Maria Oktavia Angelina Kilis
Sabtu, 25 Juni 2011, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM mengadakan sebuah kegiatan dimana setiap orang nantinya akan berkeliling dan berkomunikasi dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang berbeda yang berada di sekitar lingkungan kampus FK UGM. Setiap orang akan dibagikan kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang dan 1 kelompok terdiri dari 3 orang. Kemudian tiap kelompok akan dibagikan kepada sasaran yang telah ditentukan. Beberapa sasaran baksos kali ini yaitu tukang becak, pengemis, tukang sampah, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan pengamen. Namun karena sulitnya mencari orang dengan profesi tersebut di sekitar lingkungan kampus, maka beberapa kelompok mengganti sasarannya menjadi tukang sapu dan tukang becak. Setiap kelompok nantinya akan diberi uang yang dapat diberikan kepada sasaran kegiatannya dalam bentuk apapun, baik berupa uang tunai, makanan, dll. Kemudian kami akan berkumpul kembali untuk berbagi cerita yang didapat oleh tiap kelompok diikuti dengan makan bersama.
Setiap kelompok membawakan ceritanya masing-masing setelah berpencar dan berkomunikasi dengan sasaran kegiatan. Setiap orang yang kami wawancarai memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda, dengan masalah yang dihadapi juga sangat berbeda.
Sebagai contoh kelompok Ria dan Purna yang berkomunikasi dengan tukang becak. Dengan menyamar sebagai seorang pendatang yang ingin ditunjukkan daerah sekitar UGM, mereka menaiki becak dan berkomunikasi dengan pengendaranya. Meskipun menarik becak melelahkan, namun bapak tukang becak tersebut rela bercerita tentang bangunan yang mereka lewati. Tidak hanya “saya hanya narik becak, saya nggak mau njelasin. Pokoknya kalau sampai tujuan, pekerjaanku dah selesai, trus aku dapet duit”. Selain itu, bapak tukang becak tersebut tetap menjalankan kewajibannya pada Tuhan dengan melakukan puasa, shalat jumat, mengaji, dll. Bapak tukang becak juga seorang yang bekerja dengan keras, semenjak SMP, beliau sudah mulai bekerja untuk menjual buah-buahan di Jakarta. Begitu kegiatan sehari-hari bapak tukang becak tersebut, beliau hanya pulang kira-kira 10 hari sekali, dengan menggunakan angkot dan disambung dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
Dimas dan Lisa mendapatkan kisah yang berbeda dari dua orang tukang parkir yang mereka temui. Lisa menemui seorang tukang parkir di sebuah toko di sebelah sebuah pasar swalayan. Beliau bernama Pak Yohanes. Pak Yohanes adalah seorang lelaki tua yang masih bersemangat dengan apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Usia lanjut bukan menjadi alasan bagi beliau untuk bermalas-malasan di rumah. Dengan ketulusan hatinya berhasil merebut simpati masyarakat dan mendatangkan rejeki tersendiri bagi Pak Yohanes. Lain ceritanya dengan Dimas, yang bertemu dengan seorang tukang parkir di sebuah warung lotek. Banyak sekali asam manis kehidupan yang dialami oleh bapak tersebut, mulai dari kehilangan tangan kanannya karena suatu kecelakaan, tidak melanjutkan sekolah, kehilangan istri yang disayanginya karena ditabrak oleh seseorang, hingga sekarang menjadi seorang tukang parkir yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Ketika Dimas bertanya apakah tidak capek dengan begini saja, beliau berkata bahwa meskipun hidupnya seperti itu, yasudah jalani saja, dan tetap semangat dalam menjalaninya. Daripada dirinya hanya berdiam diri saja dan mengeluh disana sini, hal tersebut sama sekali tidak mengubah keadaan.
Tukang Parkir yang Sedang Melakukan Pekerjaannya
Contoh yang lainnya adalah kelompok Ado dan Hanum yang berkesempatan untuk berbincang bersama tukang penjual bunga, tepatnya nenek penjual bunga. Nenek ini sudah berjualan bunga kurang lebih selama 30 tahun, dan selain berjualan bunga nenek juga menjual aneka nasi rames. Untuk pendapatan perhari nenek tidak menentu, nasi rames yang dijual juga belum tentu mendapatkan untung karena nenek hanya menjual nasi rames dengan menggunakan tenda kecil tanpa bertuliskan apapun dan tempatnya juga kurang terlihat oleh masyarakat. Jadi, tidak jarang nenek mendapatkan kerugian dari menjual nasi rames ataupun menjual bunga. Namun dengan keadaan yang demikian, nenek tersebut tidak pernah mengeluh dan tidak mudah menyerah. Ini terbukti dengan konsistensi nenek dalam menjual bunga dan nasi rames walaupun nenek tahu bahwa beliau akan rugi tapi nenek tetap menjualnya. Semangat nenek yang luar biasa dapat menjadi kebanggaan bagi kita semua dengan usia yang sudah tua, badan yang sudah membungkuk, bahkan untuk berjalan saja sudah tertatih-tatih dapat memberikan pelajaran, yaitu sebuah kesederhanaan, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa.
Penjual Bunga dengan Pendapatannya yang Tidak Menentu
Dini dan Dira mendapat bagian dalam mewawancarai tukang sapu. Beliau bernama Pak Heri. Pak Heri mendapat tugas untuk membersihkan got dan pekarangan Jalan Olahraga sampai perempatan Jalan Sagan. Terkadang, Pak Heri merasa masyarakat kurang sadar tentang kebersihan dan masih banyak masyarakat yang menganggap rendah profesi Pak Heri. Pak Heri adalah seorang bapak yang selalu berpikir positif, menerima apa adanya yang Tuhan sudah berikan kepadanya. Beliau tetap bersyukur sebagai tukang sapu dan berharap bahwa profesinya dapat membantu masyarakat. Yang menarik dari seorang Pak Heri adalah di dalam keterbatasannya, Pak Heri masih dapat berbagi dengan orang lain. Pak Heri mengangkat 2 orang anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan membiayai mereka selayaknya anak sendiri. Pak Heri selalu bersyukur, beliau berkata bahwa bila kehidupannya dipikirkan secara logika, dengan gaji seorang tukang sapu tidak mungkin dapat menghidupi keluarga dan anak-anak angkatnya. Namun, karena pertolongan Tuhan segala kebutuhan pak Heri selalu dicukupi. Kita harus belajar dari Pak Heri, belajar menghargai orang lain dengan profesi apapun.
Claudia, Firman dan Maria mendapat bagian untuk bercerita dengan pengemis. Namun, Claudia dan Firman memiliki cerita yang berbeda dengan Maria. Claudia dan Firman bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang mengamen dengan seorang anaknya yang masih kecil yang bernama Viola. Saat bercerita wanita tersebut mengaku bahwa beliau terpaksa mengamen untuk dapat memasukkan Viola ke TK (Taman Kanak-kanak). Beliau juga bercerita bahwa selain mengamen beliau juga mencari uang dengan mencuci pakaian tetangga-tetangganya. Beliau pernah mengaku waktu Viola masih bayi, beliau pernah dicemooh oleh salah seorang penumpang bus bahwa Viola hanya anak pinjaman agar beliau dapat belas kasihan. Padahal, Viola benar-benar anaknya. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya saja. Selain itu, semangat beliau yang sangat tinggi dalam menyekolahkan anaknya walaupun beliau hanya berprofesi sebagai pengamen dan pencuci juga patut kita contoh. Di saat wanita lain yang bernasib sama dengannya sibuk untuk membuat anaknya bekerja, beliau malah bersusah payah membuat anaknya agar dapat sekolah dengan layak agar nantinya kehidupan anaknya bisa lebih baik. Berbeda dengan kisah Maria yang bercerita dengan seorang anak yang bekerja mengelap motor atau mobil di jalanan. Tadinya anak itu berasal dari Kalimantan dan sengaja dititipkan kepada neneknya untuk sekolah. Namun, neneknya malah memaksa cucunya tersebut untuk mengemis tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hal yang sangat dikagumi dari anak tersebut adalah sikap anak tersebut yang tetap tegar dan tidak pernah mengeluh. Mungkin dia ingin seperti anak-anak lainnya diwaktu kosong dapat bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi, dia harus berdiri di pinggir jalan menunggu lampu merah, berpanas-panasan untuk mencari uang, belum lagi apabila uang yang diperoleh tidak mencapai target anak tersebut pasti dimarahi oleh neneknya, tidak jarang juga anak tersebut mendapat pukulan dan cacian. Dari kejadian ini anak tersebut dapat bercerita bahwa semuanya dilakukan untuk mendapatkan uang, untuk dapat sekolah dan makan. Dengan umur yang masih kecil anak tersebut dapat terlihat dewasa dalam mengahadapi kehidupannya.
Seorang Anak yang Sedang Mengemis
Untuk yang terakhir adalah kisah dari Ari dan Kiel yang mendapat kesempatan untuk dapat bercerita dengan kakek tukang becak. Kakek tukang becak tersebut sudah mengayuh becaknya selama 50 tahun. Waktu 50 tahun bukanlah waktu yang singkat, jadi kita dapat bayangkan bagaimana beliau sudah memiliki banyak pengalaman dalam profesinya. Waktu 50 tahun tidak membuat usaha beliau padam, beliau masih terus berusaha dan bekerja sekuat tenaga dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki. Sungguh suatu contoh kegigihan hidup yang harus bisa kita teladani dari beliau. Berapapun penghasilan yang beliau peroleh, beliau tetap bersyukur. Dari beliau kita juga dapat belajar bahwa usia bukanlah halangan bagi kita untuk dapat terus bekerja dan berusaha.
Kisah-kisah diatas, mulai dari kisah tukang becak, tukang parkir, pengemis, penjual bunga, dan tukang sapu menggambarkan kisah yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Namun, dari sini kita dapat mengetahui bahwa setiap pribadi manusia memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, kesulitan yang berbeda, rezeki yang berbeda, pandangan hidup yang berbeda dan sebagainya. Dan dari segala perbedaan ini sangat diharapkan masing-masing pribadi dapat saling menguatkan dan mendukung pribadi yang lain, dalam artian saling menghargai dan menghormati sesama. Dari kegiatan kali ini, diharapkan kita dapat belajar dari orang lain terutama dari orang-orang yang berada di dekat kita yang terkadang sering kita abaikan, belajar bahwa bakti sosial bukan hanya memberi dengan materi, bukan hanya kita membantu mereka tapi kita juga dapat terbantu dengan segala kehidupan mereka yang dapat memberikan sebuah pelajaran yang berharga bagi kita semua. Mengetahui bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Mari belajar mengerti dam memahami orang lain, mulai dari orang-orang yang berada di sekitar kita.









































