Sosmas’ Family Outing : 3 Hari Untuk Selamanya

Dimas Wirawan Wicaksono

Lelahnya setelah menjalankan sebuah program kerja pertama tidak membuat kami, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM, untuk berhenti mengabdi untuk masyarakat sekitar kita. Sehari setelah program kerja tersebut, dimulai tanggal 20 Juli 2011, kami mengadakan sebuah kegiatan selama tiga hari di beberapa tempat seperti di Taman Benteng Vrederburg, Desa Srimartani, dan Pantai Sundak. Namun, kegiatan utama yang akan diutarakan dalam tulisan ini adalah kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Srimartani.

Selama satu hari dua malam kami mengadakan kegiatan di Desa Srimartani, tepatnya di Dukuh Bulusari. Sebenarnya tidak ada yang baru dari acara yang kami buat, kami hanya menginap di rumah warga, dan mengadakan bakti sosial seperti biasa, yakni hanya pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, bazaar pakaian, dan pembagian sembako gratis, serta ditutup dengan menonton film bersama. Namun ternyata, banyak sekali ilmu yang bisa kami petik dari pengalaman kami selama satu hari dua malam tersebut.

Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis

Bazaar Baju Murah

Setelah tiba di Dukuh Bulusari, setiap anggota kami bagi-bagi ke dalam beberapa rumah warga, kebanyakan semua di rumah ketua RT, kecuali RT 1 yang tidak tinggal di rumah ketua RT nya dikarenakan ibu RT hanya seorang ibu rumah tangga dan bapak RT sebagai buruh bangunan yang jelas tidak bisa diikuti oleh kedua orang yang tinggal disana. Sebelumnya, saya ingin menginformasikan bahwa Dukuh Bulusari memiliki total enam RT. Anggota kami berjumlah 13 orang, ditambah Rio sebagai perwakilan dari Departemen PSDM, total menjadi 14 orang. Kami membagi setiap orangnya di setiap RT tersebut ditambah dengan Dimas dan Dira yang menginap di rumah Kepala Dukuh Bulusari.

Cerita pertama datang dari Ria dan Dini yang menginap di rumah pasangan Mbah Mujab. Mbah Mujab merupakan pasangan yang dikenal cukup religius, hal ini terbukti dengan Mbah Mujab kakung (laki-laki) yang memang dikenal sebagai seorang kyai yang selalu memipin pembacaan doa-doa. Namun, meskipun dikenal sebagai pasangan yang religius, bukan berarti mereka tidak mementingkan kehidupan dunia. Mereka bekerja dengan beternak sapi sekaligus bercocok tanam. Bisa dibilang kedua orang ini sangatlah seimbang antara kehidupan dunia dan akhiratnya. Sekarang ini Mbah Mujab sedang mengalami kesulitan dalam beternak karena kalah saing dengan sapi-sapi impor yang lebih diminati dibandingkan dengan sapi lokal. Hal ini membuat harga sapi yang beliau rawat menjadi turun. Mbah Mujab putri biasa pergi ke sawah setiap harinya untuk merawat tanaman-tanaman yang beliau tanam. Jarak dari sawah ke rumah beliau sangatlah jauh, selain itu, pekerjaan yang beliau lakukan tidaklah dapat dibilang mudah. Beliau menimba dua buah pembawa air dari sungai ke sawah dengan medan cukup terjal. Mungkin memang ini bukanlah suatu pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang yang sudah berusia lanjut, namun percaya atau tidak, itulah rutinitas Mbah Mujab putri. Inilah yang membuat kita seharusnya malu, bahwa seorang yang sudah berusia lanjut saja bisa melakukan pekerjaan sulit tanpa mengeluh sedikitpun. Beda sekali dengan kita yang dipenuhi dengan teknologi yang memudahkan kita, namun sayangnya kita masih saja mengeluh. Seharusnya kita bisa mencontoh seorang Mbah Mujab dalam menjalani hidup ini, banyak bersyukur dengan keadaan kita saat ini, tidak pernah putus asa ketika mendapatkan banyak cobaan, serta tidak lupa berdoa kepada Tuhan YME dalam mencapai tujuan.

Bersama Mbah Mujab Putri

Di RT 2, tinggal Hanum dan Claudya dengan ceritanya sendiri. Mereka tinggal di rumah Bapak Tugiran, Ketua RT 2. Seperti yang lainnya, mereka berdua diberikan keramahan yang sangat luar biasa dari keluarga Bapak Tugiran. Berbagai macam fasilitas diberikan semaksimal mungkin meskipun hanya seadanya. Makan disiapkan, mandi mudah tidak perlu memompa air dan sebagainya, tidur juga di tempat yang layak dan bagus. Keluarga Bapak Tugiran benar-benar menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Bahkan Mbah Pawiro, mertua Bapak Tugiran, selalu memanggil mereka dengan sebutan Putu Wedok yang artinya adalah cucu perempuan. Padahal mereka hanyalah tamu, yang bahkan tidak pernah dikenal sebelumnya, namun beliau sudah menganggap mereka seperti cucu sendiri. Kegiatan yang dilakukan oleh Hanum dan Claudya adalah membantu keluarga kakak Pak Tugiran untuk berjualan pecel. Setelah membantu persiapan menjual pecel, mereka pun berjalan ke pinggir jalan untuk menjual pecelnya. Keluarga kakak Pak Tugiran mengatakan bahwa hidup mereka memang benar-benar sangat bergantung dari berjualan pecel tersebut. Makan atau tidaknya mereka hari itu, ditentukan dari habis atau tidak dagangannya. Jika memang dagangannya habis, maka mereka bisa membeli kebutuhan sehari-hari. Kalau nasib kurang bagus, tidak banyak yang terjual, uang juga tidak banyak.  Namun mereka tidak pernah menganggap pusing hal tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Kalaupun tidak banyak uang yang mereka dapat hari tersebut, ya kebutuhan yang diperlukan dicukup-cukupkan. Minimal untuk makan saja dulu, mereka tidak muluk-muluk untuk memikirkan kebutuhan sekunder lainnya. Apalagi beberapa harus mereka tabung untuk sekolah anaknya. Kesederhanaan inilah yang patut diacungi jempol dari mereka. Mbah Pawiro juga pernah berkata (telah diterjemahkan) “Hidup itu buat apa stress. Lebih enak kita nunduk (melihat ke bawah) daripada ndangak (melihat ke atas). Ndangak tuh capek Ngger, kalo nunduk kan nggak capek. Saya itu orang miskin, hidup ga perlu mikir susah-susah. Hari ini ada duit, ya buat makan hari ini, wong duitnya cuma cukup buat makan hari ini. Buat makan besok, ya mikirnya besok aja, gausah dipikirin dulu. Gitu aja kalo saya. Hidup gausah dipikir stress Ngger.”. Dari kalimat tersebut, yang dimaksudkan beliau adalah sebagai orang tidak perlu terus menerus lihat ke atas, dalam arti selalu melihat golongan yang lebih hebat dari kita. Tidak usah selalu muluk-muluk menginginkan sesuatu. Hal itu hanya akan membuat kita capek dan stress. Ada kalanya kita melihat golongan yang ada di bawah kita. Dengan begitu kita juga dapat menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita punya. Lagipula justru golongan itu lah yang nantinya akan banyak memberikan pelajaran dan nilai-nilai kepada kita.

Membantu Berjualan Pecel

Kiel dan Firman tinggal di RT 3 dan memiliki kisahnya sendiri. Mereka tinggal di rumah ketua RT 3, Bapak Sugeng. Sama seperti yang lainnya, lagi-lagi budaya merajakan tamu kembali mereka rasakan. Bahkan karena mereka tidur di salah satu kamar di rumah tersebut, Bapak Sugeng sampai harus tidur di ruang tamu. Keesokan harinya mereka membantu seorang tukang kayu mengamplas dan mengecat kayunya. Meskipun memang pekerjaan mereka tidak bisa dibilang memuaskan, namun sikap tukang kayu tersebut masih sangatlah baik kepada mereka. Satu hal yang dapat diambil adalah hidup dalam keterbatasan tidak membuat seseorang untuk berhenti berkreasi. Usaha keras diiringi dengan doa selalu dilakukan meskipun hidup dipenuhi ketidakpastian. Meskipun begitu, menolong sesama juga menjadi satu hal yang penting, meskipun seburuk apapun kondisi kita, berikan yang maksimal dalam menolong sesama.

Membantu Mengamplas Kusen

Maria dan Lisa berkesempatan untuk tinggal bersama di RT 4. Bapak RT di tempat mereka bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu memberi makan sapi, mencari rumput, bercocok tanam di sawah, dan masih banyak lagi. Ketika tinggal disana, mereka membantu dalam beberapa hal, seperti membereskan rumah, memasak, memberi makan sapi, mencuci piring dan pergi ke sawah. Untuk pergi ke sawah, mereka harus melalui jalan setapak nan berliku melewati pegunungan terlebih dahulu. Mereka pergi bersama ibu RT yang membawa sekarung besar pupuk. Sungguh hebat memang membawa sekarung besar pupuk melalui jalan berliku tersebut dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Sesampainya di sawah, ibu RT mulai mencangkul sawahnya, sedangkan Maria dan Lisa memotong pohon pepaya dan mengumpulkan rumput untuk pakan ternak. Setelah itu, mereka pulang ke rumah kembali. Selama mengikuti ibu RT dalam melakukan aktivitasnya, Maria dan Lisa sama sekali tidak pernah melihat ibu RT tersebut mengeluh dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Padahal beliau adalah seorang wanita, namun beliau tetap semangat meskipun harus mendaki bukit lewati lembah untuk ke sawah dengan membawa sekarung pupuk dan melakukan pekerjaan kasar. Selain itu, sama seperti yang lainnya, meskipun Maria dan Lisa adalah orang baru di rumahnya, namun lagi-lagi meskipun dalam kesederhanaannya, keluarga tersebut memberikan fasilitas semaksimal mungkin untuk Maria dan Lisa.

Bermain Bersama Anak Ketua RT 4

Di RT 5, ada Ado dan Ary yang tinggal di rumah ketua RT 5, Bapak Musmal. Bapak Musmal bekerja sebagai seorang buruh bangunan, sedangkan Ibu Musmal bekerja sebagai buruh tani. Lagi-lagi kebaikan hati tuan rumah dalam menjamu tamunya tercermin dalam sikap Bapak dan Ibu Musmal terhadap Ado dan Ary. Sekali lagi, meskipun keadaan Bapak dan Ibu Musmal sangatlah sederhana, namun mereka tetap memberikan pelayanan maksimal kepada tamu-tamunya. Ado dan Ary tidak diizinkan untuk mengikuti kegiatan Bapak dan Ibu Masmul, hal ini disebabkan karena lokasi pekerjaan mereka yang cukup jauh sehingga mereka khawatir kalau Ado dan Ary akan kehabisan waktu. Hebatnya lagi, meskipun lokasi kerja Ibu Musmal jauh, namun beliau naik sepeda ke lokasi tersebut, setiap harinya. Akhirnya Ado dan Ary tinggal di rumah dan membantu ibu Bapak Musmal untuk memotong rumput. Setelah memotong rumput cukup banyak, rumput-rumput tersebut kemudian dikumpulkan dan kemudian dijadikan pakan sapi. Ibu Musmal biasa pulang pukul lima sore, namun karena ada Ado dan Ary, Ibu Musmal sengaja pulang sekitar pukul tiga untuk membelikan mereka makanan. Sungguh suatu sikap yang sangat luar biasa. Ado dan Ary seharusnya adalah orang baru bagi Bapak dan Ibu Musmal, namun sikap mereka sangatlah hangat kepada Ado dan Ary. Dalam kesederhanaan, mereka tetap membuat Ado dan Ary sebisa mungkin nyaman di dalam rumah mereka, semua makanan ringan disediakan, makanan pun disediakan, bahkan tempat tidur yang dapat dibilang lebih nyaman dibandingkan dengan tempat tidur Bapak dan Ibu Musmal juga disediakan.

Mencari Rumput Untuk Pakan Ternak

Kisah di RT 6 diceritakan oleh Purna dan Rio. Tidak jauh berbeda dengan yang lainnya, Purna dan Rio tinggal di rumah Ketua RT 6, mereka diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga bapak ketua RT 6 tersebut, bahkan di kamar tempat mereka tidur sudah disiapkan televisi dan dispenser. Di RT 6, mereka mengikuti kegiatan dua orang warga yang mencari pakan ternak dan mengurus sawah. Untuk mencapai lokasi, mereka harus melewati jalan setapak berliuk-liuk di pegunungan. Sesampainya di lokasi tersebut, mereka langsung membantu memotong rumput dengan menggunakan arit dan memacul area sawah. Pekerjaan tersebut sangatlah tidak mudah, apalagi dilakukan oleh orang yang baru pertama kali melakukan hal tersebut. Alhasil, beberapa kelalaian seperti terkena arit atau tangan sampai melepuh terjadi pada Purna dan Rio. Selama membantu, Purna dan Rio juga sempat mengobrol dengan warga tersebut, dan dari obrolan tersebut, mereka mengetahui bahwa ternyata usaha sesulit tersebut tidak membawakan hasil yang dapat dibilang memuaskan. Dengan bercocok tanam, warga akan mendapatkan hasil berupa sayur-sayuran, namun ternyata sayuran tersebut dihargai rendah, dan sungguh tidak sebanding dengan usaha dalam menanam sayuran tersebut. Meskipun begitu, warga tersebut tentu tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha melakukannya sebaik mungkin. Oleh karena itu, meskipun hidup dengan sangat sederhana, mereka selalu bersyukur akan hidup mereka.

Mencangkul Tanah Sawah

Dimas dan Dira tinggal di rumah Kepala Dukuh Bulusari, Bapak Alex. Kegiatan yang beliau lakukan sebagai seorang Kepala Dukuh Bulusari jelas terkait dengan hal-hal administratif, sedangkan istri beliau lah yang bertugas mencari pakan ternak dan mengurus anak. Awalnya Dimas dan Dira berpikir sebagai seorang kepala dukuh, pastilah hidupnya lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya, atau setidaknya sudah memiliki gaji yang tetap karena sudah masuk pegawai pemerintah. Namun, Pak Alex menyanggah hal tersebut, meskipun beliau memegang jabatan sebagai kepala dukuh, namun beliau bukanlah pegawai negeri, oleh karena itu, beliau pun juga hidup dalam kesederhanaan seperti warga lainnya. Selama Dimas dan Dira tinggal disana, Pak Alex sedang sibuk melakukan pendataan warga Dukuh Bulusari untuk Badan Pusat Statistik. Selain itu, beliau juga sibuk menghadiri pengajian setiap malamnya di setiap RT dan mengkoordinasikan kegiatan di RT tersebut. Pendataan yang dilakukan Pak Alex dapat memberikan penghasilan tambahan bagi beliau. Dan ketika saya menanyakan apakah hal tersebut memang sudah diberikan jatah masing-masing atau tidak, beliau mengatakan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, beliau lah yang harus aktif mencari. Jika beliau tidak melakukan pekerjaan tersebut, pemasukan beliau tidaklah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari beliau. Namun sekali lagi, beliau selalu bersyukur akan apa yang sudah beliau dapatkan. Semua anak beliau sudah bisa bersekolah dan beliau sangat bangga akan hal tersebut. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan di Desa Srimartani masih sangatlah rendah, bagi warga disana, asalkan orang tersebut sudah mampu mencari uang, tidak perlu lagi bersekolah. Selaku kepala dukuh, Pak Alex menerima kami semua dengan hangat di dukuhnya. Beliau sangat ramah dan kegiatan kali ini terlaksana hanya dengan berkoordinasi sebanyak tiga kali dengan beliau.

Banyak sekali pelajaran yang kami ambil dengan berinteraksi secara langsung dengan warga di Dukuh Bulusari. Sikap mereka yang memperlakukan tamu sebagai seorang raja sangat menyentuh hati kami. Padahal mereka juga sangat sederhana hidupnya, namun mereka masih bisa memberikan fasilitas yang lebih dari cukup bagi kami yang bahkan tidak mengenal mereka sama sekali sebelumnya. Warga Dukuh Bulusari juga sangatlah ramah dan baik hati, ketika Dimas dan Dira berkeliling melihat keadaan yang lainnya, Bapak Ketua RT 6 dengan senang hati mengantarkan mereka berkeliling untuk menunjukkan jalan. Selain itu, seorang anak yang Ria dan Dini tidak kenal sama sekali tiba-tiba saja muncul ketika mereka menuju ke rumah Mbah Mujab, dan anak tersebut membersihkan jalan untuk mereka dari dedaunan. Padahal ternyata, anak tersebut mengalami keterbelakanagan mental dan penyakit ayan. Masih banyak lagi hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran. Salah satunya adalah usaha dan kerja keras dari warga Dukuh Bulusari. Meskipun nasib mereka sangat tidak menentu, meskipun penghasilan mereka hanya cukup untuk membiayai kebutuhan mereka secara pas-pasan, tapi mereka tidak pernah mengeluh, mereka tidak pernah berhenti untuk bekerja dan berusaha. Padahal yang mereka lakukan juga tidaklah mudah. Harus melewati jalanan berliku, membawa barang-barang berat, pergi ke tempat yang jauh dengan menggunakan sepeda, dll. Mereka masih bersyukur akan kehidupan mereka saat ini. Terkadang dirasa miris memang, ketika kita yang dilimpahi dengan fasilitas yang sangat memadai, diberikan nikmat yang sangat berlebihan, makan rutin tiga kali sehari, namun terkadang kita masih saja mengeluh dengan hidup kita, masih saja mengatakan bahwa hidup kita sulit, putus asa ketika diberi sedikit cobaan, dll. Seharusnya kita bisa mencontoh warga Dukuh Bulusari yang dengan keterbatasannya sekalipun, masih bisa bersyukur, masih bisa berusaha keras, bahkan masih bisa memperlakukan tamu layaknya seorang raja. Sungguh, meskipun hanya tiga hari kami bersama warga Dukuh Bulusari, namun pelajaran yang dapat kami petik dari kegiatan tersebut dapat kami tanamkan kepada diri kami masing-masing untuk selama-lamanya. Semoga pelajaran tersebut dapat menjadikan kami seorang tenaga kesehatan yang tidak biasa dan senantiasa membantu sesama dengan ikhlas, karena untuk itulah tenaga kesehatan itu ada.

Sosmas’ Family Outing

Tentang sosmasbemfkugm

salah satu departemen di BEM FK UGM yang memiliki lingkup kegiatan dan keberminatan dalam bidang sosial kemasyarakatan
This entry was posted in Kegiatan Sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Sosmas’ Family Outing : 3 Hari Untuk Selamanya

  1. Pingback: centil | hoek

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s