One Day Full with Oma-Opa

Oleh Dini Kurniadita Nurwati

Departemen Sosial Masyarakat (Sosmas) adalah salah satu departemen yang berada dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran (BEM FK) UGM. Program kerja dalam 6 bulan pertama adalah penjagaan internal dan pelaksanaan kegiatan sosial untuk dan oleh pihak internal Departemen Sosmas BEM FK UGM atau dengan kata lain hanya diperuntukkan untuk anggota Departemen Sosmas itu sendiri. Untuk 6 bulan berikutnya penyelenggaraan kegiatan sosial ditujukan untuk lingkup eksternal Departemen Sosmas. Pada bulan Juli 2011 diadakan Bakti Sosial Nasional (Baksosnas) 2011 di Hunian Sementara Kuwang, Cangkringan, Sleman yang bekerjasama dengan ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia). Kemudian pada bulan Oktober 2011, Departemen Sosmas bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang ada di FK UGM untuk mengadakan rangkaian kegiatan sosial terbesar di FK UGM yang dinamakan Medical Action Week (MAW) 2011. Selanjutnya pada bulan Desember 2011 tepatnya tanggal 10 Desember 2011 kemarin Departemen Sosmas BEM FK UGM memfasilitasi teman-teman FK UGM untuk ikut terjun dalam kegiatan “One Day Full with Oma-Opa” yang diadakan di sebuah panti wreda. Kami memilih Panti Wreda karena kegiatan sosial kami sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di Panti Asuhan Atap Langit dan di lingkungan UGM, selain itu kami juga ingin berbagi kebahagiaan dengan oma-opa yang ada di Panti Wreda tersebut. Dari catatan panti, oma-opa yang ada di panti tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tidak pernah dijenguk oleh keluarganya, atau bahkan sama sekali sudah dilupakan oleh keluarganya. Untuk itu, kami ingin menghibur dan berbagi cinta dengan oma-opa yang ada di sana. Setelah survey beberapa panti, kami memilih panti Wreda Budi Luhur, Kasongan, Bantul, karena oma-opa yang ada di sana banyak yang bisa diajak berkomunikasi, yang bisa membantu kami dalam mencapai tujuan diadakannya kegiatan ini.

Bersama Oma-Opa di Salah Satu Panti

Sehari sebelum kegiatan di panti, kami mengadakan talkshow dengan pembicara dr. Probo Suseno, Sp.PD, K.Ger untuk memberikan sedikit ilmu tentang cara berkomunikasi yang baik, membina hubungan yang baik dengan oma-opa, dan sedikit pelatihan bahasa jawa untuk teman-teman peserta yang ikut andil dalam kegiatan ini. Kemudian keesokan harinya, kegiatan di panti dimulai sejak pagi, kami mengikuti aktivitas oma-opa, mulai dari senam pagi sampai istirahat siang. Karena hari itu adalah hari Sabtu maka selain oma-opa yang ada di dalam panti, ada juga oma-opa yang berasal dari sekitar panti yang mengikuti program “day care” rutin yang diadakan oleh panti. Aktivitas di panti sudah dijadwal oleh pegawai pengurus di sana sehingga sudah tersusun rapi. Oma-opa dalam panti berjumlah sekitar 88 orang, 63 oma-opa regular yaitu gratis berada di sana karena dibiayai oleh pemerintah dan 25 oma-opa subsidi yaitu tiap bulannya membayar sebesar Rp 1.000.000,00, sedangkan oma-opa dari sekitar panti berjumlah sekitar 75 orang. Latar belakang mereka sampai tinggal di panti ini pun berbeda-beda, ada yang tidak menikah kemudian tidak ingin merepotkan keluarga dan ingin memaksimalkan pensiunannya untuk memperbaiki diri di panti, ada yang mempunyai anak namun anaknya berada di luar Jogja padahal eyang tersebut lebih nyaman di Jogja, ada yang keluarganya tidak mau memperhatikannya, dan lain sebagainya.

Senam pagi untuk lansia adalah kegiatan pertama yang kami ikuti, oma-opa di sana setiap hari senam sehat kecuali hari Minggu dan Jumat. Terlihat oma-opa tersebut sangat antusias sekali dalam mengikuti senam. Walau pun apabila dilihat secara fisik ada yang sudah renta dan umurnya sudah tua, namun semangat mereka untuk senam sangat tinggi, kami sebagai mahasiswa sungguh malu karena dalam seminggu sekali saja belum tentu mau berolahraga.

Senam Pagi Bersama Oma-Opa

Karena kami dari fakultas kedokteran, kami mencoba untuk mempraktikkan pengetahuan yang kami punya di panti tersebut, yaitu mengukur berat badan, tekanan darah, dan mengecek gula darah oma-opa yang ada di sana. Untuk oma-opa yang di dalam panti setiap hari Rabu sudah ada pemeriksaan dari dokter sendiri namun pengecekan gula darah jarang dilakukan, sedangkan untuk oma-opa yang berasal dari sekitar panti, pemeriksaan dilakukan hari Sabtu, seperti halnya oma-opa yang ada di dalam panti, oma-opa yang berasal dari luar tidak ada pengecekan gula darah. Konsep kami dalam pelayanan kesehatan ini adalah satu ruangan untuk pelayanan kesehatan dan satu ruangan lagi berfungsi sebagai ruang tunggu sekaligus sebagai ruangan untuk dendang ria. Sehingga oma-opa yang belum dipanggil untuk pemeriksaan bisa bernyanyi dengan teman-teman kami. Walau pun sudah tua, mereka tetap bernyanyi dan berjoget dengan suka ria.

Pelayanan Kesehatan

Selanjutnya adalah sharing yaitu kegiatan berkomunikasi dengan oma-opa yang ada di dalam panti. Teman-teman dibagi dalam beberapa kelompok dan disebar di tiap-tiap wisma. Setiap wisma ada sekitar 10-14 oma-opa dan setiap wisma dikunjungi oleh 3-4 peserta. Setelah masing-masing dari kami berkomunikasi dengan oma-opa di masing-masing wisma, diadakanlah suatu sharing ke teman-teman yang lain dan didampingi oleh pihak panti untuk mengklarifikasi cerita dari oma-opa yang mengganjal pikiran teman-teman. Dalam diskusi kelompok ini diceritakan bagaimana oma-opa tersebut bisa sampai di panti ini, antara lain adalah karena tidak memiliki saudara sama sekali sehingga, oleh Pak Lurah di mana Beliau tinggal sebelumnya disarankan dan diajak untuk ke panti, Beliau mempunyai keluarga namun keluarganya meninggalkan Beliau di panti ini, dsb. Selain itu, ada juga yang bercerita mengenai kegiatan oma-opa di panti, dan kegiatan yang paling mereka sukai bermacam-macam, ada yang suka menyibukkan diri untuk membuat kerajinan-kerajinan yang bagus di saat waktu luang, bernyanyi, berdandan, dll.

Suasana Sharing untuk Berbagi Kisah dengan yang lain

Suasana Dendang Ria Bersama Oma-Opa

Banyak orang yang tidak tahu di dalam panti yang bisa dikatakan megah tersebut, di mana oma-opa selalu beraktivitas dan istirahat yaitu di dalam wisma, kebersihannya kurang dijaga padahal orangtua sangat rentan sekali dengan penyakit, apabila lingkungan mereka tidak mendukung untuk bebas dari sumber penyakit, maka akan susah bagi oma-opa yang ada di sana untuk terhindar dari suatu penyakit. Kebersihan dan kenyamanan panti sendiri oleh pihak panti sudah selalu dioptimalkan namun bau tidak enak masih saja ada karena oma-opa yang ada di sana sering buang air kecil dan buang air besar tidak pada tempatnya terkait dengan kondisi tubuhnya yang sudah melemah sehingga tidak mampu lagi untuk menahan buang air kecil dan buang air besarnya. Padahal sudah ada pramurukti yang membantu oma-opa dalam segala hal dan selalu membersihkan lantai setiap 2 jam agar tidak cepat bau dan kotor. Memang benar yang dikatakan orang-orang bahwa tempat yang paling nyaman adalah rumah sendiri. Salah satu wisma yang diberi nama oleh pihak panti wisma isolasi atau yang akan berubah nama dalam waktu dekat menjadi wisma perawatan khusus itu bila dibandingkan dengan wisma yang lain sangat kurang perhatian dari pihak panti, bahkan nama wisma isolasi ini pun sudah sempat diprotes oleh LSM setempat karena dirasa kurang sopan. Untuk masalah dana, panti mendapatkan uang dari oma-opa subsidi dan APBD sehingga semua fasilitas bisa tetap tercukupi walau pun makanan sehari-hari oma-opa sangatlah sederhana dan kurang ada pengaturan makanan yang berkaitan dengan gizi lansia.  Masalah lain dari oma-opa adalah adanya persaingan tersendiri antar oma-opa untuk mencari perhatian sehingga sering saling menjatuhkan dan sering saling ejek, bahkan di wisma subsidi ada eyang yang bersaing dalam hal memamerkan harta. Dalam hal merawat orangtua harus sangat tlaten karena pada usia tua mereka butuh teman dan sangat butuh untuk diperhatikan.

Nilai-nilai yang bisa didapatkan dari kegiatan ini adalah mensyukuri segala keadaan yang kita alami dengan ikhlas, penuh semangat dan optimis dalam menjalani kehidupan walau pun mungkin memiliki kekurangan dan keterbatasan, selagi kita masih muda dan mempunyai tenaga maka lakukan semua tugas dengan sebaik-baiknya, rela berkorban untuk orang yang dicintai, hidup itu adalah perjuangan sehingga harus berani mengambil segala kemungkinan yang ada, selalu ingat bahwa semua itu akan kembali kepada-Nya, pandai membelanjakan uang, saat kita diberi kebebasan oleh orangtua kita, kita harus mampu untuk bertanggungjawab dan harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk juga tahu akan batasannya, kita tahu apabila semakin tua kita akan semakin berkurang daya ingat kita atau pikun, maka selama masih bisa berusaha, berusahalah agar di masa tua bahagia, selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, di masa tua harus tetap ceria, riang, gembira, oma-opa yang ada di sana memberi semangat dan motivasi kepada kita untuk menjadi orang yang sukses dan menjadi orang besar namun di saat kita sudah mendapatkan kesuksesan tersebut jangan sampai lupa untuk tetap menyayangi dan merawat orangtua kita karena dari kecil kita sudah banyak merepotkan orangtua kita dan agar di masa yang akan datang, kita disayangi oleh anak, cucu kita. Kalau akan menikah, setiap pasangan harus sepakat untuk mau menghidupi orangtuanya, bukan hanya cinta pada anaknya namun juga cinta pada orangtuanya.

Dalam waktu setengah hari kami mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan kami. Kami bisa mempraktikan pengetahuan yang kami punya, mengetahui aktivitas di panti antara enak dan tidaknya hidup di panti, mendapatkan wejangan dari orangtua yang sudah banyak makan manis pahitnya kehidupan. Pesan yang harus selalu diingat adalah orangtua kita sudah mendidik, merawat, membiayai, membesarkan kita sampai saat ini dan kasih orangtua sepanjang masa sedangkan kita hanya bisa membalas dengan giat belajar, berbakti pada orangtua, menyayangi dan mencintai orangtua kita. Sehingga jangan sampai kita durhaka kepada orangtua kita, menyia-nyiakan orangtua kita, dan membuat mereka sakit hari. Karena ridho orangtua juga ridho-Nya.

Bersama Pengurus Panti Wreda Kasongan

Posted in Kegiatan Sosial | Tagged , , , , | 2 Komentar

When We Smile to The Environment, The Environment Will Also Smile to Us

by Claudya Putri

Millenium Development Goals atau yang lebih dikenal dengan MDG’s, tentu bukan istilah yang asing lagi bagi sebagian besar orang. MDG’s adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000. Target pencapaian program MDG’s adalah tahun 2015. Tujuan dari adanya program MDG’s ini sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia serta mendukung pembangunan setiap Negara. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap negara untuk dapat memenuhi tujuan dari program MDG’s.
Esensi dari MDG’s sendiri adalah delapan butir tujuan untuk dicapai puncaknya pada tahun 2015. Pertama adalah memberantas kelaparan dan kemiskinan. Kedua, mencapai serta meningkatkan tingkat pendidikan secara universal. Ketiga, mendorong kesamaan gender dan pemberdayaan wanita. Keempat, menurunkan angka kematian anak. Kelima, meningkatkan kesehatan maternal (ibu hamil). Keenam, menekan angka keterjangkitan penyakit global seperti HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Ketujuh, menjaga keseimbangan lingkungan hidup dan mempertahankan kelestariannya. Dan kedelapan adalah mengembangkan suatu kerjasama global untuk melakukan pembangunan dan pengembangan.
Kedelapan aspek tujuan MDG’s itu merupakan dasar bagi pembangunan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat suatu negara. Namun kali ini, hanya akan kami bahas mengenai poin MDG’s ke tujuh, yaitu tentang keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. MDG’s tujuh ini dapat dikategorikan dalam empat target dasar menurut United Nations Development Programme (UNDP). UNDP adalah salah satu badan PBB yang bergerak di bidang pendampingan dan pembinaan terhadap peningkatan dan pengembangan suatu negara atau komunitas, sehingga masyarakat yang terlibat di dalamnya memiliki taraf hidup lebih baik. Empat target dasar tersebut, yaitu :
1. Mengintegrasikan prinsip pengembangan dan pembangunan yang berkelanjutan ke dalam program dan kebijakan negara; melakukan perbaikan dan usaha untuk mengembalikan sumber-sumber daya yang hilang karena dimanfaatkan
2. Mengurangi punahnya keanekaragaman hayati; targetnya pada tahun 2010 persentase kepunahan menurun
3. Mengurangi persentase hingga setengah proporsi bagi akses yang tidak berkelanjutan dalam mendapatkan air bersih dan sanitasi yang baik pada masyarakat.
4. Mencapai perbaikan yang signifikan dalam meningkatkan taraf hidup minimal 100 juta masyarakat yang tinggal di wilayah kumuh, targetnya adalah tahun 2020

Indikator bahwa poin-poin tersebut telah mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu :
1. Untuk poin 1 dan 2 : proporsi luas area yang tertutup hutan; emisi CO2, total, per kapita, dan per 1 dollar GDP; konsumsi substansi perusak ozon (misal :minyak wangi spray, Air Conditioner, sterofoam, dll); proporsi persediaan ikan dalam batas biologis yang aman; proporsi total sumber daya air yang digunakan; proporsi wilayah darat dan laut yang dilindungi; dan proporsi spesies yang terancam punah.
2. Untuk poin 3 : proporsi dari populasi yang meminum air bersih dan sehat; proporsi dari populasi yang menggunakan sanitasi yang baik
3. Untuk poin 4 : proporsi penduduk wilayah kumuh di perkotaan
Semakin tinggi persentase dari indikator yang diraih, semakin tinggi pula kesejahteraan rakyat yang akan dicapai.
Beberapa negara di dunia telah mengaplikasikan program ketujuh MGD’s. ini. Beberapa proyek diinisiasi oleh UNDP bersama suatu badan darah setempat, seperti misalnya proyek air bersih di Desa Ekipe, Vanuatu. Disini UNDP bersama Global Environment Facility (GEF) membangun 75 keran yang terhubung dengan pipa air masyarakat daerah tersebut. Dengan ini, masyarakat Desa Ekipe dapat memperoleh air bersih setiap hari. Selanjutnya ada juga proyek pengimplentasian listrik ke area pedesaan Afganistan. UNDP beserta Kementrian Rehabilitasi dan Pengembangan Desa Afganistan mengimplementasikan micro-hydro-power sebanyak 6 buah di wilayah pedesaan Afganistan. Sehingga masyarakat desa tersebut dapat memanfaatkan keberadaan listrik untuk kegiatan-kegiatan mereka.
Di Indonesia juga telah dilakukan beberapa program yang mengarah pada tujuan MDG’s ke tujuh ini. Misalnya saja proyek Community Development melalui program SUSCLAM yang dilakukan oleh Japesda di Desa Bangga teluk Tomini. Masyarakat Desa Bangga yang tadinya sangat ketergantungan oleh pohon mangrove sebagai bahan bakar pengasapan ikan Rowa, yaitu ikan sebagai komoditas utama Desa Bangga, berhasil mendapatkan alternatif yang sesuai, yaitu kayu lamtoro, sebagai pengganti kayu bakar mangrove. Kayu lamtoro ini menjadi pilihan yang sangat tepat sebagai pengganti mangrove, selain karena pertumbuhannya yang cepat dan jumlahnya melimpah, penebangan ini justru akan menguntungan petani karena terbebas dari gulma lamtoro. Program SUSCLAM dari Japesda menginisiasi melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pohon mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Hutan mangrove merupakan tempat bertelur ikan Rowa, yang telah disebutkan di atas sebagai komoditas utama masyarakat Desa Bangga, juga populasi lainnya. Hutan mangrove juga sebagai pencegah abrasi pantai. Selain itu hutan mangrove merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Karena manfaat yang begitu besar, penebangan mangrove hanya akan memutus rantai ekosistem serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat Desa Bangga, seperti jumlah tangkapan ikan Rowa yang menurun karena habitat bertelurnya rusak, yang selanjutnya akan menurunkan perekonomian masyarakat Desa Bangga. Namun, setelah peningkatan kesadaran, masyarakat mengerti akan pentingnya tumbuhan dan kelestarian hutan mangrove. Kini masyarakat Desa Bangga bukan hanya menghentikan penebangan mangrove, namun juga secara kontinu melakukan reboisasi untuk menghijaukan hutan mangrove lagi. Mereka sadar bahwa mangrove merupakan kunci utama perekonomian dan kelestarian lingkungan mereka. Sehingga, di akhir program ini masyarakat Desa Bangga telah memiliki kesadaran individual untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik anak-anak, ibu, bapak, tua, muda, semuanya melakukan konservasi hutan mangrove berdasar kesadaran sendiri.
Jika berbicara mengenai lingkungan, mungkin yang terlintas dalam pikiran kita adalah suatu tempat di mana kita berpijak, dikelilingi oleh pohon yang rindang, jalan di mana mobil lalu-lalang, dan sebagainya. Padahal, hal tersebut hanya arti ‘lingkungan’ secara minor. Pengertian lingkungan bukan hanya sekadar tempat. Lingkungan adalah tempat hidup kita beserta komponen di dalamnya, termasuk manusia, tumbuhan, hewan, dan unsur lainnya. Lingkungan adalah tempat dimana kita melakukan segala aktivitas, dan dapat berinteraksi dengan sesama. Lingkungan juga merupakan tempat yang akan menentukan karakteristik dan kepribadian kita sebagai manusia. Lingkungan juga yang menentukkan persepsi manusa yang berbeda-beda dalam menentukan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Lingkungan juga yang mengajarkan kita banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan. Dan sebagainya peran lingkungan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa pengaruh lingkungan daam kehidupan manusia sangat lah besar. Namun kesalahan manusia adalah, kadang-kadang kita hanya menjadikan lingkungan sebagai objek yang hanya bisa kita manfaatkan. Objek yang hanya bisa kita ambil namun tidak pernah kita kembalikan. Tanpa sadar, kita telah merusak keseimbangan yang ada pada lingkungan. Berbagai dampaknya kita rasakan, namun kita hanya dapat mengeluh dan mengeluh. Padahal seharusnya kita sadar bahwa lingkungan tidak akan berhenti peduli kepada kita ketika kita pun mempedulikannya. Untuk itu, marilah kita jaga lingkungan ini. Lingkungan dimana kita sangat bergantung kepadanya. Tidak perlu terlalu muluk, cukup dimulai dari lingkungan sekitar kita dulu, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan memunguti sampah di sekitar kita, melakukan penanaman pohon pada lahan gundul, tidak terlalu sering memakai parfum spray maupun air conditioner, hemat air, hemat listrik, hemat BBM dan lain sebagainya. Marilah mulai sekarang tersenyum kepada lingkungan, dengan itu lingkungan pun akan membalas senyuman kita ☺

Posted in Artikel | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Sosmas’ Family Outing : 3 Hari Untuk Selamanya

Dimas Wirawan Wicaksono

Lelahnya setelah menjalankan sebuah program kerja pertama tidak membuat kami, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM, untuk berhenti mengabdi untuk masyarakat sekitar kita. Sehari setelah program kerja tersebut, dimulai tanggal 20 Juli 2011, kami mengadakan sebuah kegiatan selama tiga hari di beberapa tempat seperti di Taman Benteng Vrederburg, Desa Srimartani, dan Pantai Sundak. Namun, kegiatan utama yang akan diutarakan dalam tulisan ini adalah kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Srimartani.

Selama satu hari dua malam kami mengadakan kegiatan di Desa Srimartani, tepatnya di Dukuh Bulusari. Sebenarnya tidak ada yang baru dari acara yang kami buat, kami hanya menginap di rumah warga, dan mengadakan bakti sosial seperti biasa, yakni hanya pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, bazaar pakaian, dan pembagian sembako gratis, serta ditutup dengan menonton film bersama. Namun ternyata, banyak sekali ilmu yang bisa kami petik dari pengalaman kami selama satu hari dua malam tersebut.

Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis

Bazaar Baju Murah

Setelah tiba di Dukuh Bulusari, setiap anggota kami bagi-bagi ke dalam beberapa rumah warga, kebanyakan semua di rumah ketua RT, kecuali RT 1 yang tidak tinggal di rumah ketua RT nya dikarenakan ibu RT hanya seorang ibu rumah tangga dan bapak RT sebagai buruh bangunan yang jelas tidak bisa diikuti oleh kedua orang yang tinggal disana. Sebelumnya, saya ingin menginformasikan bahwa Dukuh Bulusari memiliki total enam RT. Anggota kami berjumlah 13 orang, ditambah Rio sebagai perwakilan dari Departemen PSDM, total menjadi 14 orang. Kami membagi setiap orangnya di setiap RT tersebut ditambah dengan Dimas dan Dira yang menginap di rumah Kepala Dukuh Bulusari.

Cerita pertama datang dari Ria dan Dini yang menginap di rumah pasangan Mbah Mujab. Mbah Mujab merupakan pasangan yang dikenal cukup religius, hal ini terbukti dengan Mbah Mujab kakung (laki-laki) yang memang dikenal sebagai seorang kyai yang selalu memipin pembacaan doa-doa. Namun, meskipun dikenal sebagai pasangan yang religius, bukan berarti mereka tidak mementingkan kehidupan dunia. Mereka bekerja dengan beternak sapi sekaligus bercocok tanam. Bisa dibilang kedua orang ini sangatlah seimbang antara kehidupan dunia dan akhiratnya. Sekarang ini Mbah Mujab sedang mengalami kesulitan dalam beternak karena kalah saing dengan sapi-sapi impor yang lebih diminati dibandingkan dengan sapi lokal. Hal ini membuat harga sapi yang beliau rawat menjadi turun. Mbah Mujab putri biasa pergi ke sawah setiap harinya untuk merawat tanaman-tanaman yang beliau tanam. Jarak dari sawah ke rumah beliau sangatlah jauh, selain itu, pekerjaan yang beliau lakukan tidaklah dapat dibilang mudah. Beliau menimba dua buah pembawa air dari sungai ke sawah dengan medan cukup terjal. Mungkin memang ini bukanlah suatu pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang yang sudah berusia lanjut, namun percaya atau tidak, itulah rutinitas Mbah Mujab putri. Inilah yang membuat kita seharusnya malu, bahwa seorang yang sudah berusia lanjut saja bisa melakukan pekerjaan sulit tanpa mengeluh sedikitpun. Beda sekali dengan kita yang dipenuhi dengan teknologi yang memudahkan kita, namun sayangnya kita masih saja mengeluh. Seharusnya kita bisa mencontoh seorang Mbah Mujab dalam menjalani hidup ini, banyak bersyukur dengan keadaan kita saat ini, tidak pernah putus asa ketika mendapatkan banyak cobaan, serta tidak lupa berdoa kepada Tuhan YME dalam mencapai tujuan.

Bersama Mbah Mujab Putri

Di RT 2, tinggal Hanum dan Claudya dengan ceritanya sendiri. Mereka tinggal di rumah Bapak Tugiran, Ketua RT 2. Seperti yang lainnya, mereka berdua diberikan keramahan yang sangat luar biasa dari keluarga Bapak Tugiran. Berbagai macam fasilitas diberikan semaksimal mungkin meskipun hanya seadanya. Makan disiapkan, mandi mudah tidak perlu memompa air dan sebagainya, tidur juga di tempat yang layak dan bagus. Keluarga Bapak Tugiran benar-benar menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Bahkan Mbah Pawiro, mertua Bapak Tugiran, selalu memanggil mereka dengan sebutan Putu Wedok yang artinya adalah cucu perempuan. Padahal mereka hanyalah tamu, yang bahkan tidak pernah dikenal sebelumnya, namun beliau sudah menganggap mereka seperti cucu sendiri. Kegiatan yang dilakukan oleh Hanum dan Claudya adalah membantu keluarga kakak Pak Tugiran untuk berjualan pecel. Setelah membantu persiapan menjual pecel, mereka pun berjalan ke pinggir jalan untuk menjual pecelnya. Keluarga kakak Pak Tugiran mengatakan bahwa hidup mereka memang benar-benar sangat bergantung dari berjualan pecel tersebut. Makan atau tidaknya mereka hari itu, ditentukan dari habis atau tidak dagangannya. Jika memang dagangannya habis, maka mereka bisa membeli kebutuhan sehari-hari. Kalau nasib kurang bagus, tidak banyak yang terjual, uang juga tidak banyak.  Namun mereka tidak pernah menganggap pusing hal tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Kalaupun tidak banyak uang yang mereka dapat hari tersebut, ya kebutuhan yang diperlukan dicukup-cukupkan. Minimal untuk makan saja dulu, mereka tidak muluk-muluk untuk memikirkan kebutuhan sekunder lainnya. Apalagi beberapa harus mereka tabung untuk sekolah anaknya. Kesederhanaan inilah yang patut diacungi jempol dari mereka. Mbah Pawiro juga pernah berkata (telah diterjemahkan) “Hidup itu buat apa stress. Lebih enak kita nunduk (melihat ke bawah) daripada ndangak (melihat ke atas). Ndangak tuh capek Ngger, kalo nunduk kan nggak capek. Saya itu orang miskin, hidup ga perlu mikir susah-susah. Hari ini ada duit, ya buat makan hari ini, wong duitnya cuma cukup buat makan hari ini. Buat makan besok, ya mikirnya besok aja, gausah dipikirin dulu. Gitu aja kalo saya. Hidup gausah dipikir stress Ngger.”. Dari kalimat tersebut, yang dimaksudkan beliau adalah sebagai orang tidak perlu terus menerus lihat ke atas, dalam arti selalu melihat golongan yang lebih hebat dari kita. Tidak usah selalu muluk-muluk menginginkan sesuatu. Hal itu hanya akan membuat kita capek dan stress. Ada kalanya kita melihat golongan yang ada di bawah kita. Dengan begitu kita juga dapat menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita punya. Lagipula justru golongan itu lah yang nantinya akan banyak memberikan pelajaran dan nilai-nilai kepada kita.

Membantu Berjualan Pecel

Kiel dan Firman tinggal di RT 3 dan memiliki kisahnya sendiri. Mereka tinggal di rumah ketua RT 3, Bapak Sugeng. Sama seperti yang lainnya, lagi-lagi budaya merajakan tamu kembali mereka rasakan. Bahkan karena mereka tidur di salah satu kamar di rumah tersebut, Bapak Sugeng sampai harus tidur di ruang tamu. Keesokan harinya mereka membantu seorang tukang kayu mengamplas dan mengecat kayunya. Meskipun memang pekerjaan mereka tidak bisa dibilang memuaskan, namun sikap tukang kayu tersebut masih sangatlah baik kepada mereka. Satu hal yang dapat diambil adalah hidup dalam keterbatasan tidak membuat seseorang untuk berhenti berkreasi. Usaha keras diiringi dengan doa selalu dilakukan meskipun hidup dipenuhi ketidakpastian. Meskipun begitu, menolong sesama juga menjadi satu hal yang penting, meskipun seburuk apapun kondisi kita, berikan yang maksimal dalam menolong sesama.

Membantu Mengamplas Kusen

Maria dan Lisa berkesempatan untuk tinggal bersama di RT 4. Bapak RT di tempat mereka bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu memberi makan sapi, mencari rumput, bercocok tanam di sawah, dan masih banyak lagi. Ketika tinggal disana, mereka membantu dalam beberapa hal, seperti membereskan rumah, memasak, memberi makan sapi, mencuci piring dan pergi ke sawah. Untuk pergi ke sawah, mereka harus melalui jalan setapak nan berliku melewati pegunungan terlebih dahulu. Mereka pergi bersama ibu RT yang membawa sekarung besar pupuk. Sungguh hebat memang membawa sekarung besar pupuk melalui jalan berliku tersebut dan tentunya hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Sesampainya di sawah, ibu RT mulai mencangkul sawahnya, sedangkan Maria dan Lisa memotong pohon pepaya dan mengumpulkan rumput untuk pakan ternak. Setelah itu, mereka pulang ke rumah kembali. Selama mengikuti ibu RT dalam melakukan aktivitasnya, Maria dan Lisa sama sekali tidak pernah melihat ibu RT tersebut mengeluh dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Padahal beliau adalah seorang wanita, namun beliau tetap semangat meskipun harus mendaki bukit lewati lembah untuk ke sawah dengan membawa sekarung pupuk dan melakukan pekerjaan kasar. Selain itu, sama seperti yang lainnya, meskipun Maria dan Lisa adalah orang baru di rumahnya, namun lagi-lagi meskipun dalam kesederhanaannya, keluarga tersebut memberikan fasilitas semaksimal mungkin untuk Maria dan Lisa.

Bermain Bersama Anak Ketua RT 4

Di RT 5, ada Ado dan Ary yang tinggal di rumah ketua RT 5, Bapak Musmal. Bapak Musmal bekerja sebagai seorang buruh bangunan, sedangkan Ibu Musmal bekerja sebagai buruh tani. Lagi-lagi kebaikan hati tuan rumah dalam menjamu tamunya tercermin dalam sikap Bapak dan Ibu Musmal terhadap Ado dan Ary. Sekali lagi, meskipun keadaan Bapak dan Ibu Musmal sangatlah sederhana, namun mereka tetap memberikan pelayanan maksimal kepada tamu-tamunya. Ado dan Ary tidak diizinkan untuk mengikuti kegiatan Bapak dan Ibu Masmul, hal ini disebabkan karena lokasi pekerjaan mereka yang cukup jauh sehingga mereka khawatir kalau Ado dan Ary akan kehabisan waktu. Hebatnya lagi, meskipun lokasi kerja Ibu Musmal jauh, namun beliau naik sepeda ke lokasi tersebut, setiap harinya. Akhirnya Ado dan Ary tinggal di rumah dan membantu ibu Bapak Musmal untuk memotong rumput. Setelah memotong rumput cukup banyak, rumput-rumput tersebut kemudian dikumpulkan dan kemudian dijadikan pakan sapi. Ibu Musmal biasa pulang pukul lima sore, namun karena ada Ado dan Ary, Ibu Musmal sengaja pulang sekitar pukul tiga untuk membelikan mereka makanan. Sungguh suatu sikap yang sangat luar biasa. Ado dan Ary seharusnya adalah orang baru bagi Bapak dan Ibu Musmal, namun sikap mereka sangatlah hangat kepada Ado dan Ary. Dalam kesederhanaan, mereka tetap membuat Ado dan Ary sebisa mungkin nyaman di dalam rumah mereka, semua makanan ringan disediakan, makanan pun disediakan, bahkan tempat tidur yang dapat dibilang lebih nyaman dibandingkan dengan tempat tidur Bapak dan Ibu Musmal juga disediakan.

Mencari Rumput Untuk Pakan Ternak

Kisah di RT 6 diceritakan oleh Purna dan Rio. Tidak jauh berbeda dengan yang lainnya, Purna dan Rio tinggal di rumah Ketua RT 6, mereka diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga bapak ketua RT 6 tersebut, bahkan di kamar tempat mereka tidur sudah disiapkan televisi dan dispenser. Di RT 6, mereka mengikuti kegiatan dua orang warga yang mencari pakan ternak dan mengurus sawah. Untuk mencapai lokasi, mereka harus melewati jalan setapak berliuk-liuk di pegunungan. Sesampainya di lokasi tersebut, mereka langsung membantu memotong rumput dengan menggunakan arit dan memacul area sawah. Pekerjaan tersebut sangatlah tidak mudah, apalagi dilakukan oleh orang yang baru pertama kali melakukan hal tersebut. Alhasil, beberapa kelalaian seperti terkena arit atau tangan sampai melepuh terjadi pada Purna dan Rio. Selama membantu, Purna dan Rio juga sempat mengobrol dengan warga tersebut, dan dari obrolan tersebut, mereka mengetahui bahwa ternyata usaha sesulit tersebut tidak membawakan hasil yang dapat dibilang memuaskan. Dengan bercocok tanam, warga akan mendapatkan hasil berupa sayur-sayuran, namun ternyata sayuran tersebut dihargai rendah, dan sungguh tidak sebanding dengan usaha dalam menanam sayuran tersebut. Meskipun begitu, warga tersebut tentu tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha melakukannya sebaik mungkin. Oleh karena itu, meskipun hidup dengan sangat sederhana, mereka selalu bersyukur akan hidup mereka.

Mencangkul Tanah Sawah

Dimas dan Dira tinggal di rumah Kepala Dukuh Bulusari, Bapak Alex. Kegiatan yang beliau lakukan sebagai seorang Kepala Dukuh Bulusari jelas terkait dengan hal-hal administratif, sedangkan istri beliau lah yang bertugas mencari pakan ternak dan mengurus anak. Awalnya Dimas dan Dira berpikir sebagai seorang kepala dukuh, pastilah hidupnya lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya, atau setidaknya sudah memiliki gaji yang tetap karena sudah masuk pegawai pemerintah. Namun, Pak Alex menyanggah hal tersebut, meskipun beliau memegang jabatan sebagai kepala dukuh, namun beliau bukanlah pegawai negeri, oleh karena itu, beliau pun juga hidup dalam kesederhanaan seperti warga lainnya. Selama Dimas dan Dira tinggal disana, Pak Alex sedang sibuk melakukan pendataan warga Dukuh Bulusari untuk Badan Pusat Statistik. Selain itu, beliau juga sibuk menghadiri pengajian setiap malamnya di setiap RT dan mengkoordinasikan kegiatan di RT tersebut. Pendataan yang dilakukan Pak Alex dapat memberikan penghasilan tambahan bagi beliau. Dan ketika saya menanyakan apakah hal tersebut memang sudah diberikan jatah masing-masing atau tidak, beliau mengatakan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, beliau lah yang harus aktif mencari. Jika beliau tidak melakukan pekerjaan tersebut, pemasukan beliau tidaklah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari beliau. Namun sekali lagi, beliau selalu bersyukur akan apa yang sudah beliau dapatkan. Semua anak beliau sudah bisa bersekolah dan beliau sangat bangga akan hal tersebut. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan di Desa Srimartani masih sangatlah rendah, bagi warga disana, asalkan orang tersebut sudah mampu mencari uang, tidak perlu lagi bersekolah. Selaku kepala dukuh, Pak Alex menerima kami semua dengan hangat di dukuhnya. Beliau sangat ramah dan kegiatan kali ini terlaksana hanya dengan berkoordinasi sebanyak tiga kali dengan beliau.

Banyak sekali pelajaran yang kami ambil dengan berinteraksi secara langsung dengan warga di Dukuh Bulusari. Sikap mereka yang memperlakukan tamu sebagai seorang raja sangat menyentuh hati kami. Padahal mereka juga sangat sederhana hidupnya, namun mereka masih bisa memberikan fasilitas yang lebih dari cukup bagi kami yang bahkan tidak mengenal mereka sama sekali sebelumnya. Warga Dukuh Bulusari juga sangatlah ramah dan baik hati, ketika Dimas dan Dira berkeliling melihat keadaan yang lainnya, Bapak Ketua RT 6 dengan senang hati mengantarkan mereka berkeliling untuk menunjukkan jalan. Selain itu, seorang anak yang Ria dan Dini tidak kenal sama sekali tiba-tiba saja muncul ketika mereka menuju ke rumah Mbah Mujab, dan anak tersebut membersihkan jalan untuk mereka dari dedaunan. Padahal ternyata, anak tersebut mengalami keterbelakanagan mental dan penyakit ayan. Masih banyak lagi hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran. Salah satunya adalah usaha dan kerja keras dari warga Dukuh Bulusari. Meskipun nasib mereka sangat tidak menentu, meskipun penghasilan mereka hanya cukup untuk membiayai kebutuhan mereka secara pas-pasan, tapi mereka tidak pernah mengeluh, mereka tidak pernah berhenti untuk bekerja dan berusaha. Padahal yang mereka lakukan juga tidaklah mudah. Harus melewati jalanan berliku, membawa barang-barang berat, pergi ke tempat yang jauh dengan menggunakan sepeda, dll. Mereka masih bersyukur akan kehidupan mereka saat ini. Terkadang dirasa miris memang, ketika kita yang dilimpahi dengan fasilitas yang sangat memadai, diberikan nikmat yang sangat berlebihan, makan rutin tiga kali sehari, namun terkadang kita masih saja mengeluh dengan hidup kita, masih saja mengatakan bahwa hidup kita sulit, putus asa ketika diberi sedikit cobaan, dll. Seharusnya kita bisa mencontoh warga Dukuh Bulusari yang dengan keterbatasannya sekalipun, masih bisa bersyukur, masih bisa berusaha keras, bahkan masih bisa memperlakukan tamu layaknya seorang raja. Sungguh, meskipun hanya tiga hari kami bersama warga Dukuh Bulusari, namun pelajaran yang dapat kami petik dari kegiatan tersebut dapat kami tanamkan kepada diri kami masing-masing untuk selama-lamanya. Semoga pelajaran tersebut dapat menjadikan kami seorang tenaga kesehatan yang tidak biasa dan senantiasa membantu sesama dengan ikhlas, karena untuk itulah tenaga kesehatan itu ada.

Sosmas’ Family Outing
Posted in Kegiatan Sosial | Tagged , , , , | 1 Komentar

Satukan Tangan Untuk Kemanusiaan

Firmansyah Adi Praditya

Bulan Juli 2011 merupakan bulan yang cukup bersejarah bagi FK UGM karena 127 mahasiswa dari 23 fakultas kedokteran universitas-universitas di seluruh Indonesia datang ke Yogyakarta dengan satu tujuan, mengulurkan tangan untuk bersama-sama mengabdi pada masyarakat korban bencana alam letusan gunung merapi yang terjadi bulan Oktober-November 2010 silam. Dengan mengangkat tema Indonesia Siaga Bencana, BEM FK UGM mengadakan sebuah program kerja Bakti Sosial Nasional : “ISMKI’s Charity Camp” yang melibatkan mahasiswa fakultas kedokteran tersebut. Kegiatan ini berlokasi di Shelter Kuwang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Jalannya acara dimulai pada hari Kamis, 14 Juli 2011, dengan diawali pembukaan yang berisi sambutan oleh ketua panitia Baksosnas 2011, Presiden Mahasiswa FK UGM, Sekretaris Jendral ISMKI, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UGM, dan Direktur Kemahasiswaan UGM. Proses pembukaan diadakan di Gedung Auditorium II FK UGM. Selain itu, pada pembukaan ini, terdapat hiburan berupa kesenian khas jogja berupa tarian yang dibawakan oleh Swagayugama. Setelah itu, delegasi diberikan gambaran mengenai desa yang akan ditempati nantinya dan kemudian menuju ke hotel untuk beristirahat.

Pembukaan Acara Baksosnas 2011 Dengan Pemukulan Gong Oleh Direktur Kemahasiswaan UGM

Pada hari Jumat, delegasi diberikan berbagai jenis pelatihan tanggap bencana di FK UGM yang dibawakan beberapa ahli dari Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DIY, dll. Materi tersebut berupa materi komunikasi, pertolongan pertama, peran pemerintah dan mahasiswa dalam urusan bencana, dan kampung siaga bencana. Terdapat juga diskusi panel yang memfasilitasi mahasiswa untuk mendiskusikan peran mahasiswa dan pemerintah dalam rangka penanganan bencana.

Hari berikutnya, delegasi dan panitia berangkat menuju Shelter Kuwang, Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman dan mengadakan berbagai macam acara untuk warga Shelter Kuwang. Acara tersebut dirangkaikan dalam bentuk festival dan terdiri dari bazaar murah, hiburan-hiburan, pelayanan kesehatan, dan lomba menggambar dan mewarnai untuk siswa SD. Festival ini ditujukan untuk membantu warga shelter dalam memenuhi kebutuhan pokok dan kesehatan mereka. Malam harinya, warga, delegasi dan panitia bersama-sama menonton pertunjukan budaya setempat yaitu Srandul.

Hari keempat acara diawali oleh senam sehat yang diikuti oleh delegasi dan warga setempat. Pada acara senam tersebut juga diadakan doorprize bagi peserta senam yang paling heboh, semangat, unik, dan berbagai kategori lainnya. Setelah acara senam selesai, sebagian delegasi mengadakan kerja bakti membersihkan area shelter dan jalan disekitar shelter tersebut. Sebagian delegasi lainnya mengikuti acara penanaman nilai dengan konsep jika aku menjadi. Pada acara ini, delegasi diminta untuk membantu warga setempat melakukan aktivitas mereka. Beberapa kegiatan yang diikuti yaitu pembuatan dan penjualan susu kedelai, mie ayam, laundry, dan masih banyak lagi. Dari sini, delegasi mengaku mendapatkan banyak gambaran pengalaman yang dialami korban merapi mulai dari ketabahan hati, perjuangan untuk tetap hidup, rasa kekeluargaan, sampai kepedulian terhadap alam sekitar. Malam harinya, diadakan penutupan yang dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UGM dan perangkat desa untuk menutup acara Baksosnas 2011.

Senam Pagi Sebelum Memulai Hari

Merasakan Kehidupan Seorang Pembuat Susu Kedelai

Delegasi bercerita bahwa banyak nilai-nilai kehidupan yang mereka dapatkan selama baksosnas kali ini. Mereka bercerita bahwa warga merapi sungguh sangat patut dicontoh. Walaupun harta ludes, mereka tetap tabah dan tidak mengeluh dalam menjalani hidup. Mereka tetap berusaha mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga. Ketika pekerjaan yang biasa dilakukan pun telah habis dilahap, mereka tetap mencari pekerjaan halal lain yang sekiranya bisa membantu perekonomian keluarga. Bahkan, warga merapi juga berbicara bahwa semua itu harus disyukuri. Walaupun merapi berbahaya, gunung tersebut merupakan kampung halaman yang telah memberikan mereka kehidupan. Karenanya, walau berkali-kali menunjukkan keganasannya, warga tetap bersabar menanti gunung yang merupakan kampung halamannya sampai kembali tenang dan bersahabat.

Delegasi Baksosnas 2011

Posted in Program Kerja | Tagged , , , , , , | Tinggalkan komentar

Pelajaran Berharga Dari Sekeliling Kita

Maria Oktavia Angelina Kilis

Sabtu, 25 Juni 2011, Departemen Sosial Masyarakat BEM FK UGM mengadakan sebuah kegiatan dimana setiap orang nantinya akan berkeliling dan berkomunikasi dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang berbeda yang berada di sekitar lingkungan kampus FK UGM. Setiap orang akan dibagikan kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang dan 1 kelompok terdiri dari 3 orang. Kemudian tiap kelompok akan dibagikan kepada sasaran yang telah ditentukan. Beberapa sasaran baksos kali ini yaitu tukang becak, pengemis, tukang sampah, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan pengamen. Namun karena sulitnya mencari orang dengan profesi tersebut di sekitar lingkungan kampus, maka beberapa kelompok mengganti sasarannya menjadi tukang sapu dan tukang becak. Setiap kelompok nantinya akan diberi uang yang dapat diberikan kepada sasaran kegiatannya dalam bentuk apapun, baik berupa uang tunai, makanan, dll. Kemudian kami akan berkumpul kembali untuk berbagi cerita yang didapat oleh tiap kelompok diikuti dengan makan bersama.

Setiap kelompok membawakan ceritanya masing-masing setelah berpencar dan berkomunikasi dengan sasaran kegiatan. Setiap orang yang kami wawancarai memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda, dengan masalah yang dihadapi juga sangat berbeda.

Sebagai contoh kelompok Ria dan Purna yang berkomunikasi dengan tukang becak. Dengan menyamar sebagai seorang pendatang yang ingin ditunjukkan daerah sekitar UGM, mereka menaiki becak dan berkomunikasi dengan pengendaranya. Meskipun menarik becak melelahkan, namun bapak tukang becak tersebut rela bercerita tentang bangunan yang mereka lewati. Tidak hanya “saya hanya narik becak, saya nggak mau njelasin. Pokoknya kalau sampai tujuan, pekerjaanku dah selesai, trus aku dapet duit”. Selain itu, bapak tukang becak tersebut tetap menjalankan kewajibannya pada Tuhan dengan melakukan puasa, shalat jumat, mengaji, dll. Bapak tukang becak juga seorang yang bekerja dengan keras, semenjak SMP, beliau sudah mulai bekerja untuk menjual buah-buahan di Jakarta. Begitu kegiatan sehari-hari bapak tukang becak tersebut, beliau hanya pulang kira-kira 10 hari sekali, dengan menggunakan angkot dan disambung dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.

Tukang Becak di Jogja

Dimas dan Lisa mendapatkan kisah yang berbeda dari dua orang tukang parkir yang mereka temui. Lisa menemui seorang tukang parkir di sebuah toko di sebelah sebuah pasar swalayan. Beliau bernama Pak Yohanes. Pak Yohanes adalah seorang lelaki tua yang masih bersemangat dengan apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Usia lanjut bukan menjadi alasan bagi beliau untuk bermalas-malasan di rumah. Dengan ketulusan hatinya berhasil merebut simpati masyarakat dan mendatangkan rejeki tersendiri bagi Pak Yohanes. Lain ceritanya dengan Dimas, yang bertemu dengan seorang tukang parkir di sebuah warung lotek. Banyak sekali asam manis kehidupan yang dialami oleh bapak tersebut, mulai dari kehilangan tangan kanannya karena suatu kecelakaan, tidak melanjutkan sekolah, kehilangan istri yang disayanginya karena ditabrak oleh seseorang, hingga sekarang menjadi seorang tukang parkir yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Ketika Dimas bertanya apakah tidak capek dengan begini saja, beliau berkata bahwa meskipun hidupnya seperti itu, yasudah jalani saja, dan tetap semangat dalam menjalaninya. Daripada dirinya hanya berdiam diri saja dan mengeluh disana sini, hal tersebut sama sekali tidak mengubah keadaan.

Tukang Parkir yang Sedang Melakukan Pekerjaannya

Contoh yang lainnya adalah kelompok Ado dan Hanum yang berkesempatan untuk berbincang bersama tukang penjual bunga, tepatnya nenek penjual bunga. Nenek ini sudah berjualan bunga kurang lebih selama 30 tahun, dan selain berjualan bunga nenek juga menjual aneka nasi rames. Untuk pendapatan perhari nenek tidak menentu, nasi rames yang dijual juga belum tentu mendapatkan untung karena nenek hanya menjual nasi rames dengan menggunakan tenda kecil tanpa bertuliskan apapun dan tempatnya juga kurang terlihat oleh masyarakat. Jadi, tidak jarang nenek mendapatkan kerugian dari menjual nasi rames ataupun menjual bunga. Namun dengan keadaan yang demikian, nenek tersebut tidak pernah mengeluh dan tidak mudah menyerah. Ini terbukti dengan konsistensi nenek dalam menjual bunga dan nasi rames walaupun nenek tahu bahwa beliau akan rugi tapi nenek tetap menjualnya. Semangat nenek yang luar biasa dapat menjadi kebanggaan bagi kita semua dengan usia yang sudah tua, badan yang sudah membungkuk, bahkan untuk berjalan saja sudah tertatih-tatih dapat memberikan pelajaran, yaitu sebuah kesederhanaan, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa.

Penjual Bunga dengan Pendapatannya yang Tidak Menentu

Dini dan Dira mendapat bagian dalam mewawancarai tukang sapu. Beliau bernama Pak Heri. Pak Heri mendapat tugas untuk membersihkan got dan pekarangan Jalan Olahraga sampai perempatan Jalan Sagan. Terkadang, Pak Heri merasa masyarakat kurang sadar tentang kebersihan dan masih banyak masyarakat yang menganggap rendah profesi Pak Heri. Pak Heri adalah seorang bapak yang selalu berpikir positif, menerima apa adanya yang Tuhan sudah berikan kepadanya. Beliau tetap bersyukur sebagai tukang sapu dan berharap bahwa profesinya dapat membantu masyarakat. Yang menarik dari seorang Pak Heri adalah di dalam keterbatasannya, Pak Heri masih dapat berbagi dengan orang lain. Pak Heri mengangkat 2 orang anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan membiayai mereka selayaknya anak sendiri. Pak Heri selalu bersyukur, beliau berkata bahwa bila kehidupannya dipikirkan secara logika, dengan gaji seorang tukang sapu tidak mungkin dapat menghidupi keluarga dan anak-anak angkatnya. Namun, karena pertolongan Tuhan segala kebutuhan pak Heri selalu dicukupi. Kita harus belajar dari Pak Heri, belajar menghargai orang lain dengan profesi apapun.

Claudia, Firman dan Maria  mendapat bagian untuk bercerita dengan pengemis. Namun, Claudia dan Firman memiliki cerita yang berbeda dengan Maria. Claudia dan Firman bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang mengamen dengan seorang anaknya yang masih kecil yang bernama Viola. Saat bercerita wanita tersebut mengaku bahwa beliau terpaksa mengamen untuk dapat memasukkan Viola ke TK (Taman Kanak-kanak). Beliau juga bercerita bahwa selain mengamen beliau juga mencari uang dengan mencuci pakaian tetangga-tetangganya. Beliau pernah mengaku waktu Viola masih bayi, beliau pernah dicemooh oleh salah seorang penumpang bus bahwa Viola hanya anak pinjaman agar beliau dapat belas kasihan. Padahal, Viola benar-benar anaknya. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya saja. Selain itu, semangat beliau yang sangat tinggi dalam menyekolahkan anaknya walaupun beliau hanya berprofesi sebagai pengamen dan pencuci juga patut kita contoh. Di saat wanita lain yang bernasib sama dengannya sibuk untuk membuat anaknya bekerja, beliau malah bersusah payah membuat anaknya agar dapat sekolah dengan layak agar nantinya kehidupan anaknya bisa lebih baik. Berbeda dengan kisah Maria yang bercerita dengan seorang anak yang bekerja mengelap motor atau mobil di jalanan. Tadinya anak itu berasal dari Kalimantan dan sengaja dititipkan kepada neneknya untuk sekolah. Namun, neneknya malah memaksa cucunya tersebut untuk mengemis tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hal yang sangat dikagumi dari anak tersebut adalah sikap anak tersebut yang tetap tegar dan tidak pernah mengeluh. Mungkin dia ingin seperti anak-anak lainnya diwaktu kosong dapat bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi, dia harus berdiri di pinggir jalan menunggu lampu merah, berpanas-panasan untuk mencari uang, belum lagi apabila uang yang diperoleh tidak mencapai target anak tersebut pasti dimarahi oleh neneknya, tidak jarang juga anak tersebut mendapat pukulan dan cacian. Dari kejadian ini anak tersebut dapat bercerita bahwa semuanya dilakukan untuk mendapatkan uang, untuk dapat sekolah dan makan. Dengan umur yang masih kecil anak tersebut dapat terlihat dewasa dalam mengahadapi kehidupannya.

Seorang Anak yang Sedang Mengemis

Untuk yang terakhir adalah kisah dari Ari dan Kiel yang mendapat kesempatan untuk dapat bercerita dengan kakek tukang becak. Kakek tukang becak tersebut sudah mengayuh becaknya selama 50 tahun. Waktu 50 tahun bukanlah waktu yang singkat, jadi kita dapat bayangkan bagaimana beliau sudah memiliki banyak pengalaman dalam profesinya. Waktu 50 tahun tidak membuat usaha beliau padam, beliau masih terus berusaha dan bekerja sekuat tenaga dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki. Sungguh suatu contoh kegigihan hidup yang harus bisa kita teladani dari beliau. Berapapun penghasilan yang beliau peroleh, beliau tetap bersyukur. Dari beliau kita juga dapat belajar bahwa usia bukanlah halangan bagi kita untuk dapat terus bekerja dan berusaha.

Kisah-kisah diatas, mulai dari kisah tukang becak, tukang parkir, pengemis, penjual bunga, dan tukang sapu menggambarkan kisah yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Namun, dari sini kita dapat mengetahui bahwa setiap pribadi manusia memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, kesulitan yang berbeda, rezeki yang berbeda, pandangan hidup yang berbeda dan sebagainya. Dan dari segala perbedaan ini sangat diharapkan masing-masing pribadi dapat saling menguatkan dan mendukung pribadi yang lain, dalam artian saling menghargai dan menghormati sesama. Dari kegiatan kali ini, diharapkan kita dapat belajar dari orang lain terutama dari orang-orang yang berada di dekat kita yang terkadang sering kita abaikan, belajar bahwa bakti sosial bukan hanya memberi dengan materi, bukan hanya kita membantu mereka tapi kita juga dapat terbantu dengan segala kehidupan mereka yang dapat memberikan sebuah pelajaran yang berharga bagi kita semua. Mengetahui bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Mari belajar mengerti dam memahami orang lain, mulai dari orang-orang yang berada di sekitar kita.

Berbagi Cerita yang Didapat

Posted in Kegiatan Sosial | Tagged , | Tinggalkan komentar

Senyum Mereka, Inspirasi Kami

Dini Kurniadita Nurwati dan Putri Claudya Octaviani

Panti asuhan merupakan tempat di mana seorang anak dibawah umur mendapatkan kembali harapan mereka setelah ditinggal orang tuanya. Harapan untuk mendapatkan kasih sayang, harapan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, harapan untuk hidup dengan sebuah kepastian. Namun bukan berarti hidup mereka di panti asuhan akan sama dengan kehidupan sebelumnya bersama orang tua. Di sana mereka mempunyai banyak saudara dan harus membiasakan diri untuk berbagi, juga untuk memulai hidup mandiri. Mereka berkumpul menjadi satu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Walaupun demikian, mereka harus saling bekerjasama untuk mempertahankan hidup. Hal tersebut lah yang terjadi di Panti Asuhan Atap Langit. Banyak anak di bawah umur yang tinggal di sana yang memiliki semangat hidup tinggi. Padahal fasilitas yang mereka dapatkan berbeda dengan beberapa panti asuhan lain di Yogyakarta. Banyak panti asuhan lain yang memiliki bangunan yang besar dan megah, fasilitas memadai, dan dana yang melimpah. Bahkan ada beberapa panti asuhan yang memfasilitasi komputer dan printer di setiap kamar. Namun hal ini sangat kontras dengan panti asuhan atap langit. Di sini kita tidak dapat menemukan aula besar apalagi lapangan bermain. Bahkan ruang pertemuannya merupakan gabungan dari ruang keluarga, ruang tamu, dan ruang bermain. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memilih panti asuhan tersebut untuk melakukan kegiatan sosial.

Pembukaan Kegiatan oleh MC

Kegiatan bersama anak panti asuhan tersebut kami lakukan pada hari Minggu, tanggal 8 Mei 2011. Kegiatan yang kami lakukan di sana adalah berkenalan dengan sedikit games, meminta anak-anak untuk menggambar cita-cita dan mempresentasikannya, makan bersama, nonton film, dan yang terakhir adalah sharing serta tidak lupa mengabadikannya dalam foto.

Penghuni Panti Asuhan Atap Langit

Dari kegiatan menggambar cita-cita, kami mengetahui bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Beberapa diantaranya adalah dokter, pilot, guru, perawat, polisi, dan lain-lain. Gambar itu nantinya akan mereka pajang di kamarnya sebagai motivator untuk lebih bersemangat dan giat belajar dalam menggapai cita-cita.

Kegiatan Menggambar Cita-Cita

Sebagai hiburan, kami memilih menonton film yang berjudul Alangkah Lucunya Negeri Ini. Di sini kami melihat keantusiasan anak-anak panti. Mereka sangat menyimak film itu, terutama anak-anak yang lebih besar. Namun, pada pertengahan film, mereka sudah mulai bosan. Maka kami menawarkan pada mereka untuk makan. Akhirnya acara nonton film pun kami sudahi karena acara tersebut sudah tidak kondusif, hal ini mungkin saja berkaitan dengan durasi film yang cukup lama.

Kegiatan Menonton Film

Sebelum makan, kami mengejarkan cara mencuci  tangan kepada mereka.. Kami ingin beberapa ilmu yang kami miliki dapat kami bagikan kepada anak-anak panti asuhan tersebut. Saat makan, kami berbaur dengan anak-anak panti asuhan tersebut. Beberapa dari mereka menceritakan tentang kehidupan sehari-harinya. Cerita tentang kehidupan mereka berlanjut dengan metode sharing kelompok-kelompok kecil. Untuk mencairkan suasana kami memulai sharing ini dengan menanyakan kesan mereka tentang film Alangkah Lucunya Negeri Ini yang baru saja ditonton. Kemudian berlanjut dengan menanyakan kehidupan mereka sehari-hari, tentunya dengan cara luwes sehingga tidak mengesankan bahwa kami sedang mewawancarai mereka. Dari beberapa cerita mereka, kami mengetahui bahwa sebenarnya mereka mempunyai beban yang sangat berat. Tidak jarang mereka memiliki masalah dalam hidupnya. Ada beberapa dari mereka yang hanya mengembannya sendirian, ada yang kadang-kadang bercerita kepada anak-anak sebaya lainnya, ataupun yang lebih besar. Kadang-kadang mereka juga menceritakannya kepada ibu dan bapak panti yang mereka sebut mama dan papa.

Kami senang sekali atas kunjungan kali ini karena anak-anak panti tampaknya senang dengan kehadiran kami. Selain ucapan terima kasih, hal yang membuat kami yakin adalah keantusiasan mereka untuk meminta nomor telepon genggam kami, dan berkata “besok kesini lagi ya Kak”. Hal-hal tersebut sebenarnya sangat kecil dan sederhana, namun sudah membuat kami senang. Ya, senang karena dapat berbagi kesenangan dengan mereka dan mereka juga merasa senang. Awalnya tujuan kami ke panti asuhan adalah menghibur, mengajarkan beberapa hal seperti cuci tangan, dan mendapatkan nilai-niai dari kehidupan mereka. Namun tenyata disini kami justru yang dapat terhibur dengan mereka. Kelakuan-kelakuan mereka yang lucu membuat kami merasa sangat bersyukur dapat mencicipi momen bersama mereka. Dari sini, kami juga semakin tahu bahwa anak-anak panti asuhan memang butuh bantuan dalam bentuk uang, hadiah, maupun materi lainnya. Namun bantuan terbesar yang mereka butuhkan adalah kasih sayang, senyuman, dan keceriaan yang kita berikan secara ikhlas.

Seorang Anak yang Sedang Meniup Balon

Dari kunjungan yang kami lakukan, kami mendapatkan banyak nilai-nilai. Nilai yang kami ambil sebagian besar dari hasil sharing dan beberapa dari obrolan ringan dengan mereka di tengah-tengah acara. Nilai pertama yang kami ambil bahkan dapat kami lihat saat kami datang. Anak-anak panti asuhan tersebut memiliki sifat menghargai tamu yang patut diacungi jempol. Ruangan yang rapi dan bersih selalu mereka siapkan sebelum tamu datang. Setelah kami tanyakan, mereka beranggapan bahwa setiap tamu yang datang pasti lah bertujuan untuk membagi kebahagiaan, sehingga mereka berpikir bahwa sudah kewajiban bagi mereka untuk menyambut tamu sebaik mungkin.

Selanjutnya sifat kedewasaan mereka terutama mengalah patut kita teladani. Beberapa diantara anak-anak panti asuhan merupakan saudara kandung, mereka yang lebih tua mau mengalah untuk adiknya yang lebih muda. Satu contoh cerita, ada sepasang kakak adik. Saat pembagian permen, si kakak mendapat permen sedangkan adiknya kehabisan. Adiknya menangis ingin permen, secara spontan sang kakak pun langsung memberikan permen miliknya kepada adiknya, padahal si kakak belum tentu mendapatkan permen itu lagi. Hal tersebut dapat menjadi cerminan bagi kita. Tentunya, masing-masing dari kita pasti mempunyai saudara entah saudara kandung maupun saudara jauh, namun belum tentu dari kita mau berbagi dan mau mengalah dengan saudara. Padahal secara ekonomi kita lebih beruntung daripada mereka. Mereka dalam keterbatasannya pun masih mau berbagi, sedangkan kita? Marilah kita renungkan kembali.

Dan ada satu hal lagi yang paling penting, satu pribadi luar biasa anak-anak panti asuhan yaitu mereka masih dapat tersenyum di sela-sela kepedihan hidup. Padahal kalau kita bayangkan, kehidupan tanpa orang tua dan tanpa keluarga sangat lah berat. Apalagi untuk anak-anak kecil seperti mereka. Namun bagi mereka hal tersebut sudah merupakan garis tangan Tuhan. Tidak ada yang perlu disesali atau ditangisi. Yang perlu dilakukan adalah melihat kedepan dan menapaki hidup yang sekarang mereka miliki. Kehidupan baru mereka di panti asuhan lama-kelamaan membentuk mereka menjadi manusia yang kebal akan cobaan hidup dan tidak mudah menyerah. Anak-anak ini juga menjadi terlatih untuk berfikir secara dewasa dan lebih bijaksana. Masalah demi masalah mereka atasi dengan hati lapang dan sabar. Padahal, kita saja kalau punya masalah kecil kadang-kadang kita besar-besarkan, sedikit-sedikit galau, sedikit-sedikit stress, sedikit-sedikit mengeluh. Kalau saja kita mau sedikit saja berfikir lebih jernih, masalah apapun pasti dapat terselesaikan dengan mudah.

Bercermin kepada anak-anak panti asuhan tersebut cukup membuat kita malu. Padahal kita lebih beruntung dari mereka. Terlebih lagi kita masih mempunyai orangtua yang selalu menasehati, dan juga mempunyai teman-teman yang mau mendengarkan keluh-kesah serta mau memberi semangat untuk kita. Mungkin kalau kita lihat, mereka dapat menjadi seperti itu karena keterbatasan. Mereka tak punya orang tua, tak punya dana lebih untuk melanjutkan kehidupannya, mereka harus menopang hidupnya dan beberapa keluarganya yang masih ada, dan masih banyak lagi permasalahan yang mungkin membuat seseorang datang dan menjadi anggota sebuah panti asuhan. Namun seharusnya kita jangan melihat dari segi itu. Kita tidak harus menunggu orang tua kita pergi ataupun terhimpit masalah keuangan untuk dapat menjadi lebih bijak, lebih dewasa, dan tentunya tetap dapat tersenyum. Segalanya dapat kita lakukan mulai dari sekarang. Mereka, anak-anak panti asuhan tersebut, dapat menjadi inspirasi kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Kehidupan mereka tidak seberuntung kita, namun justru malah mereka yang dapat memberi pelajaran bagi kita. Dengan adanya kunjungan ini, kami tidak hanya mengambil rasa lelahnya saja, atau senang-senangnya saja. Namun kami juga dapat mengambil nilai-nilai dari mereka dan mengamalkan itu serta membagikannya kepada orang lain. Pemaparan nilai-nilai di atas semoga dapat menjadi pemacu kita untuk hidup yang lebih baik, berbakti dengan orangtua, membahagiakan orangtua, berbagi rasa dengan sesama, menggapai cita-cita dengan belajar sungguh-sungguh, dan tentunya tetap tersenyum dalam menghadapi masalah sebesar apa pun.

Itulah secarik kisah tentang kunjungan kami ke panti asuhan Atap Langit. Semoga artikel ini bukan hanya berfungsi sebagai penyegar mata namun juga dapat menjadi penyegar hati, cerminan diri, dan sumber inspirasi untuk kita semua.

Posted in Kegiatan Sosial | Tagged , , , | Tinggalkan komentar

Rokok dan Krisis Ekonomi Indonesia

Ary Kamal Firdaus

Rokok merupakan sekumpulan tembakau dan bahan-bahan lain  yang diolah sedemikian rupa dan di bentuk seperti sebuah batang untuk nantinya dihisap oleh para penggunanya. Hampir 22,1 % atau kurang lebih 287.300 orang di dalam satu daerah di Indonesia menghisapnya setiap hari. Mungkin bagi sebagian orang merokok merupakan suatu kegiatan yang tidak ada gunanya dan mengganggu kesehatan, tetapi tidak sedikit pula yang menganggap rokok adalah barang yang sangat menguntungkan bagi mereka. Bahkan jika sehari saja tidak merokok, akan membuat orang-orang tersebut tidak bersemangat dalam bekerja, bahkan sampai tidak memiliki nafsu makan. Kira-kira itulah hal-hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Menurut beberapa fakta yang diperoleh dilapangan, masyarakat kita rata-rata mengkonsumsi 10,6 batang per hari atau sekitar tiga juta batang rokok mengepul di udara setiap harinya dalam suatu kota.  Bila dikalikan dengan harga Rp 1.000,00 per batang maka 3 miliar rupiah per hari, berarti 90 miliar setiap bulannya atau 1,08 triliun per tahun. Ini sama dengan 74 % PAD suatu ibukota provinsi di Indonesia seperti Kota Makassar pada tahun 2010 sebesar Rp 1,452 triliun. Mirisnya, warga Indonesia yang saat ini dilanda kemiskinan, juga turut memberi andil dalam pembuangan uang secara sia-sia seperti ini setiap tahunnya. Uang yang mereka miliki digunakan untuk merokok dan tidak dipakai untuk keperluan dasar seperti pangan, rumah, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Hal ini lah yang menyebabkan mengapa orang-orang miskin memiliki status gizi yang kurang, dan ditambah dengan minimnya biaya yang dialokasikan untuk pemeliharaan kesehatan menyebabkan angka kematian dan kejadian penyakit pada mereka menjadi lebih tinggi.

Sebanyak 2,2 persen masyarakat perokok di Indonesia berusia 10-14 tahun dengan rata-rata konsumsi rokok 5,2 batang per hari. Sebanyak 0,8 persen mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun dan 7,7 persen pada usia 10-14 tahun. Padahal, seperti yang kita ketahui, semakin dini usia merokok seseorang, maka kemungkinannya untuk berhenti merokok juga semakin kecil. Hal ini lah yang menyebabkan banyaknya kematian akibat merokok pada usia produktif. Kematian dini pencari nafkah dalam keluarga tentunya merupakan malapetaka bagi keluarga miskin dan masyarakat lainnya. Tidak heran jika tingkat kemiskinan di Indonesia semakin bertambah.

Menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat yang telah lama tergantung pada rokok memang merupakan suatu tantangan bagi kita semua. Tetapi, hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan. Saat ini pun pemerintah telah mencoba mengatasi persoalan ini, dimulai dari pembuatan Perda larangan merokok dan himbauan untuk tidak merokok di depan publik. Akan tetapi banyak sekali kendala yang di hadapi, mulai dari tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang bahaya merokok, sampai dilema yang dihadapi pemerintah dalam hal pajak cukai rokok yang merupakan salah satu pemasukan terbesar APBN negara. Bukan itu saja, Indonesia juga dihadapkan pada suatu dilema dimana Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat produksi tembakau terbesar di dunia. Dengan jumlah yang sebesar itu, tentunya banyak sekali para petani yang telah menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan mereka sebagai petani tembakau. Ini sebenarnya merupakan tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah kita, jika memang ingin menurunkan tingkat polusi akibat rokok, pemerintah juga harus memikirkan kesejahteraan para petani tembakau nantinya.

Akan tetapi, diluar itu semua, alangkah bijaknya jika kita sendiri yang mau memulai untuk menjauhi rokok itu sendiri. Sadar jika rokok bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Tegakah anda jika anak dan istri anda yang sangat anda sayangi menanggung akibat buruk dari rokok yang setiap hari anda hisap? Jadi, marilah berhenti merokok mulai sekarang!

Posted in Artikel | Tagged , , | Tinggalkan komentar