikator yang diraih, semakin tinggi pula kesejahteraan rakyat yang akan dicapai.
Beberapa negara di dunia telah mengaplikasikan program ketujuh MGD’s. ini. Beberapa proyek diinisiasi oleh UNDP bersama suatu badan darah setempat, seperti misalnya proyek air bersih di Desa Ekipe, Vanuatu. Disini UNDP bersama Global Environment Facility (GEF) membangun 75 keran yang terhubung dengan pipa air masyarakat daerah tersebut. Dengan ini, masyarakat Desa Ekipe dapat memperoleh air bersih setiap hari. Selanjutnya ada juga proyek pengimplentasian listrik ke area pedesaan Afganistan. UNDP beserta Kementrian Rehabilitasi dan Pengembangan Desa Afganistan mengimplementasikan micro-hydro-power sebanyak 6 buah di wilayah pedesaan Afganistan. Sehingga masyarakat desa tersebut dapat memanfaatkan keberadaan listrik untuk kegiatan-kegiatan mereka.
Di Indonesia juga telah dilakukan beberapa program yang mengarah pada tujuan MDG’s ke tujuh ini. Misalnya saja proyek Community Development melalui program SUSCLAM yang dilakukan oleh Japesda di Desa Bangga teluk Tomini. Masyarakat Desa Bangga yang tadinya sangat ketergantungan oleh pohon mangrove sebagai bahan bakar pengasapan ikan Rowa, yaitu ikan sebagai komoditas utama Desa Bangga, berhasil mendapatkan alternatif yang sesuai, yaitu kayu lamtoro, sebagai pengganti kayu bakar mangrove. Kayu lamtoro ini menjadi pilihan yang sangat tepat sebagai pengganti mangrove, selain karena pertumbuhannya yang cepat dan jumlahnya melimpah, penebangan ini justru akan menguntungan petani karena terbebas dari gulma lamtoro. Program SUSCLAM dari Japesda menginisiasi melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pohon mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Hutan mangrove merupakan tempat bertelur ikan Rowa, yang telah disebutkan di atas sebagai komoditas utama masyarakat Desa Bangga, juga populasi lainnya. Hutan mangrove juga sebagai pencegah abrasi pantai. Selain itu hutan mangrove merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Karena manfaat yang begitu besar, penebangan mangrove hanya akan memutus rantai ekosistem serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat Desa Bangga, seperti jumlah tangkapan ikan Rowa yang menurun karena habitat bertelurnya rusak, yang selanjutnya akan menurunkan perekonomian masyarakat Desa Bangga. Namun, setelah peningkatan kesadaran, masyarakat mengerti akan pentingnya tumbuhan dan kelestarian hutan mangrove. Kini masyarakat Desa Bangga bukan hanya menghentikan penebangan mangrove, namun juga secara kontinu melakukan reboisasi untuk menghijaukan hutan mangrove lagi. Mereka sadar bahwa mangrove merupakan kunci utama perekonomian dan kelestarian lingkungan mereka. Sehingga, di akhir program ini masyarakat Desa Bangga telah memiliki kesadaran individual untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik anak-anak, ibu, bapak, tua, muda, semuanya melakukan konservasi hutan mangrove berdasar kesadaran sendiri.
Jika berbicara mengenai lingkungan, mungkin yang terlintas dalam pikiran kita adalah suatu tempat di mana kita berpijak, dikelilingi oleh pohon yang rindang, jalan di mana mobil lalu-lalang, dan sebagainya. Padahal, hal tersebut hanya arti ‘lingkungan’ secara minor. Pengertian lingkungan bukan hanya sekadar tempat. Lingkungan adalah tempat hidup kita beserta komponen di dalamnya, termasuk manusia, tumbuhan, hewan, dan unsur lainnya. Lingkungan adalah tempat dimana kita melakukan segala aktivitas, dan dapat berinteraksi dengan sesama. Lingkungan juga merupakan tempat yang akan menentukan karakteristik dan kepribadian kita sebagai manusia. Lingkungan juga yang menentukkan persepsi manusa yang berbeda-beda dalam menentukan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Lingkungan juga yang mengajarkan kita banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan. Dan sebagainya peran lingkungan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa pengaruh lingkungan daam kehidupan manusia sangat lah besar. Namun kesalahan manusia adalah, kadang-kadang kita hanya menjadikan lingkungan sebagai objek yang hanya bisa kita manfaatkan. Objek yang hanya bisa kita ambil namun tidak pernah kita kembalikan. Tanpa sadar, kita telah merusak keseimbangan yang ada pada lingkungan. Berbagai dampaknya kita rasakan, namun kita hanya dapat mengeluh dan mengeluh. Padahal seharusnya kita sadar bahwa lingkungan tidak akan berhenti peduli kepada kita ketika kita pun mempedulikannya. Untuk itu, marilah kita jaga lingkungan ini. Lingkungan dimana kita sangat bergantung kepadanya. Tidak perlu terlalu muluk, cukup dimulai dari lingkungan sekitar kita dulu, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan memunguti sampah di sekitar kita, melakukan penanaman pohon pada lahan gundul, tidak terlalu sering memakai parfum spray maupun air conditioner, hemat air, hemat listrik, hemat BBM dan lain sebagainya. Marilah mulai sekarang tersenyum kepada lingkungan, dengan itu lingkungan pun akan membalas senyuman kita ☺

Dipublikasi di Artikel | Tag , , | Meninggalkan komentar