Pelajaran Berharga Dari Sekeliling Kita

Maria Oktavia Angelina Kilis

Sabtu, 25 Juni 2011, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM mengadakan sebuah kegiatan dimana setiap orang nantinya akan berkeliling dan berkomunikasi dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang berbeda yang berada di sekitar lingkungan kampus FK UGM. Setiap orang akan dibagikan kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang dan 1 kelompok terdiri dari 3 orang. Kemudian tiap kelompok akan dibagikan kepada sasaran yang telah ditentukan. Beberapa sasaran baksos kali ini yaitu tukang becak, pengemis, tukang sampah, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan pengamen. Namun karena sulitnya mencari orang dengan profesi tersebut di sekitar lingkungan kampus, maka beberapa kelompok mengganti sasarannya menjadi tukang sapu dan tukang becak. Setiap kelompok nantinya akan diberi uang yang dapat diberikan kepada sasaran kegiatannya dalam bentuk apapun, baik berupa uang tunai, makanan, dll. Kemudian kami akan berkumpul kembali untuk berbagi cerita yang didapat oleh tiap kelompok diikuti dengan makan bersama.

Setiap kelompok membawakan ceritanya masing-masing setelah berpencar dan berkomunikasi dengan sasaran kegiatan. Setiap orang yang kami wawancarai memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda, dengan masalah yang dihadapi juga sangat berbeda.

Sebagai contoh kelompok Ria dan Purna yang berkomunikasi dengan tukang becak. Dengan menyamar sebagai seorang pendatang yang ingin ditunjukkan daerah sekitar UGM, mereka menaiki becak dan berkomunikasi dengan pengendaranya. Meskipun menarik becak melelahkan, namun bapak tukang becak tersebut rela bercerita tentang bangunan yang mereka lewati. Tidak hanya “saya hanya narik becak, saya nggak mau njelasin. Pokoknya kalau sampai tujuan, pekerjaanku dah selesai, trus aku dapet duit”. Selain itu, bapak tukang becak tersebut tetap menjalankan kewajibannya pada Tuhan dengan melakukan puasa, shalat jumat, mengaji, dll. Bapak tukang becak juga seorang yang bekerja dengan keras, semenjak SMP, beliau sudah mulai bekerja untuk menjual buah-buahan di Jakarta. Begitu kegiatan sehari-hari bapak tukang becak tersebut, beliau hanya pulang kira-kira 10 hari sekali, dengan menggunakan angkot dan disambung dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.

Tukang Becak di Jogja

Dimas dan Lisa mendapatkan kisah yang berbeda dari dua orang tukang parkir yang mereka temui. Lisa menemui seorang tukang parkir di sebuah toko di sebelah sebuah pasar swalayan. Beliau bernama Pak Yohanes. Pak Yohanes adalah seorang lelaki tua yang masih bersemangat dengan apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Usia lanjut bukan menjadi alasan bagi beliau untuk bermalas-malasan di rumah. Dengan ketulusan hatinya berhasil merebut simpati masyarakat dan mendatangkan rejeki tersendiri bagi Pak Yohanes. Lain ceritanya dengan Dimas, yang bertemu dengan seorang tukang parkir di sebuah warung lotek. Banyak sekali asam manis kehidupan yang dialami oleh bapak tersebut, mulai dari kehilangan tangan kanannya karena suatu kecelakaan, tidak melanjutkan sekolah, kehilangan istri yang disayanginya karena ditabrak oleh seseorang, hingga sekarang menjadi seorang tukang parkir yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Ketika Dimas bertanya apakah tidak capek dengan begini saja, beliau berkata bahwa meskipun hidupnya seperti itu, yasudah jalani saja, dan tetap semangat dalam menjalaninya. Daripada dirinya hanya berdiam diri saja dan mengeluh disana sini, hal tersebut sama sekali tidak mengubah keadaan.

Tukang Parkir yang Sedang Melakukan Pekerjaannya

Contoh yang lainnya adalah kelompok Ado dan Hanum yang berkesempatan untuk berbincang bersama tukang penjual bunga, tepatnya nenek penjual bunga. Nenek ini sudah berjualan bunga kurang lebih selama 30 tahun, dan selain berjualan bunga nenek juga menjual aneka nasi rames. Untuk pendapatan perhari nenek tidak menentu, nasi rames yang dijual juga belum tentu mendapatkan untung karena nenek hanya menjual nasi rames dengan menggunakan tenda kecil tanpa bertuliskan apapun dan tempatnya juga kurang terlihat oleh masyarakat. Jadi, tidak jarang nenek mendapatkan kerugian dari menjual nasi rames ataupun menjual bunga. Namun dengan keadaan yang demikian, nenek tersebut tidak pernah mengeluh dan tidak mudah menyerah. Ini terbukti dengan konsistensi nenek dalam menjual bunga dan nasi rames walaupun nenek tahu bahwa beliau akan rugi tapi nenek tetap menjualnya. Semangat nenek yang luar biasa dapat menjadi kebanggaan bagi kita semua dengan usia yang sudah tua, badan yang sudah membungkuk, bahkan untuk berjalan saja sudah tertatih-tatih dapat memberikan pelajaran, yaitu sebuah kesederhanaan, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa.

Penjual Bunga dengan Pendapatannya yang Tidak Menentu

Dini dan Dira mendapat bagian dalam mewawancarai tukang sapu. Beliau bernama Pak Heri. Pak Heri mendapat tugas untuk membersihkan got dan pekarangan Jalan Olahraga sampai perempatan Jalan Sagan. Terkadang, Pak Heri merasa masyarakat kurang sadar tentang kebersihan dan masih banyak masyarakat yang menganggap rendah profesi Pak Heri. Pak Heri adalah seorang bapak yang selalu berpikir positif, menerima apa adanya yang Tuhan sudah berikan kepadanya. Beliau tetap bersyukur sebagai tukang sapu dan berharap bahwa profesinya dapat membantu masyarakat. Yang menarik dari seorang Pak Heri adalah di dalam keterbatasannya, Pak Heri masih dapat berbagi dengan orang lain. Pak Heri mengangkat 2 orang anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan membiayai mereka selayaknya anak sendiri. Pak Heri selalu bersyukur, beliau berkata bahwa bila kehidupannya dipikirkan secara logika, dengan gaji seorang tukang sapu tidak mungkin dapat menghidupi keluarga dan anak-anak angkatnya. Namun, karena pertolongan Tuhan segala kebutuhan pak Heri selalu dicukupi. Kita harus belajar dari Pak Heri, belajar menghargai orang lain dengan profesi apapun.

Claudia, Firman dan Maria  mendapat bagian untuk bercerita dengan pengemis. Namun, Claudia dan Firman memiliki cerita yang berbeda dengan Maria. Claudia dan Firman bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang mengamen dengan seorang anaknya yang masih kecil yang bernama Viola. Saat bercerita wanita tersebut mengaku bahwa beliau terpaksa mengamen untuk dapat memasukkan Viola ke TK (Taman Kanak-kanak). Beliau juga bercerita bahwa selain mengamen beliau juga mencari uang dengan mencuci pakaian tetangga-tetangganya. Beliau pernah mengaku waktu Viola masih bayi, beliau pernah dicemooh oleh salah seorang penumpang bus bahwa Viola hanya anak pinjaman agar beliau dapat belas kasihan. Padahal, Viola benar-benar anaknya. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya saja. Selain itu, semangat beliau yang sangat tinggi dalam menyekolahkan anaknya walaupun beliau hanya berprofesi sebagai pengamen dan pencuci juga patut kita contoh. Di saat wanita lain yang bernasib sama dengannya sibuk untuk membuat anaknya bekerja, beliau malah bersusah payah membuat anaknya agar dapat sekolah dengan layak agar nantinya kehidupan anaknya bisa lebih baik. Berbeda dengan kisah Maria yang bercerita dengan seorang anak yang bekerja mengelap motor atau mobil di jalanan. Tadinya anak itu berasal dari Kalimantan dan sengaja dititipkan kepada neneknya untuk sekolah. Namun, neneknya malah memaksa cucunya tersebut untuk mengemis tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hal yang sangat dikagumi dari anak tersebut adalah sikap anak tersebut yang tetap tegar dan tidak pernah mengeluh. Mungkin dia ingin seperti anak-anak lainnya diwaktu kosong dapat bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi, dia harus berdiri di pinggir jalan menunggu lampu merah, berpanas-panasan untuk mencari uang, belum lagi apabila uang yang diperoleh tidak mencapai target anak tersebut pasti dimarahi oleh neneknya, tidak jarang juga anak tersebut mendapat pukulan dan cacian. Dari kejadian ini anak tersebut dapat bercerita bahwa semuanya dilakukan untuk mendapatkan uang, untuk dapat sekolah dan makan. Dengan umur yang masih kecil anak tersebut dapat terlihat dewasa dalam mengahadapi kehidupannya.

Seorang Anak yang Sedang Mengemis

Untuk yang terakhir adalah kisah dari Ari dan Kiel yang mendapat kesempatan untuk dapat bercerita dengan kakek tukang becak. Kakek tukang becak tersebut sudah mengayuh becaknya selama 50 tahun. Waktu 50 tahun bukanlah waktu yang singkat, jadi kita dapat bayangkan bagaimana beliau sudah memiliki banyak pengalaman dalam profesinya. Waktu 50 tahun tidak membuat usaha beliau padam, beliau masih terus berusaha dan bekerja sekuat tenaga dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki. Sungguh suatu contoh kegigihan hidup yang harus bisa kita teladani dari beliau. Berapapun penghasilan yang beliau peroleh, beliau tetap bersyukur. Dari beliau kita juga dapat belajar bahwa usia bukanlah halangan bagi kita untuk dapat terus bekerja dan berusaha.

Kisah-kisah diatas, mulai dari kisah tukang becak, tukang parkir, pengemis, penjual bunga, dan tukang sapu menggambarkan kisah yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Namun, dari sini kita dapat mengetahui bahwa setiap pribadi manusia memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, kesulitan yang berbeda, rezeki yang berbeda, pandangan hidup yang berbeda dan sebagainya. Dan dari segala perbedaan ini sangat diharapkan masing-masing pribadi dapat saling menguatkan dan mendukung pribadi yang lain, dalam artian saling menghargai dan menghormati sesama. Dari kegiatan kali ini, diharapkan kita dapat belajar dari orang lain terutama dari orang-orang yang berada di dekat kita yang terkadang sering kita abaikan, belajar bahwa bakti sosial bukan hanya memberi dengan materi, bukan hanya kita membantu mereka tapi kita juga dapat terbantu dengan segala kehidupan mereka yang dapat memberikan sebuah pelajaran yang berharga bagi kita semua. Mengetahui bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Mari belajar mengerti dam memahami orang lain, mulai dari orang-orang yang berada di sekitar kita.

Berbagi Cerita yang Didapat

Ditulis pada Kegiatan Sosial | Di-tag , | Tinggalkan Komentar

Senyum Mereka, Inspirasi Kami

Dini Kurniadita Nurwati dan Putri Claudya Octaviani

Panti asuhan merupakan tempat di mana seorang anak dibawah umur mendapatkan kembali harapan mereka setelah ditinggal orang tuanya. Harapan untuk mendapatkan kasih sayang, harapan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, harapan untuk hidup dengan sebuah kepastian. Namun bukan berarti hidup mereka di panti asuhan akan sama dengan kehidupan sebelumnya bersama orang tua. Di sana mereka mempunyai banyak saudara dan harus membiasakan diri untuk berbagi, juga untuk memulai hidup mandiri. Mereka berkumpul menjadi satu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Walaupun demikian, mereka harus saling bekerjasama untuk mempertahankan hidup. Hal tersebut lah yang terjadi di Panti Asuhan Atap Langit. Banyak anak di bawah umur yang tinggal di sana yang memiliki semangat hidup tinggi. Padahal fasilitas yang mereka dapatkan berbeda dengan beberapa panti asuhan lain di Yogyakarta. Banyak panti asuhan lain yang memiliki bangunan yang besar dan megah, fasilitas memadai, dan dana yang melimpah. Bahkan ada beberapa panti asuhan yang memfasilitasi komputer dan printer di setiap kamar. Namun hal ini sangat kontras dengan panti asuhan atap langit. Di sini kita tidak dapat menemukan aula besar apalagi lapangan bermain. Bahkan ruang pertemuannya merupakan gabungan dari ruang keluarga, ruang tamu, dan ruang bermain. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memilih panti asuhan tersebut untuk melakukan kegiatan sosial.

Pembukaan Kegiatan oleh MC

Kegiatan bersama anak panti asuhan tersebut kami lakukan pada hari Minggu, tanggal 8 Mei 2011. Kegiatan yang kami lakukan di sana adalah berkenalan dengan sedikit games, meminta anak-anak untuk menggambar cita-cita dan mempresentasikannya, makan bersama, nonton film, dan yang terakhir adalah sharing serta tidak lupa mengabadikannya dalam foto.

Penghuni Panti Asuhan Atap Langit

Dari kegiatan menggambar cita-cita, kami mengetahui bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Beberapa diantaranya adalah dokter, pilot, guru, perawat, polisi, dan lain-lain. Gambar itu nantinya akan mereka pajang di kamarnya sebagai motivator untuk lebih bersemangat dan giat belajar dalam menggapai cita-cita.

Kegiatan Menggambar Cita-Cita

Sebagai hiburan, kami memilih menonton film yang berjudul Alangkah Lucunya Negeri Ini. Di sini kami melihat keantusiasan anak-anak panti. Mereka sangat menyimak film itu, terutama anak-anak yang lebih besar. Namun, pada pertengahan film, mereka sudah mulai bosan. Maka kami menawarkan pada mereka untuk makan. Akhirnya acara nonton film pun kami sudahi karena acara tersebut sudah tidak kondusif, hal ini mungkin saja berkaitan dengan durasi film yang cukup lama.

Kegiatan Menonton Film

Sebelum makan, kami mengejarkan cara mencuci  tangan kepada mereka.. Kami ingin beberapa ilmu yang kami miliki dapat kami bagikan kepada anak-anak panti asuhan tersebut. Saat makan, kami berbaur dengan anak-anak panti asuhan tersebut. Beberapa dari mereka menceritakan tentang kehidupan sehari-harinya. Cerita tentang kehidupan mereka berlanjut dengan metode sharing kelompok-kelompok kecil. Untuk mencairkan suasana kami memulai sharing ini dengan menanyakan kesan mereka tentang film Alangkah Lucunya Negeri Ini yang baru saja ditonton. Kemudian berlanjut dengan menanyakan kehidupan mereka sehari-hari, tentunya dengan cara luwes sehingga tidak mengesankan bahwa kami sedang mewawancarai mereka. Dari beberapa cerita mereka, kami mengetahui bahwa sebenarnya mereka mempunyai beban yang sangat berat. Tidak jarang mereka memiliki masalah dalam hidupnya. Ada beberapa dari mereka yang hanya mengembannya sendirian, ada yang kadang-kadang bercerita kepada anak-anak sebaya lainnya, ataupun yang lebih besar. Kadang-kadang mereka juga menceritakannya kepada ibu dan bapak panti yang mereka sebut mama dan papa.

Kami senang sekali atas kunjungan kali ini karena anak-anak panti tampaknya senang dengan kehadiran kami. Selain ucapan terima kasih, hal yang membuat kami yakin adalah keantusiasan mereka untuk meminta nomor telepon genggam kami, dan berkata “besok kesini lagi ya Kak”. Hal-hal tersebut sebenarnya sangat kecil dan sederhana, namun sudah membuat kami senang. Ya, senang karena dapat berbagi kesenangan dengan mereka dan mereka juga merasa senang. Awalnya tujuan kami ke panti asuhan adalah menghibur, mengajarkan beberapa hal seperti cuci tangan, dan mendapatkan nilai-niai dari kehidupan mereka. Namun tenyata disini kami justru yang dapat terhibur dengan mereka. Kelakuan-kelakuan mereka yang lucu membuat kami merasa sangat bersyukur dapat mencicipi momen bersama mereka. Dari sini, kami juga semakin tahu bahwa anak-anak panti asuhan memang butuh bantuan dalam bentuk uang, hadiah, maupun materi lainnya. Namun bantuan terbesar yang mereka butuhkan adalah kasih sayang, senyuman, dan keceriaan yang kita berikan secara ikhlas.

Seorang Anak yang Sedang Meniup Balon

Dari kunjungan yang kami lakukan, kami mendapatkan banyak nilai-nilai. Nilai yang kami ambil sebagian besar dari hasil sharing dan beberapa dari obrolan ringan dengan mereka di tengah-tengah acara. Nilai pertama yang kami ambil bahkan dapat kami lihat saat kami datang. Anak-anak panti asuhan tersebut memiliki sifat menghargai tamu yang patut diacungi jempol. Ruangan yang rapi dan bersih selalu mereka siapkan sebelum tamu datang. Setelah kami tanyakan, mereka beranggapan bahwa setiap tamu yang datang pasti lah bertujuan untuk membagi kebahagiaan, sehingga mereka berpikir bahwa sudah kewajiban bagi mereka untuk menyambut tamu sebaik mungkin.

Selanjutnya sifat kedewasaan mereka terutama mengalah patut kita teladani. Beberapa diantara anak-anak panti asuhan merupakan saudara kandung, mereka yang lebih tua mau mengalah untuk adiknya yang lebih muda. Satu contoh cerita, ada sepasang kakak adik. Saat pembagian permen, si kakak mendapat permen sedangkan adiknya kehabisan. Adiknya menangis ingin permen, secara spontan sang kakak pun langsung memberikan permen miliknya kepada adiknya, padahal si kakak belum tentu mendapatkan permen itu lagi. Hal tersebut dapat menjadi cerminan bagi kita. Tentunya, masing-masing dari kita pasti mempunyai saudara entah saudara kandung maupun saudara jauh, namun belum tentu dari kita mau berbagi dan mau mengalah dengan saudara. Padahal secara ekonomi kita lebih beruntung daripada mereka. Mereka dalam keterbatasannya pun masih mau berbagi, sedangkan kita? Marilah kita renungkan kembali.

Dan ada satu hal lagi yang paling penting, satu pribadi luar biasa anak-anak panti asuhan yaitu mereka masih dapat tersenyum di sela-sela kepedihan hidup. Padahal kalau kita bayangkan, kehidupan tanpa orang tua dan tanpa keluarga sangat lah berat. Apalagi untuk anak-anak kecil seperti mereka. Namun bagi mereka hal tersebut sudah merupakan garis tangan Tuhan. Tidak ada yang perlu disesali atau ditangisi. Yang perlu dilakukan adalah melihat kedepan dan menapaki hidup yang sekarang mereka miliki. Kehidupan baru mereka di panti asuhan lama-kelamaan membentuk mereka menjadi manusia yang kebal akan cobaan hidup dan tidak mudah menyerah. Anak-anak ini juga menjadi terlatih untuk berfikir secara dewasa dan lebih bijaksana. Masalah demi masalah mereka atasi dengan hati lapang dan sabar. Padahal, kita saja kalau punya masalah kecil kadang-kadang kita besar-besarkan, sedikit-sedikit galau, sedikit-sedikit stress, sedikit-sedikit mengeluh. Kalau saja kita mau sedikit saja berfikir lebih jernih, masalah apapun pasti dapat terselesaikan dengan mudah.

Bercermin kepada anak-anak panti asuhan tersebut cukup membuat kita malu. Padahal kita lebih beruntung dari mereka. Terlebih lagi kita masih mempunyai orangtua yang selalu menasehati, dan juga mempunyai teman-teman yang mau mendengarkan keluh-kesah serta mau memberi semangat untuk kita. Mungkin kalau kita lihat, mereka dapat menjadi seperti itu karena keterbatasan. Mereka tak punya orang tua, tak punya dana lebih untuk melanjutkan kehidupannya, mereka harus menopang hidupnya dan beberapa keluarganya yang masih ada, dan masih banyak lagi permasalahan yang mungkin membuat seseorang datang dan menjadi anggota sebuah panti asuhan. Namun seharusnya kita jangan melihat dari segi itu. Kita tidak harus menunggu orang tua kita pergi ataupun terhimpit masalah keuangan untuk dapat menjadi lebih bijak, lebih dewasa, dan tentunya tetap dapat tersenyum. Segalanya dapat kita lakukan mulai dari sekarang. Mereka, anak-anak panti asuhan tersebut, dapat menjadi inspirasi kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Kehidupan mereka tidak seberuntung kita, namun justru malah mereka yang dapat memberi pelajaran bagi kita. Dengan adanya kunjungan ini, kami tidak hanya mengambil rasa lelahnya saja, atau senang-senangnya saja. Namun kami juga dapat mengambil nilai-nilai dari mereka dan mengamalkan itu serta membagikannya kepada orang lain. Pemaparan nilai-nilai di atas semoga dapat menjadi pemacu kita untuk hidup yang lebih baik, berbakti dengan orangtua, membahagiakan orangtua, berbagi rasa dengan sesama, menggapai cita-cita dengan belajar sungguh-sungguh, dan tentunya tetap tersenyum dalam menghadapi masalah sebesar apa pun.

Itulah secarik kisah tentang kunjungan kami ke panti asuhan Atap Langit. Semoga artikel ini bukan hanya berfungsi sebagai penyegar mata namun juga dapat menjadi penyegar hati, cerminan diri, dan sumber inspirasi untuk kita semua.

Ditulis pada Kegiatan Sosial | Di-tag , , , | Tinggalkan Komentar

Rokok dan Krisis Ekonomi Indonesia

Ary Kamal Firdaus

Rokok merupakan sekumpulan tembakau dan bahan-bahan lain  yang diolah sedemikian rupa dan di bentuk seperti sebuah batang untuk nantinya dihisap oleh para penggunanya. Hampir 22,1 % atau kurang lebih 287.300 orang di dalam satu daerah di Indonesia menghisapnya setiap hari. Mungkin bagi sebagian orang merokok merupakan suatu kegiatan yang tidak ada gunanya dan mengganggu kesehatan, tetapi tidak sedikit pula yang menganggap rokok adalah barang yang sangat menguntungkan bagi mereka. Bahkan jika sehari saja tidak merokok, akan membuat orang-orang tersebut tidak bersemangat dalam bekerja, bahkan sampai tidak memiliki nafsu makan. Kira-kira itulah hal-hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Menurut beberapa fakta yang diperoleh dilapangan, masyarakat kita rata-rata mengkonsumsi 10,6 batang per hari atau sekitar tiga juta batang rokok mengepul di udara setiap harinya dalam suatu kota.  Bila dikalikan dengan harga Rp 1.000,00 per batang maka 3 miliar rupiah per hari, berarti 90 miliar setiap bulannya atau 1,08 triliun per tahun. Ini sama dengan 74 % PAD suatu ibukota provinsi di Indonesia seperti Kota Makassar pada tahun 2010 sebesar Rp 1,452 triliun. Mirisnya, warga Indonesia yang saat ini dilanda kemiskinan, juga turut memberi andil dalam pembuangan uang secara sia-sia seperti ini setiap tahunnya. Uang yang mereka miliki digunakan untuk merokok dan tidak dipakai untuk keperluan dasar seperti pangan, rumah, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Hal ini lah yang menyebabkan mengapa orang-orang miskin memiliki status gizi yang kurang, dan ditambah dengan minimnya biaya yang dialokasikan untuk pemeliharaan kesehatan menyebabkan angka kematian dan kejadian penyakit pada mereka menjadi lebih tinggi.

Sebanyak 2,2 persen masyarakat perokok di Indonesia berusia 10-14 tahun dengan rata-rata konsumsi rokok 5,2 batang per hari. Sebanyak 0,8 persen mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun dan 7,7 persen pada usia 10-14 tahun. Padahal, seperti yang kita ketahui, semakin dini usia merokok seseorang, maka kemungkinannya untuk berhenti merokok juga semakin kecil. Hal ini lah yang menyebabkan banyaknya kematian akibat merokok pada usia produktif. Kematian dini pencari nafkah dalam keluarga tentunya merupakan malapetaka bagi keluarga miskin dan masyarakat lainnya. Tidak heran jika tingkat kemiskinan di Indonesia semakin bertambah.

Menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat yang telah lama tergantung pada rokok memang merupakan suatu tantangan bagi kita semua. Tetapi, hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan. Saat ini pun pemerintah telah mencoba mengatasi persoalan ini, dimulai dari pembuatan Perda larangan merokok dan himbauan untuk tidak merokok di depan publik. Akan tetapi banyak sekali kendala yang di hadapi, mulai dari tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang bahaya merokok, sampai dilema yang dihadapi pemerintah dalam hal pajak cukai rokok yang merupakan salah satu pemasukan terbesar APBN negara. Bukan itu saja, Indonesia juga dihadapkan pada suatu dilema dimana Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat produksi tembakau terbesar di dunia. Dengan jumlah yang sebesar itu, tentunya banyak sekali para petani yang telah menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan mereka sebagai petani tembakau. Ini sebenarnya merupakan tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah kita, jika memang ingin menurunkan tingkat polusi akibat rokok, pemerintah juga harus memikirkan kesejahteraan para petani tembakau nantinya.

Akan tetapi, diluar itu semua, alangkah bijaknya jika kita sendiri yang mau memulai untuk menjauhi rokok itu sendiri. Sadar jika rokok bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Tegakah anda jika anak dan istri anda yang sangat anda sayangi menanggung akibat buruk dari rokok yang setiap hari anda hisap? Jadi, marilah berhenti merokok mulai sekarang!

Ditulis pada Artikel | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

Narkotika, Perusak Ekonomi Bangsa

Ary Kamal Firdaus

Narkotika yang termasuk dalam kategori jenis Narkoba merupakan salah satu dari banyak penyebab kerusakan moral dari penerus bangsa yang sedang kita hadapi. Narkotika termasuk ke dalam obat-obatan terlarang jika digunakan tanpa anjuran dokter atau demi kepentingan medis. Ada banyak sekali efek yang ditimbulkan dari obat-obatan ini. Salah satunya adalah rasa nyaman yang  berlebih serta efek ketagihan yang membuat penggunanya ingin terus menggunakanya. Ada banyak faktor  yang menyebabkan seseorang  menggunakan barang haram ini, salah satu faktor utama yang membuat seseorang menggunakanya adalah faktor lingkungan, khususnya pergaulan. Sebagai contoh pada masa remaja, rasa penasaran  hampir selalu manghampiri benak mereka. Jika rasa penasaran seperti itu tidak diarahkan ke hal-hal yang positif, maka besar kemungkinan generasi penerus bangsa ini akan semakin terpuruk di masa yang akan datang. Butuh usaha dan kerjasama kita bersama untuk mengatasi masalah tersebut, baik dari orang tua maupun aparat pemerintah.

Narkotika yang Kian Merebak di Kalangan Remaja

Maraknya penyalahgunaan narkotika tidak hanya berpengaruh pada perkembangan diri seorang individu, tetapi juga sudah berpengaruh sangat signifikan pada sektor ekonomi negara. Estimasi Kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan meningkat menjadi 57 triliun rupiah pada 2013. Angka itu termasuk kerugian biaya individual dan biaya sosial. Berdasarkan data yang dimiliki Badan Narkotika Nasional, kerugian yang ditimbulkan akibat peredaran narkoba pada 2008 mencapai 32,5 triliun rupiah. Jika kita menilik sedikit kebelakang, estimasi kerugian biaya ekonomi akibat Narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37 % dibandingkan 2004, dengan total kerugian biaya sekitar Rp 32,5 triliun (2008).

Sungguh memprihatinkan memang, di saat bangsa ini sedang membutuhkan para pemuda penerus bangsa, para pemuda tersebut malah lebih sibuk mengkonsumsi Narkotika yang nantinya akan merusak masa depan mereka. Kembali lagi, kita semua di hadapkan pada tantangan zaman dimana para generasi muda kita, yang sangat diharapkan menjadi penerus-penerus tonggak perjuangan pendahulunya, menjadi taruhannya. Mau tidak mau kita harus menyelamatkan generasi muda kita dari ancaman global, seperti halnya narkotika. Butuh kerjasama dari berbagai pihak untuk menyelamatkan generasi muda kita. Kita tumbuhkan kepercayaan diri dari para generasi muda kita. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan mengenalkan ilmu agama sedini mungkin. Mengapa disini ilmu agama sangat penting? Karena pada dasarnya agama merupakan petunjuk hidup sekaligus petunjuk sosial yang sangat berguna bagi kita. Jika hal tersebut bisa dilakukan sejak dini, bukan tidak mungkin para pengguna narkotika di bangsa ini, khususnya para remaja akan semakin berkurang. Mari kita tumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri para pemuda kita. Pada dasarnya kepercayaan diri itu akan muncul jika mereka sadar bahwa narkotika tidak akan pernah bisa memberikan masa depan yang cerah bagi mereka. Hal tersebut adalah tugas kita bersama, bukan hanya aparat penegak hukum saja, tapi juga seluruh elemen masyarakat harus pula ikut dalam misi besar ini. Pencegahan bisa kita lakukan mulai  dari diri kita sendiri. SO, SAY NO TO DRUGS!

Ditulis pada Artikel | Di-tag , , , , | Tinggalkan Komentar

Berkaca Pada Korban Bencana Alam Letusan Gunung Merapi

Lisa Katherina

“Merapi tidak meletus, tetapi hanya untuk melakukan tugasnya untuk membersihkan.” Itu adalah salah satu ungkapan Mbah Maridjan yang diutarakan beliau ketika merapi mengeluarkan awan panas dan lahar api pada 26 November yang lalu. Kata membersihkan dalam kalimat tersebut dapat diartikan menjadi dua hal, pertama membersihkan tanah yang dilalui oleh lahar panas merapi, dan kedua, membersihkan hati manusia sehingga menjadi semakin peka dan peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Mbah Maridjan

Beberapa waktu lalu kami para penghuni Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM mencoba untuk berkunjung ke Kinahrejo, desa dimana Mbah Maridjan pernah tinggal. Kami sengaja mengunjungi desa tersebut untuk melihat bagaimana kondisi dan situasi masyarakat desa korban merapi, dalam masa recovery ini.

Ketika kami sampai di desa Kinahrejo, kami sempat dikejutkan oleh suasana hiruk pikuk Kinahrejo oleh para wisatawan. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang berkunjung di desa Kinahrejo. Kami sangat menikmati suasana pegunungan pagi itu. Keramaian desa membuat kami semakin ingin menjelajahi indahnya Kinahrejo. Kamipun mulai mendaki untuk melihat puing-puing rumah Mbah Maridjan. Ketika kami mendaki kami sempat bercengkerama dengan para penduduk Kinahrejo dari berbagai profesi.

Kunjungan ke Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman

Banyak hal yang dapat kami peroleh dari hasil Tanya jawab yang bersifat santai tersebut, karena tanpa kami Tanya, penduduk Kinahrejo yang sangat ramah mulai bercerita kepada kami tentang hidup mereka pasca meletusnya Merapi. Berbagai macam manusia yang kami temui dengan berbagai kisah hidup mereka benar-benar menjadi inspirasi bagi kami. Bagaimana mereka memandang hidup merupakan suatu cermin besar bagi kami dalam melihat arti hidup yang sesungguhnya.

Ketika kami berdialog dengan para pedagang kaki lima yang ada di sekitaran area menuju tempat Mbah Maridjan pernah tinggal, pedagang tersebut langsung bercerita dan berkeluh kesah mengenai hidupnya sebelum dan setelah bencana merapi. Pedagang tersebut memiliki 7 anak dan dulu beliau bekerja sebagai petani dan peternak sapi perah. Namun ketika merapi meletus, semua harta baik rumah, barang berharga maupun sapi ternakan beliau habis terkena awan panas. Sungguh, itu merupakan cobaan yang berat. Bahkan ada seorang teman beliau yang mengalami nasib serupa, tidak sanggup menghadapi cobaan tersebut dan menjadi depresi. Namun pedagang yang kami temui tersebut tetap berusaha untuk kuat dan melanjutkan hidup. Sekarang beliau tinggal di shelter bersama suami dan anaknya. Beliau berkata bahwa semua adalah milik Allah SWT, dan hidupnya telah berpasrah pada Tuhan. Walaupun semua hartanya habis, tetapi beliau bersyukur karena sekeluarga dapat selamat dari kejaran awan panas kala itu. Beliau juga sangat berterima kasih atas bantuan baik dari pemerintah maupun dari para dermawan yang telah membantu korban Merapi.

Pedagang Kaki Lima di Merapi

Selain berdialog dengan pedagang kaki lima, kami juga bercengkrama dengan pedagang jadah tempe dan beliau sempat bercerita tentang bantuan dari pemerintah yang disalahgunakan oleh orang yang diserahi tanggung jawab untuk membaginya. Beberapa waktu setelah kejadian meletusnya Merapi, pemerintah telah memberikan bantuan beras dan dititipkan di seseorang yang dipercaya untuk membagi bantuan beras tersebut. Namun kenyataannya beras tersebut malah dijual kepada warga sekitar. Sungguh miris memang, di tengah suatu bencana, masih ada pula orang yang berusaha mengambil kesempatan untuk mendapatkan untuk bagi dirinya sendiri tanpa melihat penderitaan warga sekitarnya.

Pedagang Jadah Tempe Merapi

Setelah sempat berjalan sebentar, kami juga berdialog dengan para relawan di Kinahrejo. Mereka bercerita bahwa mereka menjadi relawan dengan tujuan membantu dengan ikhlas dan tanpa mendapatkan bayaran. Bahkan salah satu diantara para relawan ada yang sejak kecil bercita-cita menjadi relawan untuk membantu orang yang membutuhkan. Benar-benar suatu tindakan yang amat mulia dan patut diteladani. Beginilah seharusnya orang Indonesia, di tengah banyaknya bencana yang terjadi, harusnya rasa saling memiliki dan rasa tenggang rasa mulai muncul dan menberikan dorongan bagi kita untuk menolong orang yang lebih memerlukan bantuan, bukanya malah mencari untung sendiri.

Kami juga sempat bertemu dengan salah satu wisatawan asing yang sedang kesulitan berkomunikasi dengan pedagang sekitar. Kamipun mecoba untuk berdialog dengan wisatawati tersebut. Dalam perbincangan kami, beliau mengungkapkan keterkejutannya melihat apa yang terjadi pada Desa Kinahrejo. Karena saat Merapi meletus beliu tengah berada pada tempat yang tidak bisa mengakses informasi secara cepat. Beliau sangat kagum dengan ketabahan dan semangat juang warga Kinahrejo, dan beliau juga sangat bersimpati dengan apa yang terjadi di Kinahrejo.

Bersama Seorang Wisatawan Asing yang Sedang Berdialog dengan Seorang Pedagang

Perjalanan di Kinahrejo itu, benar-benar membuka mata kami tentang bagaimana warga Kinahrejo begitu tegar menghadapi hidup mereka yang penuh cobaan. Bagaimana dengan kita? Sedangkan kita sendiri sering mengeluh dan kurang bersyukur begitu kita dihadapkan pada sedikit cobaan yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan warga Kinahrejo. Semoga dengan membaca artikel ini dan mengerti falsafah hidup warga Kinahrejo yang selalu bersyukur menghadapi segala cobaan, kita semakin dikuatkan untuk hidup lebih baik dan lebih mendekatkan diri padaNya. Karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Suatu keikhlasan dan ketabahan dalam menerima musibah akan semakin mendekatkan kita pada karyaNya yang Maha Agung. Suatu pelajaran bagi kita, untuk lebih menghargai hidup bukan hanya dari segi materi, tetapi dari bagaimana berbagi dengan sesama. Andaikan saja kita yang mendapat musibah semacam itu, akankan kita setegar mereka? Ataukah kita hanya bisa menangisi keadaan? Suatu musibah, suatu kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Namun itulah saat kita semua harus mulai introspeksi diri tentang keterbatasan kita sebagai manusia. Disinilah hati kemanusiaan kita mulai terketuk untuk memberikan diri bagi orang lain.

Ditulis pada Kegiatan Sosial, Kunjungan | Di-tag , , , , | Tinggalkan Komentar

Introduksi : Profil Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM

Dimas Wirawan Wicaksono

Departemen Sosial Masyarakat (Sosmas) merupakan salah satu departemen yang ada di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UGM. Menurut Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) Keluarga Mahasiswa (KM) FK UGM, Departemen Sosmas bergerak dalam hal-hal sebagai berikut :

  1. Mewujudkan mahasiswa yang mampu berperan aktif dan berwawasan luas dalam hal pengabdian masyarakat
  2. Menjalin hubungan baik dengan masyarakat.
  3. Menjadi tempat penanaman nilai – nilai sosial secara internal
  4. Menyebarkan nilai-nilai sosial tersebut kepada mahasiswa FK UGM dalam rangka meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap isu-isu sosial

Kunjungan ke Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DIY

Berdasarkan analisis yang dilakukan Departemen Sosmas di awal kepengurusan, serta mempertimbangkan berbagai macam hal, untuk tahun kepengurusan 2011/2012, Departemen Sosmas lebih mengedepankan pembagian serta penanaman nilai sosial kemasyarakatan, baik secara internal departemen yang bersifat mendidik, ataupun secara eksternal departemen, tanpa mengesampingkan kegiatan sosialnya. Hal ini tercantum dalam Visi Departemen Sosmas yakni menjadi sebuah lembaga pendidik yang menanamkan nilai-nilai pengabdian dan kepedulian yang dikemas dalam nilai-nilai sosial yang tertuang dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatannya.

Pertama, mengapa lembaga pendidik? Karena kami percaya, setiap orangnya, terutama staff kami adalah calon-calon pemimpin di masa depan nanti, calon-calon tenaga kesehatan yang tentunya tidak pernah lepas dari aspek kemanusiaan, karena kemanusiaan adalah landasan ataupun alasan mengapa tenaga kesehatan itu ada (tenaga kesehatan ada untuk menolong orang lain). Seperti yang kita tahu bahwa kebanyakan dari kita masuk dalam kategori umur remaja akhir, dimana menurut perkembangan psikologis merupakan umur yang idealis. Idealis disini merupakan hasil dari pemupukan nilai-nilai, bukan tiba-tiba saja ada. Oleh karena itu, kami merasa perlunya menanamkan nilai-nilai, terutama nilai-nilai kepedulian dan pengabdian, yang kami kemas dalam nilai-nilai sosial, untuk membentuk suatu karakter ataupun seseorang yang memiliki sifat idealis yang tinggi, dalam konteks ini idealismenya adalah untuk membantu, peduli, serta mengabdi terhadap sesama. Selain itu, kami percaya, jika orang tersebut sudah memiliki nilai-nilai sosial, sudah tertancapkan nilai-nilai tersebut pada diri mereka, maka kegiatan sosial pun akan selalu terencana pada pikiran mereka, dan setiap kegaitan sosial yang dilakukan akan dijalankan dengan ikhlas. Jadi, dengan adanya nilai sosial dalam diri seseorang, maka pasti akan ada kegiatan sosial juga yang tercetuskan dari orang tersebut.

Kedua, nilai-nilai sosial tersebut dapat mereka ambil dari setiap kegiatan sosial kemasyarakatan yang nantinya akan diadakan oleh Departemen Sosmas, baik yang formal ataupun informal, baik yang berupa proker atau hanya training, dll. Dari asas tersebut, pada akhirnya kami memiliki dua program kerja, yakni Bakti Sosial Nasional (Baksosnas) : ISMKI Charity Camp, dan Pilot Project Desa Binaan KMFK : Desa Srimartani. Mengapa hanya dua? Kalo mau nilainya bisa ditanamkan, kenapa hanya diberi kesempatan untuk melakukan dua proker sosial? Hal ini memiliki beberapa alasan, yaitu : Pertama, seperti yang kita tahu bahwa proker sosial setiap lembaga di KMFK sudah sangat banyak, kami dari sosmas tidak ingin menambah daftar panjang kegiatan sosial tersebut, biarlah dari setiap lembaga nanti yang membawa nama fk ugm untuk bidang sosial. Kedua, kami percaya bahwa doing something big even it’s just a few in number is more important than doing something small but many in numbers. Maksudnya adalah kami yakin bahwa meskipun proker kami sedikit, namun proker tersebut memberikan dampak yang sangat besar, baik bagi BEM, FK UGM, ataupun untuk KMFK. Ketiga, kami berpikir, bahwa menjadi panitia akan mendapatkan sedikit nilai dibandingkan menjadi peserta, hal ini tentunya akan menghambat tujuan kami dalam menanamkan nilai kepada orang-orang, terutama staff kami. Oleh karena itu, kami benar-benar ingin mengusahakan agar staff kami tidak dibebani begitu banyak proker, namun mereka tetap melakukan kegiatan sosial di luar proker, dimana mereka menjadi pesertanya, sehingga mereka bisa meresapi nilai-nilai dari kegiatan sosial tersebut.

Mungkin pertanyaan utamanya adalah apa saja yang akan kami lakukan selama setahun ini? Pertama dari lingkup kerja kami terlebih dahulu. Sesuai dengan visi dan misi Presiden Mahasiswa FK UGM, lingkup kerja Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM adalah internal dan eksternal FK UGM. Internal disini berarti untuk seluruh KMFK dalam artian disini adalah mahasiswa FK itu sendiri, dan eksternal disini berarti untuk masyarakat luas. Dari visi Departemen Sosmas tersebut, serta dari lingkup kerjanya, dapat ditarik sebuah kesimpulan berupa misi sebagai berikut :

  • Membuat media propaganda mengenai isu-isu sosial
  • Mempersiapkan kegiatan-kegiatan sosial yang bisa diikuti oleh mahasiswa FK UGM
  • Mempersiapkan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan di Desa Binaan KMFK, Desa Srimartani

Penjelasannya yakni sebagai berikut :

  • Dalam survey yang sebelumnya kami pernah lakukan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mahasiswa FK UGM peduli dan ingin berkontribusi secara langsung kepada masyarakat, dan beberapa mahasiswa FK UGM peduli terhadap isu sosial, namun tidak peka terhadap isu sosial tersebut, oleh karena itu, peran Departemen Sosmas disini adalah membagikan nilai-nilai sosial, yang berisi pesan mengenai nilai kepedulian dan pengabdian, yang didapatkan dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh Departemen Sosmas. Cara pembagian ini yakni berupa media propaganda, baik berupa tulisan, poster, leaflet, ataupun publikasi pada dunia maya. Intinya kami menginginkan agar apa yang kami lakukan, dapat orang lain ketahui dan pesan dari setiap kegiatan sosial yang kami lakukan dapat tersampaikan oleh mahasiswa FK UGM, sehingga mereka bisa mejadi lebih peka ataupun tahu terhadap isu sosial ataupun permasalahan-permasalahan menyangkut bidang sosial kemasyarakatan yang ada di sekililing mereka. Supaya mereka sadar bahwa, seperti yang selalu saya sampaikan pada staff saya, bahwa kita hanyalah orang-orang bodoh, yang sudah diberi keberuntungan lebih berupa nasib yang lebih baik dibandingkan orang-orang yang kurang beruntung di luar sana, yang suka menghambur-hamburkan uang sementara orang-orang yang kurang beruntung tersebut bercucuran darah untuk mendapatkan sesuap nasi.
  • Berdasarkan hasil survey yang sama pula, kami pun memutuskan untuk memfasilitasi mahasiswa FK dalam berkontribusi terhadap sesama. Semua program kerja Departemen Sosmas melibatkan mahasiswa FK sepenuhnya. Proker Baksosnas melibatkan mahasiswa FK dalam pengadaan Open Recruitment untuk kepanitiaannya, sedangkan proker Pilot Project melibatkan mahasiswa FK dalam kepesertaannya.
  • Karena tahun ini kami rasa tidak memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pembinaan Desa Binaan KMFK, maka yang bisa kami lakukan yakni melakukan kegiatan persiapan sebagai landasan ke depannya nanti dalam membina Desa Binaan KMFK. Di antaranya tetap membina hubungan yang lebih baik dengan pihak desa dengan melakukan kunjungan serta beberapa kegiatan sosial di sana, serta melakukan sebuah program kerja Pilot Project, dimana dalam proker tersebut, dilakukan sebuah survey yang lebih mendalam lagi, yakni berupa survey lapangan secara langsung ke Desa Binaan tersebut. Hal ini didasarkan pada pernyataan Kepala Bagian Ekbang Desa Srimartani yang mengatakan bahwa data di Desa Srimartani cukup tidak sesuai dengan kenyataannya, mengingat berbedanya indikator-indikator penilaian. Untuk itu, kami berpendapat bahwa mengadakan survey secara langsung juga penting untuk benar-benar mengetahui apa permasalahan mereka, apa potensi mereka, dan kemudian bisa dikaji untuk menemukan solusinya, dimana solusi tersebut kemudian bisa disesuaikan dengan core competence masing-masing lembaga, sehingga pembinaan Desa Binaan KMFK bisa dilakukan secara berkala, oleh semua lembaga KMFK.

Beberapa kegiatan lainnya di luar proker kami semata-mata kami lakukan dalam rangka penanaman nilai baik kepada staff Departemen Sosmas sendiri ataupun nantinya untuk mahasiswa FK melalui penyebaran media propaganda dengan bekerjasama dengan Departemen Media Informasi. Kegiatan lainnya tersebut dapat berupa kegiatan-kegiatan sosial kecil baik yang kami adakan ataupun yang pihak lain adakan, juga berupa kajian mengenai isu sosial masyarakat di sekeliling kita. Kajian disini berbeda dengan Departemen Kajian Strategis yang memang mengkritisi suatu masalah dan mencari solusinya, kajian yang kami lakukan lebih ke arah nilai apa yang kami dapatkan dari isu tersebut dan bagaimana kami menanamkan nilai tersebut pada masing-masing individu. Sebagai contoh kegiatan yang kami lakukan yakni mengunjungi lokasi bencana merapi, dimana disana kami melakukan sedikit wawancara kepada korban yang selamat. Setelah itu, kami berkumpul untuk membahas apa saja yang kami dapatkan dari wawancara tersebut, dan nilai apa saja yang memang bisa kita ambil dan tanamkan bagi setiap individu. Kemudian, setelah penanaman nilai setiap individu telah dilakukan, kami akan mempersiapkan sebuah media propaganda untuk membagikan nilai tersebut kepada mahasiswa FK.

Kegiatan di Panti Asuhan Atap Langit

Departemen Sosmas dipimpin oleh seorang menteri dengan dibantu oleh dua orang deputi, dan 10 orang staff. Meskipun memang terdapat alur koordinasi dsb, kami hanya menganggap itu sebagai suatu formalitas saja, karena bagi kami, terutama saya sebagai seorang menteri, kita semua disini dalam kedudukan yang sama, tidak ada yang lebih baik, tidak ada yang lebih buruk, tidak ada yang lebih hebat, dsb. Kami disini masih sama-sama belajar, masih butuh banyak pengalaman, dsb. Perbedaan yang ada hanyalah yang lebih dahulu kuliah disini, telah mengalami beberapa pengalaman lebih banyak dibandingkan yang baru kuliah disini. Kami juga berharap di Departemen Sosmas, tidak ada lagi hubungan kerja, melainkan hanyalah hubungan keluarga di antara kita.

Personel Departemen Sosmas BEM FK UGM untuk kepengurusan 2011/2012, yakni :

Dimas Wirawan Wicaksono (Dimas), Pendidikan Dokter 2009

Anindira Rustandi (Dira), Pendidikan Dokter Internasional 2009

Nurmala Hanum (Hanum), Gizi Kesehatan 2009

Ado Pranawalingga (Ado), Pendidikan Dokter 2010

Ary Kamal Firdaus (Ary), Pendidikan Dokter 2010

Dini Kurniadita Nurwati (Dini), Gizi Kesehatan 2010

Firmansyah Adi Praditya (Firman), Pendidikan Dokter 2010


Lisa Katherina (Lisa), Gizi Kesehatan 2010

Maria Oktavia Angelina Kilis (Maria), Gizi Kesehatan 2010

Purnawibawa Rahmat Sentosa (Purna), Ilmu Keperawatan 2010

Putri Claudya Octaviani (Claudya), Pendidikan Dokter 2010

Riadiani Nindya Drupadi (Ria), Pendidikan Dokter 2010

Yehezkiel Nathanael Setiadi (Kiel), Pendidikan Dokter 2010

Kami berharap untuk ke depannya nanti, kami bisa menjadi orang yang lebih baik, orang yang peduli dan bisa mengabdi kepada masyarakat di sekitar kita.

Sosmas Family Outing


Ditulis pada Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM | Di-tag , , , , , | Tinggalkan Komentar