Oleh Dini Kurniadita Nurwati
Departemen Sosial Masyarakat (Sosmas) adalah salah satu departemen yang berada dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran (BEM FK) UGM. Program kerja dalam 6 bulan pertama adalah penjagaan internal dan pelaksanaan kegiatan sosial untuk dan oleh pihak internal Departemen Sosmas BEM FK UGM atau dengan kata lain hanya diperuntukkan untuk anggota Departemen Sosmas itu sendiri. Untuk 6 bulan berikutnya penyelenggaraan kegiatan sosial ditujukan untuk lingkup eksternal Departemen Sosmas. Pada bulan Juli 2011 diadakan Bakti Sosial Nasional (Baksosnas) 2011 di Hunian Sementara Kuwang, Cangkringan, Sleman yang bekerjasama dengan ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia). Kemudian pada bulan Oktober 2011, Departemen Sosmas bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang ada di FK UGM untuk mengadakan rangkaian kegiatan sosial terbesar di FK UGM yang dinamakan Medical Action Week (MAW) 2011. Selanjutnya pada bulan Desember 2011 tepatnya tanggal 10 Desember 2011 kemarin Departemen Sosmas BEM FK UGM memfasilitasi teman-teman FK UGM untuk ikut terjun dalam kegiatan “One Day Full with Oma-Opa” yang diadakan di sebuah panti wreda. Kami memilih Panti Wreda karena kegiatan sosial kami sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di Panti Asuhan Atap Langit dan di lingkungan UGM, selain itu kami juga ingin berbagi kebahagiaan dengan oma-opa yang ada di Panti Wreda tersebut. Dari catatan panti, oma-opa yang ada di panti tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tidak pernah dijenguk oleh keluarganya, atau bahkan sama sekali sudah dilupakan oleh keluarganya. Untuk itu, kami ingin menghibur dan berbagi cinta dengan oma-opa yang ada di sana. Setelah survey beberapa panti, kami memilih panti Wreda Budi Luhur, Kasongan, Bantul, karena oma-opa yang ada di sana banyak yang bisa diajak berkomunikasi, yang bisa membantu kami dalam mencapai tujuan diadakannya kegiatan ini.
Bersama Oma-Opa di Salah Satu Panti
Sehari sebelum kegiatan di panti, kami mengadakan talkshow dengan pembicara dr. Probo Suseno, Sp.PD, K.Ger untuk memberikan sedikit ilmu tentang cara berkomunikasi yang baik, membina hubungan yang baik dengan oma-opa, dan sedikit pelatihan bahasa jawa untuk teman-teman peserta yang ikut andil dalam kegiatan ini. Kemudian keesokan harinya, kegiatan di panti dimulai sejak pagi, kami mengikuti aktivitas oma-opa, mulai dari senam pagi sampai istirahat siang. Karena hari itu adalah hari Sabtu maka selain oma-opa yang ada di dalam panti, ada juga oma-opa yang berasal dari sekitar panti yang mengikuti program “day care” rutin yang diadakan oleh panti. Aktivitas di panti sudah dijadwal oleh pegawai pengurus di sana sehingga sudah tersusun rapi. Oma-opa dalam panti berjumlah sekitar 88 orang, 63 oma-opa regular yaitu gratis berada di sana karena dibiayai oleh pemerintah dan 25 oma-opa subsidi yaitu tiap bulannya membayar sebesar Rp 1.000.000,00, sedangkan oma-opa dari sekitar panti berjumlah sekitar 75 orang. Latar belakang mereka sampai tinggal di panti ini pun berbeda-beda, ada yang tidak menikah kemudian tidak ingin merepotkan keluarga dan ingin memaksimalkan pensiunannya untuk memperbaiki diri di panti, ada yang mempunyai anak namun anaknya berada di luar Jogja padahal eyang tersebut lebih nyaman di Jogja, ada yang keluarganya tidak mau memperhatikannya, dan lain sebagainya.
Senam pagi untuk lansia adalah kegiatan pertama yang kami ikuti, oma-opa di sana setiap hari senam sehat kecuali hari Minggu dan Jumat. Terlihat oma-opa tersebut sangat antusias sekali dalam mengikuti senam. Walau pun apabila dilihat secara fisik ada yang sudah renta dan umurnya sudah tua, namun semangat mereka untuk senam sangat tinggi, kami sebagai mahasiswa sungguh malu karena dalam seminggu sekali saja belum tentu mau berolahraga.
Senam Pagi Bersama Oma-Opa
Karena kami dari fakultas kedokteran, kami mencoba untuk mempraktikkan pengetahuan yang kami punya di panti tersebut, yaitu mengukur berat badan, tekanan darah, dan mengecek gula darah oma-opa yang ada di sana. Untuk oma-opa yang di dalam panti setiap hari Rabu sudah ada pemeriksaan dari dokter sendiri namun pengecekan gula darah jarang dilakukan, sedangkan untuk oma-opa yang berasal dari sekitar panti, pemeriksaan dilakukan hari Sabtu, seperti halnya oma-opa yang ada di dalam panti, oma-opa yang berasal dari luar tidak ada pengecekan gula darah. Konsep kami dalam pelayanan kesehatan ini adalah satu ruangan untuk pelayanan kesehatan dan satu ruangan lagi berfungsi sebagai ruang tunggu sekaligus sebagai ruangan untuk dendang ria. Sehingga oma-opa yang belum dipanggil untuk pemeriksaan bisa bernyanyi dengan teman-teman kami. Walau pun sudah tua, mereka tetap bernyanyi dan berjoget dengan suka ria.
Pelayanan Kesehatan
Selanjutnya adalah sharing yaitu kegiatan berkomunikasi dengan oma-opa yang ada di dalam panti. Teman-teman dibagi dalam beberapa kelompok dan disebar di tiap-tiap wisma. Setiap wisma ada sekitar 10-14 oma-opa dan setiap wisma dikunjungi oleh 3-4 peserta. Setelah masing-masing dari kami berkomunikasi dengan oma-opa di masing-masing wisma, diadakanlah suatu sharing ke teman-teman yang lain dan didampingi oleh pihak panti untuk mengklarifikasi cerita dari oma-opa yang mengganjal pikiran teman-teman. Dalam diskusi kelompok ini diceritakan bagaimana oma-opa tersebut bisa sampai di panti ini, antara lain adalah karena tidak memiliki saudara sama sekali sehingga, oleh Pak Lurah di mana Beliau tinggal sebelumnya disarankan dan diajak untuk ke panti, Beliau mempunyai keluarga namun keluarganya meninggalkan Beliau di panti ini, dsb. Selain itu, ada juga yang bercerita mengenai kegiatan oma-opa di panti, dan kegiatan yang paling mereka sukai bermacam-macam, ada yang suka menyibukkan diri untuk membuat kerajinan-kerajinan yang bagus di saat waktu luang, bernyanyi, berdandan, dll.
Suasana Sharing untuk Berbagi Kisah dengan yang lain
Suasana Dendang Ria Bersama Oma-Opa
Banyak orang yang tidak tahu di dalam panti yang bisa dikatakan megah tersebut, di mana oma-opa selalu beraktivitas dan istirahat yaitu di dalam wisma, kebersihannya kurang dijaga padahal orangtua sangat rentan sekali dengan penyakit, apabila lingkungan mereka tidak mendukung untuk bebas dari sumber penyakit, maka akan susah bagi oma-opa yang ada di sana untuk terhindar dari suatu penyakit. Kebersihan dan kenyamanan panti sendiri oleh pihak panti sudah selalu dioptimalkan namun bau tidak enak masih saja ada karena oma-opa yang ada di sana sering buang air kecil dan buang air besar tidak pada tempatnya terkait dengan kondisi tubuhnya yang sudah melemah sehingga tidak mampu lagi untuk menahan buang air kecil dan buang air besarnya. Padahal sudah ada pramurukti yang membantu oma-opa dalam segala hal dan selalu membersihkan lantai setiap 2 jam agar tidak cepat bau dan kotor. Memang benar yang dikatakan orang-orang bahwa tempat yang paling nyaman adalah rumah sendiri. Salah satu wisma yang diberi nama oleh pihak panti wisma isolasi atau yang akan berubah nama dalam waktu dekat menjadi wisma perawatan khusus itu bila dibandingkan dengan wisma yang lain sangat kurang perhatian dari pihak panti, bahkan nama wisma isolasi ini pun sudah sempat diprotes oleh LSM setempat karena dirasa kurang sopan. Untuk masalah dana, panti mendapatkan uang dari oma-opa subsidi dan APBD sehingga semua fasilitas bisa tetap tercukupi walau pun makanan sehari-hari oma-opa sangatlah sederhana dan kurang ada pengaturan makanan yang berkaitan dengan gizi lansia. Masalah lain dari oma-opa adalah adanya persaingan tersendiri antar oma-opa untuk mencari perhatian sehingga sering saling menjatuhkan dan sering saling ejek, bahkan di wisma subsidi ada eyang yang bersaing dalam hal memamerkan harta. Dalam hal merawat orangtua harus sangat tlaten karena pada usia tua mereka butuh teman dan sangat butuh untuk diperhatikan.
Nilai-nilai yang bisa didapatkan dari kegiatan ini adalah mensyukuri segala keadaan yang kita alami dengan ikhlas, penuh semangat dan optimis dalam menjalani kehidupan walau pun mungkin memiliki kekurangan dan keterbatasan, selagi kita masih muda dan mempunyai tenaga maka lakukan semua tugas dengan sebaik-baiknya, rela berkorban untuk orang yang dicintai, hidup itu adalah perjuangan sehingga harus berani mengambil segala kemungkinan yang ada, selalu ingat bahwa semua itu akan kembali kepada-Nya, pandai membelanjakan uang, saat kita diberi kebebasan oleh orangtua kita, kita harus mampu untuk bertanggungjawab dan harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk juga tahu akan batasannya, kita tahu apabila semakin tua kita akan semakin berkurang daya ingat kita atau pikun, maka selama masih bisa berusaha, berusahalah agar di masa tua bahagia, selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, di masa tua harus tetap ceria, riang, gembira, oma-opa yang ada di sana memberi semangat dan motivasi kepada kita untuk menjadi orang yang sukses dan menjadi orang besar namun di saat kita sudah mendapatkan kesuksesan tersebut jangan sampai lupa untuk tetap menyayangi dan merawat orangtua kita karena dari kecil kita sudah banyak merepotkan orangtua kita dan agar di masa yang akan datang, kita disayangi oleh anak, cucu kita. Kalau akan menikah, setiap pasangan harus sepakat untuk mau menghidupi orangtuanya, bukan hanya cinta pada anaknya namun juga cinta pada orangtuanya.
Dalam waktu setengah hari kami mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan kami. Kami bisa mempraktikan pengetahuan yang kami punya, mengetahui aktivitas di panti antara enak dan tidaknya hidup di panti, mendapatkan wejangan dari orangtua yang sudah banyak makan manis pahitnya kehidupan. Pesan yang harus selalu diingat adalah orangtua kita sudah mendidik, merawat, membiayai, membesarkan kita sampai saat ini dan kasih orangtua sepanjang masa sedangkan kita hanya bisa membalas dengan giat belajar, berbakti pada orangtua, menyayangi dan mencintai orangtua kita. Sehingga jangan sampai kita durhaka kepada orangtua kita, menyia-nyiakan orangtua kita, dan membuat mereka sakit hari. Karena ridho orangtua juga ridho-Nya.
Bersama Pengurus Panti Wreda Kasongan









































